Tuesday, June 12, 2018

Napas Terakhir


Cerpen Sidik Nugroho


langit adalah kesukaan ibu, anakku
karena warna langit berganti, tak abadi
ibu ingin berbisik kepada langit, putriku
untuk menaungimu, selalu, sampai nanti

SEPERTI biasa, sore itu aku dan anak gadisku berkeliling dengan sepeda unta yang seumuran denganku. Ia selalu senang bila kuajak melintasi jalan-jalan di perumahan yang kami tinggali di pinggir Kota Malang, menghirup udara sore. Selalu saja kami melihat beberapa tetangga yang berleha-leha di depan rumah mereka menanti datangnya malam. Mereka suka tersenyum dan bertegur sapa.
“Pak, sore ini cerah sekali, ya! Nggak seperti kemarin!” katanya riang dari belakangku ketika kubonceng.
“Ya, sangat cerah. Lihatlah, langit di atasmu, bintang-bintang mulai kelihatan!” kataku sambil memandang ke atas, mengamati beberapa awan tipis yang berarak pelan.
Aku merasakan gerakan di belakangku. Kuyakin ia tengah mendongakkan kepalanya. Dinda, putri kecilku, selalu saja menghiburku. Ia suka mengajakku bicara tentang apa saja, termasuk tentang langit. Ia juga suka bernyanyi-nyanyi kecil. Setelah seharian bekerja sebagai tukang bangunan, Dindalah yang menghiburku.
Ketika langit makin gelap, kami mampir ke sebuah warung tenda. Di sana dijual bermacam-macam gorengan, kopi, teh, dan jahe. Dinda suka minum jahe, aku suka minum kopi. Kami berdua menyukai gorengan yang sama: ubi goreng.
Malam itu, Dinda bertanya lagi tentang ibunya. Sebelumnya Dinda hanya tahu kalau ia telah meninggal. Berkali-kali ia menanyakan sebabnya. Aku enggan menceritakannya, lebih menyukai untuk menyimpan semua ingatan tentang istriku di benakku.
Sampai malam itu, aku merasa desahan napas istriku seolah-olah masih dekat, sedekat pakaian yang kukenakan. Tak terhitung sudah berapa kali ia datang di mimpiku. Dari mimpi yang menggambarkan asmara kami di padang berbunga-bunga indah, hingga mimpi tentang perjalanan kami ketika mendaki sebuah gunung—ia terpeleset, hendak masuk jurang, dan aku menyelamatkannya.
Sejak ia tiada, aku suka menyendiri bila tak bersama Dinda atau kalau Dinda sudah tidur. Aku tahu diri, dengan penghidupan yang pas-pasan, lebih baik menahan hasrat menikah lagi.
“Pak, Ibu meninggal gara-gara apa?” tanya Dinda, menyentak lamunanku.
Oh, betapa ingin segera kukisahkan! Tapi aku takut Dinda masih belum bisa paham. Namun, saat kutatap matanya, ia tampak siap mendengarkanku. Ia—rasanya bahkan siap walau kisah ibunya tertutur pilu.
“Hm... makan saja ubi gorengmu, Nak. Habiskan,” kataku mengalihkan perhatiannya.
Ia melahap ubi gorengnya, meminum jahenya. Aku menimbang-nimbang lagi, bercerita atau tidak tentang ibunya. Takut, bila kisahku menyedihkan hatinya. Dan, ada ganjalan lain yang kadang menggangguku: bila aku jujur, yang itu berarti membuka aibku sendiri, apakah ia akan membenciku? Namun ia makin besar, umurnya sudah sepuluh tahun. Mau tak mau memang ia harus tahu apa yang terjadi pada ibunya.
“Pak, ceritakanlah tentang Ibu,” ulangnya setelah menghabiskan jahe.
Aku menghela napas panjang. Kutatap matanya dan kukatakan, “Ya... nanti, setelah kita pulang ke rumah, bapak cerita.”
Dinda mengangguk dan tersenyum. Senyumnya persis ibunya.

