Tuesday, August 27, 2019

Film Adaptasi dan Beban Nama Besar


Pramoedya Ananta Toer rasanya perlu bangkit dari kubur. Perburuan dan Bumi Manusia, dua film yang diangkat dari novelnya, dibincang banyak kalangan. Ada yang mengapresiasi, ada yang mengkritik habis-habisan. Pada film Bumi Manusia, kritik malah terlontar jauh sebelum film ditayangkan, saat Iqbaal Ramadhan dipilih sebagai aktor. Para pembaca Bumi Manusia atau tetralogi Pulau Buru, atau pemuja karya-karya Pramoedya Ananta Toer, menebak-nebak juga meragukan, apakah aktor yang sedang dipuja dedek-dedek gemes yang melambung berkat film Dilan itu bakal cocok berakting sebagai Minke, salah satu tokoh fiktif legendaris.

Di situs web Change.org bahkan sampai muncul petisi penolakan. Sebagian bunyi petisi itu: “Kami tidak ada rasa membenci atau tidak suka kepada sosok Iqbaal. Kami menolak Iqbaal memerankan Minke karena kami tidak melihat aura sosok Minke ada padanya. Iqbaal sudah menjadi sosok yang begitu pas untuk menjadi Dilan, dan identitas itu sungguh melekat tak bisa dipisahkan.”

Begitulah, sebelum sebuah film beredar pun bahkan ada yang sudah membuat patokan, bahwa aktor tertentu cocok untuk film tertentu, tidak untuk film yang lain. Ini lahir karena, antara lain, imajinasi seseorang dapat terkotak-kotak oleh adanya asumsi dan ekspektasi.

Apalagi bila kedua hal itu dihubungkan dengan nama besar: Pramoedya Ananta Toer. Nama yang sudah menjadi legenda itu pun tampaknya menjadi beban tambahan bagi para sineas yang mengadaptasi filmnya: filmnya harus bagus, kualitasnya sedapat mungkin sejajar dengan bukunya, dan sebagainya. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, sekaligus sedikit berandai-andai, bagaimana jika orang tidak tahu bahwa yang sedang difilmkan adalah karya Pramoedya Ananta Toer? Mungkin dari kisah berikut kita bisa memetik sesuatu.

Suatu ketika, koran Inggris Sunday Times membuat percobaan, mengirimkan dua naskah pembuka novel yang terkenal. Satu naskah ditulis V.S. Naipaul, pemenang Nobel Sastra, berjudul In a Free State; dan lainnya berjudul Holiday karya Stanley Middleton yang memenangkan Booker Prize. Dua naskah pembuka itu dikirimkan kepada dua puluh penerbit dan agen dengan nama palsu.

Alhasil, hampir semua penerbit dan agen menolaknya. Dengan kata lain, para editor senior di penerbitan yang terbiasa dengan banjirnya naskah, tidak mengenali naskah-naskah yang berkilau itu. Itu pun dapat menjadi indikasi, bahwa nama besar ada yang dikenal dan dikenang sebagai nama besar semata; tak semua orang melek dengan karya-karya yang dilahirkan oleh seorang yang bernama besar.

Nama besar pun, sayangnya sering dijadikan semacam “jaminan mutu”. Padahal kita membutuhkan kritik, sebesar apa pun nama seorang kreator. Prestasi atau capaian baru dalam seni bisa dicetak karena adanya kritik. Para seniman dan kreator memerlukan kritik—tak hanya sanjungan, endorsement, atau tepukan tangan—agar tidak berkubang dalam pujian semu, yang dapat membawanya ke dalam krisis inovasi.

Namun patut disayangkan pula bila kritik yang dilontarkan terhadap suatu karya hanya lahir dari ketidaksukaan semata, ketidakmampuan menilai dengan jernih, atau terlalu dibayang-bayangi oleh kemahabesaran nama yang berhubungan dengan suatu karya adaptasi.

Kritik dan selera

Kenikmatan terbesar membaca buku atau menonton film, saya kira dapat muncul dari semacam “pencarian tak terencana”: pergi mencari suatu karya (bisa film atau buku) tanpa tahu pendapat orang tentang karya itu; tanpa mengenal siapa penulis, sutradara, atau aktornya; bahkan tanpa harapan besar untuk puas atau senang setelah menikmatinya. Dan setelah tuntas membaca atau menontonnya, ternyata karya itu bagus.

Namun, tak bisa dimungkiri, di era informasi seperti saat ini, pembaca buku atau penonton film tampaknya tergerak menikmati suatu karya karena terlebih dulu membaca suatu ulasan atau rekomendasi. Dalam taraf tertentu, pendapat orang lain tak hanya mempengaruhi pendapat seseorang tentang suatu karya, bahkan bisa membuat seseorang mengambil keputusan menikmati karya tersebut atau tidak. Ada orang yang mungkin membatalkan menonton film hanya karena skornya rendah di situs web IMDb, Rotten Tomatoes, atau Metacritic. Ulasan, rekomendasi, juga kritik yang kita baca, mempengaruhi selera kita terhadap buku maupun film.

Pada film Bumi Manusia, kritik berdatangan dari berbagai kalangan. Holy Adib di Beritagar.id (24/8/2019), dengan jeli mengkritik soal penggunaan bahasa yang tidak pas. Ia mengatakan ada beberapa kata yang dipakai dalam film tersebut yang tidak sesuai dengan latar belakang zamannya: “Kata-kata tersebut, antara lain, ‘anda’ dan ‘sih’,” tulisnya. Dua kata itu dianggapnya ganjil karena cerita dalam film Bumi Manusia terjadi pada 1898-1918 di Surabaya, pada masa Hindia Belanda.  

Pada film Perburuan, kritik pun juga bermunculan. Salah satu yang berawal dari pengamatan mendetail ditayangkan di Tirto.id (18/8/2019), ditulis Fasial Irfani. Dia menulis, “Mana ada tentara Jepang gondrong dan pakai boot tinggi ala serdadu Eropa? Kok bisa Supriyadi digambarkan memelihara brewok tipis sementara seluruh serdadu PETA (Pembela Tanah Air, penulis) diwajibkan klimis?”

Itu dua contoh kritik yang patut diperbincangkan lebih jauh, bukan hanya di kalangan penonton, tapi juga para sineas yang terlibat dalam produksi kedua film itu. Selain dua kritik itu, yang jauh lebih banyak beredar adalah kritik-kritik sempalan. Saya sebut sempalan karena tidak panjang—bisa berupa kiriman di Twitter atau Facebook yang bernada mengkritik, tapi tidak didukung dengan data dan bukti-bukti pendukung, membuatnya tampak tak proporsional.

Dan sayangnya, kritik yang tak proporsional itulah yang lebih kerap muncul. Internet dan media sosial menjadi riuh karenanya. Semua orang merasa menjadi pakar dalam menilai seni, namun melontarkan beragam penilaian tanpa didukung cukup bukti atau dasar. Tim Nichols dalam buku Matinya Kepakaran mengingatkan tentang bahaya yang dapat ditimbulkan oleh internet dan media sosial: “... perpaduan hiburan, berita, pembicara dan partisipasi warga adalah kekacauan yang tidak banyak memberi informasi kepada kita, dan malah menciptakan ilusi, sehingga orang merasa telah mendapatkan informasi” (halaman 173).

Seorang kritikus semestinya menguasai seperangkat teori, konsep, atau metode dalam memberikan penilaian. Atau kalau tidak menguasai dasar-dasar yang ilmiah, seseorang bisa mengkritik berdasarkan common sense (akal sehat). H.B. Jassin, yang dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia, sering melontarkan kritik-kritiknya berdasarkan common sense.

Seorang H.B. Jassin bisa mengandalkan common sense dalam kritik-kritiknya karena ia adalah seorang dokumentator sekaligus redaktur sastra di beberapa majalah. Itu yang mengasah nalurinya untuk mengenali karya sastra yang mengandung keunikan atau kebaruan.

Yang juga perlu dicermati selain dasar bagi kritik adalah status kritikus. Seorang kritikus tidaklah harus (mantan) seorang kreator atau pembuat karya. Kalaupun ia pernah membuat karya, seseorang tetap bisa menjadi kritikus walaupun karya yang ia buat dinilai buruk oleh orang lain, atau tak sebagus karya orang lain yang ia kritik. Jadi, tidak patut bila seorang kreator bertanya kepada pengkritik karyanya, “Memang kamu sendiri sudah membuat karya apa?”

Contohnya Roger Ebert. Ia memulai karier sebagai kritikus film di harian Chicago Sun-Times pada 1967. Di luar statusnya sebagai kritikus film, apakah Roger Ebert seorang sineas, pernah terlibat dalam pembuatan film? Ya, ia pernah menjadi penulis naskah beberapa film, satu yang sering disebut-sebut adalah Beyond the Valley of the Dolls (1970). Oleh banyak kalangan, film itu dinilai buruk secara artistik, juga tidak sukses secara komersial. Namun, walaupun memiliki catatan sebagai penulis skenario film yang buruk, Roger Ebert adalah kritikus film yang ulasannya ditunggu-tunggu. 

Demikianlah, kritik terhadap karya seni sebaiknya dipandang sebagai upaya memberikan argumen berdasar kuat—baik secara ilmiah maupun common sense. Dan yang perlu digarisbawahi, yang berhak mengkritik bukanlah yang lebih senior atau yang punya karya lebih bagus, tapi yang mampu berpikir logis dan objektif dalam menunjukkan kekurangan suatu karya. Karya apa pun membutuhkan kritik, walaupun kritik sering lebih susah diterima karena identik dengan tanggapan negatif.

Sejauh ini, dari pantauan saya, Bumi Manusia mendapatkan mixed review: ada yang sangat menyukainya, dan sebaliknya. Saya, lewat tulisan ini tak hendak memberi penilaian, atau menegaskan apakah menyukainya atau tidak. Bumi Manusia, Perburuan, dan film-film adaptasi lainnya—entah apa lagi nantinya—akan hadir di bioskop-bioskop di Tanah Air. Kita kerap tidak bisa menduga, kritik dan apresiasi seperti apa yang bakal muncul. Reaksi atas suatu karya kadang begitu riuh karena penuh pertentangan. Begitu riuh, sampai-sampai saya berharap dapat mendengar pendapat Pramoedya Ananta Toer, seperti yang saya tulis di awal. (*)

Sidik Nugroho
Penulis, Pendidik, dan Penikmat Film

Keterangan: Gambar diambil dari idntimes.com

Tuesday, August 13, 2019

Pendidikan Antikorupsi dan Kecerdasan Sosial

Akhir tahun lalu, wacana diintegrasikannya pendidikan antikorupsi dalam kegiatan belajar mengajar bergulir. Agus Rahardjo (Ketua KPK) bersama Tjahjo Kumolo (Menteri Dalam Negeri), M. Nasir (Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi), Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), dan Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama) menandatangani nota kesepahaman tentang implementasi pendidikan antikorupsi di semua tingkat satuan pendidikan.

Dalam pelaksanaan pendidikan antikorupsi, belum banyak kabar terdengar. Bila menengok ke belakang, kader-kader partai yang menduduki jabatan seperti kepala lembaga/kementerian, anggota DPR, DPRD, gubernur maupun wali kota/bupati terjerumus dalam kasus korupsi. Ini melahirkan tanya, apakah demokrasi yang kita anut selama ini, yang membuat wakil-wakil rakyat mendapat kursi empuk di pemerintahan, sebenarnya memang telah “diberi tiket” untuk bertindak korup?