“PR-mu sudah selesai, Nak?” tanyaku ketika kami memasuki pekarangan rumah.
“Sudah, Pak. Sekarang tinggal menyiapkan buku-buku untuk besok.”
“Siapkanlah. Setelah itu, buatkan bapak teh hangat, nanti bapak akan cerita.”
“Baik, Pak!” Ia terlihat bersemangat. 
Aku masih ragu, mengisahkannya atau tidak. Beberapa saat kemudian, Dinda menghampiriku di kursi panjang yang ada di teras depan rumah kami, membawa secangkir teh hangat. Ia duduk di sampingku. Sambil menatap angkasa yang kelam, kukenang ibunya.
“Ibumu orang yang tak banyak bicara,” kataku membuka pembicaraan. Dinda menarik napas panjang. “Tapi dia pernah bilang, dulu, kalau sudah punya anak, akan lebih suka dipanggil Bunda, atau Ibunda, sama seperti ia memanggil ibunya.”
“Mm, Ibunda... bagus, Pak!” seru Dinda.
“Ibumu orang yang menyadarkan bapak tentang kasih sayang. Dia... sebuah mukjizat.”
“Mukjizat? Apa itu, Pak?” tanya Dinda keheranan menatapku.
“Mukjizat artinya... sesuatu yang mengherankan, ajaib, tidak terduga, ya... semacam itulah,” jelasku, agak kesulitan menemukan kata-kata yang lebih pas.
Dinda mengangguk-angguk, tapi tatapannya menyiratkan kebingungan.
“Begini, Dinda,” kataku sambil mengatur napas. “Bapak dulu bukan orang baik. Bapakmu ini pencuri alias maling setelah dipecat dari perusahaan bapak. Bapak putus asa, hidup tanpa harapan. Namun, karena ibumu, bapak berubah. Bapak kadang heran dengan perubahan itu.”
Dinda mengangguk-angguk. “Berubah bagaimana, Pak?”
“Saat kamu di kandungan Ibu, bapak tidak punya uang membayar kontrakan rumah. Di tengah desakan itu, bapak hampir ketahuan mencuri sepeda motor. Ketika ibumu mengetahui hal itu, dia...,” aku berhenti sejenak, “melakukan sesuatu yang tidak pernah bapak lupakan.”
Aku menyeruput teh buatan Dinda.
“Sambil menyeka keringat di dahi bapak setelah gagal mencuri, dia membawa sebuah kotak. Dibukanya kotak itu, ditunjukkannya kepada bapak sebuah kalung emas. Ibumu berkata, itulah harta terakhir yang dia miliki. Kalung itu adalah pemberian ibunya, nenekmu, yang disimpannya untuk berjaga-jaga kalau di kelahiranmu nanti dia butuh uang untuk operasi atau lainnya.”
“Lalu?” tanya Dinda.
“Ibumu malah menyuruh bapak menjual kalung itu untuk membayar kontrakan. Dari situlah bapak mulai berubah, Nak.” Leherku agak memanas. Aku seperti tak kuat untuk melanjutkan kisah itu. Lalu kisah itu sedikit kualihkan.
“Ibumu suka mengarang sajak sederhana, Dinda. Banyak yang bapak simpan, tapi ada satu yang selalu bapak bawa ke mana-mana.” Aku mengambil dari dompetku sebuah kertas kecil berwarna oranye yang kulaminating, kuberikan kepada Dinda.
Dinda membacanya sambil mengerutkan dahi. “Aku masih belum paham sajak ini, Pak. Aku cuma bisa menangkap, intinya... Ibu menyukai langit.”
“Simpanlah itu. Suatu saat kau akan bisa lebih memahaminya.”
Dinda mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian matanya ia sipitkan. Ia juga tersenyum tipis sebelum berkata, “Bapak kan juga suka melihat langit! Kita kan suka jalan-jalan kalau sore sampai malam!”
Aku tertawa dan mengelus rambutnya.
Dinda membaca lagi kertas oranye itu, lalu meletakkannya di meja. “Nah, lalu, kenapa Ibu sekarang nggak ada, Pak?” tanyanya.
Oh, tiba juga bagian itu, bagian tersulit untuk dikisahkan!
“Waktu Ibu melahirkan kamu... dia sangat kesakitan. Dia mengeluarkan banyak darah. Waktu lahir badanmu berat, Nak, hampir empat kilogram. Dokter mengatakan Ibu sebaiknya operasi, tapi...,” aku berhenti sesaat.
“Uang... sudah nggak ada, Pak?” tanya Dinda polos, walau matanya tampak memerah.
Aku mengangguk lemas beberapa kali. “Kemudian, empat hari setelah kamu lahir... Ibu pergi, tidak pernah kembali....”
Mata Dinda berkaca-kaca. Aku menepuk pundaknya. “Jangan sedih, Dinda. Itulah kejadian yang sebenarnya,” kataku pelan, menenangkannya.
Malam makin kelam, kami beberapa saat terdiam.
“Oh iya, sajak empat baris itu dibuat ibumu sehari sebelum dia meninggal. Waktu itu ibumu juga kebetulan memang dirawat di rumah sakit yang dari jendelanya tampak matahari terbenam. Ia membuat sajak ini buatmu. Karena itu, simpan baik-baik.”
Dinda menatapku keheranan. Bibirnya terbuka dan matanya terbelalak. Namun matanya menyipit perlahan. Ia tersenyum tipis ketika meraih kertas itu dan membaca sekali lagi sajak empat baris di kertas oranye itu. Dinda memejam beberapa detik, meresapi kisahku.