“Warisan” dan ide

Korupsi menggerogoti daya hidup, membuat manusia tak memunculkan potensi yang ada padanya. Setelah diberi mandat, para koruptor tak perlu repot-repot bekerja dengan jujur untuk menjalani penghidupan yang penuh berkah. Yang penting menjabat, uang pasti didapat—itulah mental yang terbentuk sejak lama di bangsa kita, menjadi “warisan” di kalangan para pejabat dan birokrat.

Nurcholis Madjid (dalam Ghazali, 1998:109) menyatakan bahwa birokrasi Indonesia termasuk ke dalam golongan priyayi yang dalam budaya Jawa dikenal memiliki gengsi yang tinggi. Ia berkata, “Korupsi yang berjangkit pada birokrasi kita sedemikian parah. Karena ketika korupsi terjadi di kalangan birokrat, dan muncul suara kritis mempertanyakan, selalu ditanggapi dengan sikap antidialog. Karena dalam budaya priyayi, tidak mengenal kritik.”

Setelah Orde Baru tumbang, upaya untuk mengkritik sekaligus mengawasi korupsi bermunculan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Selain dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pemerintah sudah makin transparan dalam soal penyaluran anggaran untuk penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan negara.

Seringnya kasus korupsi diberitakan dapat berdampak pada mental generasi muda, bahwa mendapat uang dengan menempuh jalan pintas itu lumrah dilakukan. Karena itu, di sekolah, di dalam proses belajar mengajar, ada ide pokok dan mendasar yang merupakan lawan dari ide korupsi. Setidaknya ada dua ide penting yang perlu dikedepankan dalam implementasi pendidikan antikorupsi.

Ide pokok dan mendasar pertama yang perlu ditanamkan dalam diri siswa adalah kejujuran dan integritas. Ini tidak bisa ditawar. Dua ide ini mensyaratkan keteladanan guru. Moral seperti kejujuran dan integritas memang bisa diajarkan dalam pelajaran seperti Agama atau PPKn, tapi bila guru tak memberi contoh akan sia-sia belaka.

Ide kedua adalah inovasi dan kreativitas. Dua hal ini akan menjadi cikal-bakal bagi tumbuhnya semangat kerja. Semangat kerjalah yang membuat seseorang tidak mudah tergiur dengan uang yang diperoleh bukan dari hasil bekerja. Selain itu, inovasi dan kreativitas dapat membuat seseorang bertahan dan menyambung hidup ketika tidak memperoleh pekerjaan di tempat yang diharapkan, bahkan dapat menumbuhkan jiwa entrepreneurship.

Di kurikulum berbagai tingkat satuan pendidikan (SD hingga SMA), cukup banyak kompetensi dasar yang bisa dihubungkan dengan entrepreneurship. Misal, di kelas 3 SD ada kompetensi dasar yang berbunyi “Memahami kegiatan jual beli di lingkungan rumah dan sekolah” dan “Mengenal jenis-jenis pekerjaan”. Dari kompetensi-kompetensi dasar itu guru dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan semangat entrepreneurship.

Kejujuran sebagai kecerdasan sosial

Mohammad Hatta, bapak bangsa kita pernah berkata: ”Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” Nilai kejujuran dan antikorupsi dapat ditanamkan lewat beragam ajaran/doktrin dan praktik. Sudah barang tentu, ajaran/doktrin di sini berhubungan dengan kecerdasan emosional atau sosial.

Sayangnya, dalam praktiknya, masyarakat masih menganggap kecerdasan sosial bukan yang utama, berada di bawah—atau bahkan jauh di bawah—kecerdasan kognitif. Dalam tulisannya berjudul Kepintaran dan Kebaikan (Media Indonesia, 6/08/2019), Victor Yasadhana menulis bahwa guru bisa saja kesulitan atau bahkan tidak memiliki imajinasi untuk memetakan dan menilai kecerdasan emosi yang muncul di ranah afeksi. Itu tentunya terjadi karena masyarakat, dan juga guru—secara tidak sadar—terlalu memuliakan kecerdasan intelektual.

Apakah kita bangga bila anak kita mendapat nilai ulangan Matematika sempurna, tapi pada kenyataannya mereka hidup boros dalam membelanjakan uang? Apakah kita bangga kalau anak kita mendapat nilai sempurna dalam pelajaran IPS, tapi pada kenyataannya mereka suka memilih-milih teman dalam bergaul? Hal itu patut kita renungkan, pada zaman ketika nilai berupa angka terlalu dipuja-puji.

Kecerdasan sosial perlu mendapat tempat. Penanaman ajaran/doktrin untuk menjauhi korupsi pun penting. Hal itu dapat dilakukan dengan mengajak anak membaca buku yang mengisahkan tentang kejujuran. Anak-anak kecil suka mendengarkan dongeng atau membaca buku cerita bersama-sama orang dewasa. Begitu banyak buku cerita yang berisi ajakan untuk bertindak jujur, tidak mencuri, dan belajar mensyukuri apa yang diperoleh dari hasil kerja keras sendiri.

Tak hanya di sekolah, di rumah pun anak dapat diajar untuk bertindak jujur. Penanaman ajaran/doktrin tidaklah lengkap bila tidak disertai dengan praktik. Membiasakan anak untuk menabung adalah salah satunya. Dengan menabung, anak jadi belajar hidup hemat, terlebih bila uang hasil tabungan ia gunakan untuk membeli barang atau kebutuhan yang diinginkannya.

Selain menabung, anak juga perlu diajari untuk memiliki pemikiran yang imbang dalam hal pemenuhan hak dan kewajiban, terutama saat mereka sudah beranjak remaja. Misal, anak berhak mendapat uang jajan, tapi apakah kewajiban tertentu yang harus dipenuhinya? Semakin beranjak dewasa, anak perlu menyadari bahwa mereka juga perlu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti membereskan tempat tidur, menyapu, atau mengepel lantai.

Bahkan, bila di akhir pekan mereka tidak memiliki kegiatan, mereka dapat dipekerjakan untuk membersihkan taman, mengecat rumah, atau melakukan kegiatan agak berat lainnya yang masih mereka sanggupi. Dan untuk semua itu, orangtua pun perlu memberikan sejumlah uang sebagai imbalan. Ini bukan soal menanamkan jiwa materialistis kepada anak, tapi kembali kepada soal hak dan kewajiban: Mereka membantu bekerja ekstra (kewajiban), mereka mendapatkan uang (hak).

Anak-anak membutuhkan banyak figur dan keteladanan untuk bertumbuh dewasa dan memanusia. Sekolah dan keluarga mestinya juga menyadari peran mereka untuk menjauhi korupsi dan bersikap jujur. Bila sekolah dan keluarga sudah memberi bekal kejujuran kepada anak, ke depan kita pun boleh berharap melihat tunas-tunas muda yang megedepankan integritas ketika mereka bekerja dan mengupayakan penghidupannya.

(Dimuat di Media Indonesia)

Tuesday, July 30, 2019

Mencintai Buku dari Keluarga

Tiap 23 April ada peringatan Hari Buku Sedunia. Kemudian, tanggal 17 Mei, ada peringatan Hari Buku Nasional. Belakangan, ada pula Gernas Baku (Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku) yang marak diberitakan media. Gernas Baku yang berada di bawah koordinasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga ini bertujuan agar orangtua terbiasa membaca buku bersama anak. Lewat membaca bersama, diharapkan terjalin hubungan sosial-emosional yang lebih mendalam antara anak dan orangtua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Dirjen PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar, di laman SahabatKeluarga (27 Juli 2019), menyatakan bahwa mendongeng atau membacakan buku pada anak-anak memiliki beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan minat dan kebiasaan anak pada kegiatan membaca buku yang pada akhirnya memperluas wawasan dan pengetahuan anak. Kedua, menjalin kedekatan antara orangtua dan anak-anaknya. Ketiga, ada pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak dengan mendengarkan pelajaran moral yang ada di buku itu.

Berbagai peringatan dan gerakan tentang buku di atas mestinya membuat kita merenung lagi, sudahkah kita mencintai buku? Atau, masih pentingkah kehadiran buku dalam kehidupan kita? Di beberapa berita yang tersiar beberapa bulan belakangan disebutkan, minat baca di negara ini sangat rendah. Beberapa komunitas tampaknya peduli dengan situasi itu, dan berusaha menyebarkan semangat membaca dan menulis.

Ada yang pergi ke desa-desa sambil membagi-bagi buku, ada yang menggelar perpustakaan temporer di taman-taman kota pada Minggu pagi, ada yang mengadakan seminar atau talkshow dengan mengundang penulis sebagai narasumber, dan ada juga yang menjadikan kegiatan membaca sekaligus menulis untuk mencetak writerpreneur di mana-mana.

Efektifkah berbagai kegiatan tersebut? Tentu masih perlu dipertanyakan, diuji, dan ditelusuri lebih jauh. Yang jelas, kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa kita sudah jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain.

Buah renungan dan pemikiran

Pada masa lalu buku bernilai tinggi. Sekarang, saat teknologi makin maju, dan orang bisa mencetak buku di mana-mana, buku menjadi terkesan tak seberharga dulu. Pada zaman dulu, buku dekat dengan ilmu, hasil renungan dan pemikiran yang mendalam.

Pada masa kini, di era media sosial dan internet, makin banyak pekerja kreatif dalam tulis-menulis bermunculan. Suatu keadaan yang menggairahkan, namun juga perlu ditanggapi lebih cerdas, wajar, dan berimbang. Beberapa editor di penerbitan mengeluh karena menangani banyaknya naskah buku yang terus berdatangan; dan sayangnya, banyak naskah digarap asal-asalan oleh penulisnya.

Itulah persoalan yang muncul dari orang-orang yang dulunya tidak terlatih membaca dengan cermat, tapi ingin membuat buku. Saat gerakan literasi digembar-gemborkan di mana-mana, orang berbondong-bondong menerbitkan buku, namun ada yang tak melalui proses kreatif yang memadai. Karya tulis ada yang dibuat dangkal, asal-asalan, karena penulisnya terburu-buru dalam berproses. Dan sayangnya, tak banyak pula pembaca yang membaca suatu karya dengan mendalam.

Mudji Sutrisno, seorang rohaniwan, pernah mengesalkan pembacaan karya-karya sastra Indonesia yang dilakukan secara dangkal--itu yang dinyatakan Damhuri Muhammad dalam Darah-Daging Sastra Indonesia (2010). Senada dengannya, editor senior Penerbit Mizan, Hernowo, menyatakan dalam Mengikat Makna (2001) bahwa "membaca seperti itu (membaca dengan penuh penghayatan, yang disebutnya dengan istilah deep reading) bagaikan bertafakur--berpikir hati-hati, sistematis, dan mendalam." Ia juga menambahkan, "Apabila seseorang melakukan deep reading dengan benar, dia pasti 'menghasilkan' sesuatu."

"Hasil" yang dimaksud Hernowo di atas cenderung dikaitkan dengan aktivitas menulis; bahwa mereka yang doyan membaca akan mempunyai banyak bahan untuk menulis. Hal itulah yang perlu diperhatikan orang-orang yang ingin menulis buku. Namun, menurut hemat saya, "hasil" itu bisa lebih bervariasi. Membaca dengan mendalam, sambil merenung, akan menolong seseorang untuk menjadi lebih bijaksana. Ya, hasilnya tak selalu berupa produk tulisan; tapi pemikiran yang tertata, analitis, atau reflektif. Sayangnya, kita tidak dibiasakan untuk membaca sambil merenung, bahkan di sekolah.