DUA belas tahun berlalu. Dinda mewarisi segala yang ada pada ibunya—senyumnya, wajahnya, pun caranya berbicara. Ia hampir menyelesaikan kuliahnya. Sejak tiga tahun lalu aku menjadi pemilik sekaligus penjaga warung kelontong kecil yang kubuka di depan rumahku. Bila tak ada kuliah atau kesibukan lain, Dinda membantuku. Dinda telah menemukan belahan hatinya, tahun depan akan menikah.
Hari mulai gelap. Ketika hendak keluar rumah melanjutkan membuka toko, langkahku terhenti. Tampak Dinda sedang memegang kertas sambil duduk di kursi di teras. Oh, kertas oranye itu—sajak itu! Mataku panas ketika melihat kepalanya terangkat, lalu mengembuskan napas begitu panjang.
Dinda menatap langit yang muram. Gerimis baru saja usai. Cakrawala berwarna ungu dan oranye. Bintang-bintang mulai tampak, dan kedinginan makin meninggi di pinggir kota ini. Dinda memasukkan kertas itu ke dalam dompetnya, lalu menantikan malam dan kekasihnya tiba.
Pacar Dinda datang, mereka pergi berkencan. Aku tak jadi membuka toko. Aku berdiam di kamar, membaca beberapa sajak lain yang pernah dibuat istriku. Aku mengenang kayuhan sepeda unta rentaku, kopi dan jahe, ubi goreng, nyanyian-nyanyian kecil Dinda saat ia masih kecil.
Malam kian gelap, kurasa sebentar lagi aku terlelap. (*)

Cerita untuk Ibu, yang berjuang tiga hari tiga malam ketika melahirkanku, 
dimuat di majalah Hidup edisi 3 Juni 2018




Tuesday, April 24, 2018

Cerpen: Aphiemi*)

oleh Sidik Nugroho

TIDAK ada yang lebih indah selain Minggu pagi. Itulah yang Bayu rasakan, setidaknya dua bulan terakhir. Bersama Vita, putri kecilnya yang berumur dua tahun, Bayu selalu menyusuri pematang sawah yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka bila Minggu pagi tiba. Pada hari-hari lain, ia sibuk bekerja.

Pematang itu tingginya sekitar empat puluh sentimeter dari permukaan sawah yang terbentang di kanan dan kirinya, lebarnya sekitar dua puluh sentimeter. Beberapa Minggu terakhir, Vita tak ingin digandeng dari belakang ketika melintasinya. Ia berjalan pelan-pelan sambil merentangkan kedua tangannya, kadang-kadang berjingkat-jingkat.

Bayu selalu berada selangkah di belakangnya, mengawasinya. “Awas... hati-hati jatuh!” kata Bayu, kalau pijakan Vita sudah terlalu ke samping kiri atau kanan.