Dimulai dari keluarga

Tidak dibiasakannya kegiatan membaca di sekolah membuat generasi muda saat ini seperti mengalami "mata rantai yang putus" dalam memahami sekaligus mereaksi berbagai persoalan. Belum mengenal sastra, belum mengenal hakikat atau esensi sebuah teks, orang sudah terbiasa menggunakan gadget. Lewat gadget, yang identik dengan ketergesaan dan hiburan, banyakkah orang yang membaca secara mendalam? Tampaknya sedikit.

Karena itulah beberapa persoalan yang perlu dikaji mendalam, didialogkan, atau dihayati, jadi gagal ketika orang lebih terbiasa menggunakan gadget ketimbang membaca buku. Gadget dan media sosial sering memancing orang untuk reaktif ketimbang reflektif.

Kita mudah membagi berita yang belum tentu benar, juga dihasut dengan posting yang provokatif. Kita kurang merenung, menghayati, berpikir, sekaligus mencermati. Buku, dengan realitas demikian, tampaknya tetap menjadi penting bagi orang yang ingin memiliki perspektif yang luas dan tak mudah mau terbawa arus.

Saat ini, manakala buku dan sumber pengetahuan lainnya mudah diakses, berbagai pilihan pun terbentang di depan kita. Di keluarga, agar anak-anak kita tak mudah termakan isu-isu yang menyesatkan, gampang berprasangka buruk terhadap pihak lain, atau terjerumus dalam pergaulan yang membahayakan, salah satu upayanya adalah dengan mengajaknya membaca buku. Buku akan menolong anak-anak untuk kreatif, imajinatif, sekaligus berpikir kritis. Gernas Baku pun mestinya menjadi gerakan kesadaran, bahwa dunia imajinasi mengandung keindahan dan kebaikan bagi anak-anak.

Astrid Lindgren, penulis cerita anak yang karya-karyanya hingga kini masih terus dibaca, menulis buku pertamanya, Pippi Longstocking, sebagai hadiah untuk ulang tahun anaknya yang kesepuluh pada tahun 1944. Kantor berita Swedia, TT, menyatakan bahwa buku-buku Astrid Lindgren lebih sering dipinjam di perpustakaan dan digemari di Swedia dibandingkan dengan pesaing-pesaing baru seperti Harry Potter. Buku-buku karyanya dianggap menggambarkan sebuah dunia bermuatan hubungan kasih sayang dan semangat yang tinggi.

Astrid telah meninggal pada tanggal 28 Januari 2002, dalam usia 94 tahun. Tentang dunia kepenulisan yang dibangunnya, suatu ketika ia berujar, "Jika saya telah membuat seorang anak yang sedih menjadi gembira, setidaknya saya telah menyelesaikan sesuatu dalam hidup saya." Meminjam istilah bahasa Latin, sebuah kisah yang baik hendaknya dulce et utile--indah dan bermanfaat. Kadang kala kita kehilangan dan melupakan banyak kisah yang indah dan bermanfaat bagi kehidupan. Kehidupan yang berjalan cepat dan penuh gejolak kerap membuat kita mengabaikan hal-hal yang semestinya dihayati dan direnungkan lebih mendalam. Lewat bukulah perenungan itu bisa kita peroleh.

Sudah barang tentu, buku-buku yang dibuat untuk anak-anak semestinya tampil menarik agar anak-anak mencintainya. Anak-anak lebih kecil, misalnya, lebih suka buku bergambar, tidak hanya berisi teks. Selain itu, ajakan membaca pun perlu disertai keteladanan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya--orangtua yang suka membaca buku akan lebih mudah menularkan semangat membaca buku kepada anak-anaknya.

Sudahkah kita membaca buku hari ini?

Tuesday, June 4, 2019

Mengajarkan Ideologi, Membentuk Jati Diri


Saat menyaksikan demonstrasi yang berujung pada kericuhan 22 Mei 2019 lalu, kita mungkin bertanya-tanya, apakah tujuan final dari demonstrasi itu? Sulit untuk meyakini bahwa para demonstran itu berjuang demi keadilan. Lalu, doktrin, ajaran, atau ideologi apa yang menggerakkan mereka? Pancasila? Tampaknya tidak mungkin.

Ideologi dapat muncul dari keyakinan bahwa yang diperjuangkan di dalamnya adalah yang terbaik, paling ideal, atau mampu menjawab semua persoalan dan memberikan solusi dalam masyarakat yang tengah “sakit” karena menganut ideologi lain. Tapi dalam pelaksanaannya, alih-alih berjuang bagi kepentingan rakyat, ideologi hanyalah ilusi. Ketika diterapkan, kemungkinannya untuk menimbulkan chaos dan perpecahan tidaklah kecil.

Ideologi pun dapat menyuburkan ilusi di sekelompok orang yang berpemikiran sama, bahwa masa depan yang bisa diraih sebuah bangsa atau komunitas akan lebih baik, adil, makmur, dan sebagainya. Padahal, ideologi dapat menjadi kepanjangan tangan nafsu segelintir orang untuk berkuasa, dibungkus rapi dalam berbagai ajaran tentang keadilan, kesejahteraan, atau kemakmuran.

Pemikiran tentang keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran pun sering dikaitkan dengan dengan agama. Orang dapat menjadi radikal dalam memahami dan menerapkan dogma agama, lalu memperlakukan orang lain yang berbeda agama dengan sikap intoleran karena dianggap tak sebanding atau sehaluan. Teuku Kemal Fasya (2016) mencatat bahwa di masyarakat, agama kerap menjadi pengetahuan sosial publik yang lebih besar pengaruhnya dibandingkan “rasionalitas pengetahuan” (vernunft) dan “naluri intelektual” (verstand)---dua istilah yang digunakan Immanuel Kant.

Sistem demokrasi yang selama ini sudah dan sedang berjalan pun dianggap tak menyejahterakan rakyat oleh para penyeru ideologi baru. Apalagi ketika sistem demokrasi terbukti berperan melahirkan pemimpin yang korup; selama berpuluh-puluh tahun pada masa Orde Baru kekayaan negara ini dinikmati para penguasa yang doyan melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kebencian terhadap sistem demokrasi pun meluas ke ranah yang lebih luas, membuat para penganut ideologi anti-Pancasila sampai memiliki keyakinan revolusioner bahwa konstitusi perlu diganti. Bercita-cita mengganti sistem demokrasi, konstitusi, dasar negara, bahkan ideologi, itulah ciri organisasi masyarakat (ormas) atau paham radikal yang memperjuangkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara sampai ke akar-akarnya, yang lebih tepat disebut “radikal-intoleran”.

Pembubaran ormas berideologi anti-Pancasila yang beritanya santer dua tahun lalu bisa saja menuai tepukan tangan. Masyarakat senang, pemerintah pun dinilai berupaya menjaga kedaulatan bangsa.  Namun, karena yang dihadapi adalah ormas radikal-intoleran, yang notabene memperjuangkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara sampai ke akar-akarnya, pembubaran itu juga bisa memantik pertanyaan-pertanyaan lain yang berangkat dari realitas politik, kenegaraan, hukum, dan keadilan, misalnya: Akankah korupsi akan tetap merajalela? Akankah hukum akan kian adil ditegakkan? Dan seterusnya.

Membubarkan ormas radikal-intoleran dan anti-Pancasila adalah tindakan mencegah kerusakan dari luar, dan pemerintah perlu juga melakukan perbaikan dari dalam. Membenahi “bagian dalam” dapat dilakukan dengan memberi perhatian lebih besar bagi keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Pendidikan ideologi pun perlu menjadi prioritas. Dengan begitu nasionalisme mempunyai alasan untuk terus dipupuk dan berkembang. Pun, dengan begitu nalar demokrasi yang kuat dapat terpelihara: bahwa dengan ideologi Pancasila yang sudah ada, kesejahteraan sosial dan keadilan dapat terwujud.

Ideologi dan pendidikan

Kita khawatir akan kehadiran dan pergerakan ormas radikal-intoleran yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Namun, yang kadang diabaikan adalah sekularisme yang menjadi-jadi. Remaja dan pemuda sekarang tak sedikit yang makin menggilai budaya barat atau asing. Beberapa kali ditemukan siswa tak hafal lima sila dalam Pancasila. Padahal Pancasila memiliki sejarah panjang, lahir lewat proses yang menguras energi dan pemikiran bapak-bapak bangsa, disusun untuk menjadi dasar bagi tujuan negara yang ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Gagasan atau gerakan untuk menggantikan Pancasila baik sebagai ideologi maupun dasar negara muncul beberapa kali dalam sejarah. Setelah Indonesia merdeka, antara tahun 1957-1959, ada pemikiran yang berkembang di Dewan Konstituante untuk merumuskan kembali dasar negara dan memilih alternatif selain Pancasila. Pancasila tetap tak tergoyahkan.

Muhidin M. Dahlan (2016) mengisahkan, suatu ketika, dalam sebuah seminar, Jenderal Try Sutrisno menerangkan hakikat Pancasila; bahwa Pancasila bukan sosialisme, apalagi komunisme; bahwa Pancasila bukan kapitalisme, dan seterusnya. Saat tiba giliran Gus Dur berbicara, ia menyeletuk, seperti menyimpulkan, bahwa Pancasila adalah ideologi yang “bukan-bukan”---tentu dengan maksud bercanda.

Walaupun diucapkan dengan nada bercanda, Gus Dur tampaknya hendak menegaskan, bahwa Pancasila adalah ideologi yang unik, khas milik Indonesia. Pancasila merupakan gabungan beberapa ideologi, darinya banyak pelajaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang bisa digali.

Namun sayang, pada zaman Orde Baru, Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang tampaknya dihelat juga demi menjabarkan keunikan ideologi itu, dilaksanakan dengan cara yang kaku, kurang menggugah. Kini, saat pengaruh budaya asing semakin kuat akibat globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, perlu ada upaya untuk kembali mengajarkan Pancasila sebagai dasar negara karena di dalamnya ada nilai-nilai penting yang mencirikan jati diri bangsa.

Nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan lewat ilmu sejarah, dengan mengisahkan proses kelahiran dan perumusannya yang panjang. Atau lewat ilmu kenegaraan (PPKn), menggali nilai-nilai dalam Pancasila yang dapat dijadikan pandangan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat-saat ini, nilai-nilai Pancasila yang perlu digali adalah toleransi dan kebersamaan.

Sejak pilkada DKI Jakarta 2017 berlangsung---bahkan sejak pilpres 2014---hingga kini, bangsa kita terpecah ke dalam dua golongan yang kadang saling berseberangan pemikiran, dan tak jarang juga saling hujat. Perbedaan pandangan dan narasi di antara dua kubu dapat membawa bangsa kita selalu berada di persimpangan, tak kunjung melangkah bersama.

Di sinilah guru berperan penting, mengingatkan siswa-siswinya bahwa Indonesia itu satu, seperti sila ketiga Pancasila. Persatuan dan kesatuan tak bisa diraih kalau tidak ada toleransi yang mewujud dalam sikap tenggang rasa dan tepa selira. Guru dalam taraf pendidikan dasar dan menengah perlu men-transfer spirit Pancasila ke dalam diri siswa kalau tak rela melihat generasi muda bangsa ini makin radikal-intoleran, atau gandrung pada budaya kebarat-baratan.