Setelah berjalan sekitar tiga puluh meter di pematang sawah, mereka akan sampai di sebuah kebun tak berpagar. Di kebun itu ada banyak pohon pepaya dan cabai. Bila sampai di situ, Vita selalu berseru dengan kata-kata yang masih belum begitu jelas, “Alo pepaya, aku atang agi... Alo cabe... apa kabaw?” Di situ Vita sering minta digendong agar ia bisa memegang buah-buah pepaya. 

Setelah menyapa buah-buah di kebun, Bayu dan Vita duduk di batu hitam besar dan datar, melihat ikan-ikan kecil yang ada di parit di samping sawah. Kadang-kadang ada bebek yang berenang di parit itu. Sambil duduk di situ, Bayu selalu mengajarinya mengenal warna. “Vita!” kata Bayu sambil menunjuk sawah, “apa warnanya?”

“Ijau!”

“Kalau ini?” tanya Bayu sambil menepuk batu yang mereka duduki.

“Itam!”

“Kalau itu, di atas sana?” tanya Bayu sambil menunjuk langit.

“Biyu!”

Setelah belajar warna, mereka pun kembali ke rumah. Sebelum pulang, biasanya Vita menyapa semua yang ia lihat, berpamitan. Vita sangat gembira bila melihat kupu-kupu. “Dadah bebek, aku puyang duyu!” Di mata Vita, kupu-kupu, burung, bebek, cabai, pepaya, atau sawah akan mendengarkannya, memberi izin kepadanya, atau menantikan kembali kedatangannya—semuanya ia pamiti.

***

PAGI itu, setelah Bayu dan Vita menyusuri pematang sawah, Nindy, istri Bayu, mengeluh, “Mas, hari ini aku nggak ikut ke gereja. Kepalaku pusing dari tadi subuh.”

“Oh, ya udah kalau gitu. Aku sama Vita aja ke gereja. Sekarang,” kata Bayu sambil melihat jam dinding, “aku mandi dulu. Masih setengah jam lagi. Masih cukup.”

“Nanti kalau dia rewel gimana?” tanya Nindy.

“Biasanya dia bobok kalau jam sepuluh, kan? Paling juga nanti di sana dia bobok.”

Setelah Bayu mandi, dan Vita dimandikan Nindy, mereka berdua pun siap ke gereja. Ibadah akan dimulai jam sembilan. “Vita, mama nggak ikut ke gereja,” kata Nindy. “Mama di rumah aja. Vita nanti nggak boleh ribut, ya? Kalau ngantuk, bobok.”

Vita mengangguk, tersenyum lebar. Tapi Bayu tidak yakin sepenuhnya, Vita memahami pesan ibunya. Dia hanya berharap, gadis itu tidak rewel kalau mulai mengantuk. “Moga-moga suara musik di gereja menenangkannya,” kata Bayu saat meninggalkan Nindy.

***

SETENGAH jam berlalu di gereja, Vita mengikuti ibadah dengan khidmat. Ia sering bertanya kalau mendengarkan suara musik, “Apa itu, Pa?”, atau “Papa nyanyi apa?”. Bayu berkali-kali menempelkan telunjuk di bibir sambil mendesis, “Ssst...,” agar putrinya tenang. Kalau Bayu duduk, ia duduk di samping Bayu; kalau Bayu berdiri, ia berdiri di kursi panjang dari papan.

Saat pastor menyampaikan khotbah, mata Vita mulai sayu. Bayu mengeluarkan botol susu yang Nindy bawakan dari tas kecil, lalu menggendong gadis kecil itu. “Mimik, ya? Habis itu bobok,” bisik Bayu sambil memasukkan ujung botol susu ke mulut Vita.

Mulut Vita bergerak-gerak, matanya makin lama makin sipit.

“Pengampunan adalah bagian dari iman. Tak mungkin orang bisa mengampuni bila ia tak beriman kepada Tuhan—Tuhan tak kelihatan, pengampunan sulit dinalar. Adakah dendam di hatimu? Ampuni. Adakah kepahitan dalam jiwamu? Lepaskan.”