Pada hari lahirnya Pancasila, semoga guru, sebagai salah satu ujung tombak kemajuan bangsa, dapat merenungi lagi sejarah panjang kelahiran dan eksistensi Pancasila, juga menggali lagi nilai-nilai Pancasila yang bisa menjadi solusi untuk permusuhan berkepanjangan. Semoga kemajemukan yang menjadi jati diri bangsa ini lestari dengan terus adanya toleransi; rakyat Indonesia (kembali) menghargai dan mengamalkan Pancasila, dasar negara yang lahir dari cita-cita luhur bapak-bapak bangsa. (*)

Dimuat di Media Indonesia


Tuesday, May 7, 2019

Cerpen: Buku Harian Amelia

Charles,

Lagu "Cinta" yang dinyanyikan Vina Panduwinata hingga sekarang masih terngiang-ngiang di telingaku bila mengingat pertemuan pertama kita. Saat itu kau datang dengan payungmu. Aku awalnya agak risih dengan kehadiranmu, tapi aku juga tidak mau basah kuyup.

Itulah sebagian catatan Amelia di buku hariannya, bertanggal 20 Februari 2001. Dua tahun sebelumnya, 20 Februari 1999, pada suatu sore yang mendung, tak jauh dari Simpang Lima, Semarang, ia tampak gelisah. Wajah gadis itu cemberut tiap kali memandang jalan dan angkasa, mungkin karena angkot yang ditunggunya tak kunjung tiba. Langit pun makin muram, awan-awan hitam bergulung-gulung.
Kulihat ia dari seberang jalan. Dari seragamnya kutahu ia karyawati di toserba di wilayah Simpang Lima. Awalnya aku hendak pergi ke rumah kawanku, tapi kakiku melangkah ke seberang jalan ketika gerimis turun. "Hei, aku payungi biar enggak basah, ya?" kataku sambil menatapnya. Hujan sering turun pada waktu-waktu itu, aku membawa payung ke mana-mana.
Amelia tersenyum, tapi tampak ragu menerima kehadiranku seutuhnya.
"Baru pulang kerja?" tanyaku seramah mungkin.
Amelia mengangguk. "Mas sendiri," aku terkejut mendengar suaranya yang lembut dan mirip anak-anak, "mau ke mana?"
Aku bingung menjawab. Amelia menunggu angkot menuju Jalan Pandanaran, dan aku ingin tetap bersamanya. Tiba-tiba aku teringat toko musik di Jalan Pandanaran yang beberapa kali kukunjungi. "Mau ke Toko Purnomo, beli senar gitar." Aku mendesah panjang mendengar dusta kecilku.
Amelia tersenyum, matanya berbinar ketika bertanya, "Jadi, Mas pandai main gitar?"
Aku mengangguk mantap.
Angkot yang kami tunggu tiba. Penumpang sepi, kami duduk berhadap-hadapan. Amelia berkata kepadaku tinggal di Randusari, dekat toko musik itu. Oh, keberuntungan dari langit! "Kalau nanti masih hujan, kamu kuantar sampai rumah ya."
Amelia berterimakasih, bertanya, "Nama Mas siapa?"
Aku mengulurkan tanganku. "Charles."
"Amelia," katanya sambil menjabat tanganku.
***

Charles,

Aku suka bila Mas Charles datang ke rumah. Aku suka membuatkanmu segelas kopi yang katamu "kopi paling gembira sedunia." Aku juga suka mendengar petikan gitarmu, memandangi wajahmu dari samping saat kau bernyanyi. Kuyakin dia pria yang baik, bisikku dalam hati tiap memandangmu.

Itu sebagian catatan Amelia, 4 April 1999. Setelah pertemuan di angkot itu, aku sering mengunjunginya, paling tidak seminggu sekali. Teras rumahnya luas, kami berdua sering duduk-duduk di sana. Adiknya bernama Ridwan cepat akrab denganku, suka minta diajari bergitar.
Aku juga suka dengan kopi buatannya. Sungguh tak kuduga, ia selalu ingat dengan istilah "kopi paling gembira sedunia" yang kukarang ketika melihat senyumnya yang merekah sambil menghidangkan kopi suatu malam.
Suatu malam, saat berdua di teras, kukatakan kepadanya bahwa aku ingin dia selalu membuatkan kopi untukku di sepanjang usia, juga menemaniku. Dia memberikan kecupan yang lembut di keningku. Malam itu, 24 April 1999, Amelia menjadi kekasihku. Sebagai perayaan kecil kelahiran cinta kami, kunyanyikan lagu paling manis untuknya, berjudul "Untukmu" ciptaan Tito Sumarsono:

Di antara kita t'lah terjalin sudah
Benang-benang asmara
Tak mungkin lagi 'kan terpisah
S'moga Tuhan mendengar pinta kita

Gerimis turun ketika aku pulang. Aku teringat Gene Kelly yang menari dan menyanyi riang di kala hujan dalam film Singin’ in the Rain.
***

Charles,

Hari-hari yang kulalui sejak kamu hadir sungguh penuh warna. Aku suka bila kau menjemputku sepulang kerja dengan sepeda motormu. Apalagi kalau kita mampir di warung roti bakar itu, mengobrolkan apa saja.
Waktu kaubonceng, duduk menyamping di belakangmu, rasanya nyaman sekali merangkulkan tanganku di perutmu. Aku suka menempelkan telinga kananku di punggungmu, mencoba mendengar detak jantungmu.

Itu catatan bertanggal 30 Juni 1999. Tak lama sebelum itu aku berhasil membeli sepeda motor bekas dengan meminjam uang dari sana-sini. Aku ingin lebih sering membawanya ke mana-mana. Pukul 16.30 aku pulang bekerja, pukul 16.45 ia pulang bekerja. Begitu pulang bekerja aku menyusulnya, kami sering melepas lelah di warung roti bakar di Simpang Lima.
Aku menempelkan tanganku ke beberapa bagian punggungku, benarkah detak jantung manusia bisa didengar dari situ? Amelia, Amelia... ada-ada saja! Kuambil fotonya yang terselip di halaman buku hariannya, kuelus-elus wajahnya di foto berukuran 4 x 6 sentimeter itu dengan jempolku. Kutempelkan foto itu di dadaku sebelah kiri.
"Kaudengar sesuatu, Amelia?" bisikku perlahan.
***

Charles,

Aku sangat sedih. Orangtuaku tidak menyetujui hubungan kita. Kau ingin membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit, di kaki Gunung Ungaran. Betapa manis niatmu itu. Aku tidak mau meninggalkanmu, tapi....  

Catatan itu tak bertanggal, berada di antara dua catatan lain yang bertanggal 13 dan 30 Desember 1999. Aku ingat, saat-saat itu kami agak jarang bertemu karena dua kejadian yang membuatku terpuruk. Pertama, aku berhenti bekerja karena toko tempatku bekerja sepi pengunjung. Kedua, aku harus menjual sepeda motorku karena tak bisa melunasi cicilan.
Namun aku tetap memiliki harapan membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit. Harapan itu muncul karena kami sering ke Gombel, wilayah yang tinggi di Semarang. Selain ke warung roti bakar itu, Amelia sangat suka bila kuajak ke Gombel. Kami berangkat ke Gombel pukul lima sore dari Simpang Lima. Sampai di Gombel sekitar setengah enam, matahari akan terbenam. Di sana ada taman yang asri. Dari taman itu kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu di Semarang.
Betapa damai rasanya: dari terang menuju remang, dari remang menuju gelap... Amelia, ia ada di sampingku.
Sekarang, di sini, di rumah kecil di kaki bukit yang akhirnya berhasil kutegakkan, aku membacai catatan-catatan Amelia. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan baru menjadi distributor kain, membeli rumah tipe 40 dengan mencicil di Ungaran. Kupandangi lagi foto Amelia, dan kulihat kerlap-kerlip lampu yang terbentang di depanku.
Andai kau ada di sini, Amelia....
***

Charles,

Betapa aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Di Surabaya semuanya berubah. Suamiku orang terpelajar, hidup kami bisa dibilang mewah. Tapi aku kehilangan saat-saat yang indah seperti dulu.
Sudahlah, aku berniat memulai babak baru. Aku tak akan menulis namamu lagi. Lagipula, sejak dulu buku ini memang kuniatkan sebagai catatanku saja, bukan catatan untuk Charles.
Aduh... Charles, Charles, kenapa namamu selalu saja ingin kusebut?
Ampuni aku, Tuhan, jikalau masih terus berharap kepadanya. Aku tidak akan pernah lupa kepada pria baik hati yang datang kepadaku saat gerimis dan memayungiku dengan mesra.

Itulah catatan terakhir Amelia yang ditulis diawali namaku, bertanggal 22 Februari 2001. Sejak Januari 2000 aku tak pernah bertemu Amelia, ia menikah April 2000. Membayangkannya masih sering memikirkanku selama lebih dari setahun sejak kami berpisah membuatku tersanjung.
Ia menepati janjinya saat aku membuka halaman-halaman belakang buku harian itu. Amelia bercerita tentang suaminya yang sibuk bekerja dan jarang memerhatikannya. Mereka juga tak kunjung mendapat keturunan. Buku harian Amelia makin jarang ditulis sejak 2007. Catatan-catatan terakhir yang ditulisnya adalah tentang penyakitnya—ada empat catatan. Aku merasakan kepedihan mendalam saat membaca kalimat ini: "Aku siap menjemput maut, Tuhan, bila itu takdir-Mu. Mungkin, di sisi-Mu aku lebih bahagia."
***

8 Februari 2010—berita kematian Amelia sampai kepadaku. Ridwan, adiknya, yang mengabariku. Ia menjadi temanku di media sosial, walau kami jarang berinteraksi. Baru saat kakaknya meninggal ia mengirimiku pesan, menanyakan nomor teleponku. "Dia meninggal semalam. Kanker darahnya nggak tertolong, Mas. Besok siang dimakamkan di Bergota," katanya dengan suara serak di telepon.
Aku datang ke pemakaman di tengah kota Semarang itu, memasrahkan Amelia dalam genggaman Tuhan Yesus. Memandangi foto Amelia berukuran besar di situ membuatku rindu sekaligus putus asa. Setelah bertahun-tahun tidak saling bertukar kabar, rasa sayangku kepadanya ternyata tak pernah sirna.
Buku harian Amelia ditemukan Ridwan, lalu diberikannya kepadaku beberapa hari setelah pemakaman. "Dulu dia pernah menunjukkan catatan tentang Mas Charles waktu kalian masih pacaran."
"Lalu, bagaimana buku ini ketemu?"
"Setelah pemakaman aku ke Surabaya mengantar suami kakak. Di Surabaya, iseng-iseng aku ke gudang, kutemukan buku ini."
Aku tidak tahu apakah suaminya pernah mengetahui keberadaan buku itu. Membacanya, aku pun sadar, Amelia memiliki sudut pandang berbeda denganku dalam mengenang berbagai kebersamaan kami. Kenangannya kini menjadi kenanganku.
Malam ini, rasa rinduku begitu besar kepada Amelia. Tahun-tahun berlalu, namun kenangan memayungi gadis yang pandai membuat "kopi paling gembira sedunia" itu tak pernah layu. Gerimis turun dari langit. Aku mengambil bolpoin, menuliskan kata-kataku di halaman terakhir buku harian lusuh itu:
Selamat tinggal, Amelia, kekasih dalam kehidupanku. Kau pergi, tiada lagi kata kembali. Selamat jalan, akan ada banyak sudut kenangan dalam hatiku yang akan kucipta dan kuhampiri untukmu, hanya untukmu, lagi dan lagi...
karena kau akan selalu tinggal di sini.

***
Sidik Nugroho

Semarang, Malang, Pontianak; 2012, 2017; 
dimuat di Majalah Hidup edisi 21 April 2019.
Cerita untuk mengenang masa-masa SMA di Semarang, 1995-1998, 
mulai ditulis tak lama setelah menyaksikan akting Gene Kelly dalam 
film Singin' in the Rain.