Mata Vita terpejam seiring kata-kata pastor itu. Hingga khotbah berakhir, Vita masih terlelap. Dan tak lama setelah khotbah selesai...

“BYAR!!! PRANG!!! DUARRR!!!”

Beberapa bom molotov dilemparkan ke dalam gereja dari luar. Kaca jendela pecah, kursi terbakar, orang-orang berteriak-teriak di segala penjuru. Ada sebuah bom yang menghantam dinding gereja dekat Bayu duduk di kursi belakang. Pecahan botol bom dan api yang menjalar dari bensin di dalamnya mengenai punggung dan kaki Vita yang sedang terlelap dalam dekapan Bayu.

Vita pun terbangun, menangis sejadi-jadinya. Baju bergambar Hello Kitty yang Vita kenakan terbakar di bagian punggungnya, dan kakinya melepuh.

***

VITA dirawat tiga hari di rumah sakit. Selain Vita, ada tiga anak dan dua orang dewasa yang menjadi korban serangan tak terduga pagi itu. Hingga Vita keluar dari rumah sakit, kabar seputar motif pelaku pengeboman masih simpang siur. Saat pastor yang berkhotbah Minggu itu mendatangi Bayu, Nindy, dan Vita pada hari kedua Vita dirawat di rumah sakit, ia tersenyum lebar. “Adik manis akan segera sembuh. Siapa namamu?”

“Vita, Pastor.” Nindy yang menjawab.

“Vita...,” katanya sambil memejam sejenak. “Hidup, kehidupan. Semoga jiwamu terus hidup tanpa dendam, Nak.” Sebelum berlalu ia menyentuh dahi Vita dengan jempolnya, lalu membuat tanda salib.

“Kenapa dia, Pa?” tanya Vita, setelah pastor itu berlalu, lalu memegangi dahinya.

Bayu tak menjawab, memandangi Nindy dan Vita bergantian.

***

“ALO cabe... apa kabaw?” kata Vita begitu sampai di kebun di seberang sawah itu. Ia sampai di sana digendong Bayu. Perban menutupi punggung dan kakinya, ia masih tertatih-tatih kalau berjalan. Pelaku pengeboman masih terus diselidiki, ada dugaan melakukannya karena salah menafsirkan ajaran agama. Sambil memandang Vita, Bayu merenung, anak-anak tak membutuhkan agama untuk bergembira, mereka memerlukan imajinasi. Apakah orang dewasa hanya membutuhkan agama untuk bergembira, sehingga mereka lupa berimajinasi?

Di batu hitam tempat duduk langganan mereka, Bayu menunjuk makhluk hidup yang terbang ke arah mereka, lalu berseru, “Vita, ada kupu-kupu!”

“Alo kupu-kupuuu!” Vita berseru, matanya berbinar-binar.

Mata Vita terus mengamati kupu-kupu itu sampai lenyap dari pandangannya. Dari pematang sawah, dua manusia itu pun pulang ke rumah. (*)   
           
Cerita untuk Intan Olivia Marbun, dimuat di Majalah Hidup, 8 April 2018.

Catatan:
*) Aphiemi: kata dalam bahasa Yunani yang di dalam Alkitab yang diterjemahkan sebagai "mengampuni"; kata ini juga berarti "membiarkan pergi", "melepaskan", "meninggalkan", atau "menghapuskan".

Tuesday, October 10, 2017

Teror dan Ketakutan dari Sejarah Kelam

Ibu (Ayu Laksmi), mantan penyanyi, meninggal setelah bertarung cukup lama dengan penyakitnya. Saat sekarat, wajahnya begitu pucat, sudah seperti mayat. Sebelum meninggal ia dirawat, membunyikan lonceng kecil bila perlu bantuan. Di awal film, di tujuh menit pertama, ketakutan sudah disuguhkan. Ibu yang berwajah seperti mayat menatap langit-langit dengan tatapan aneh. Ia bahkan meninggal sambil membuka mata dan mulut.

Namun, hingga Ibu dimakamkan, Rini si anak tertua yang ganti menjadi ‘Ibu’ untuk adik-adiknya awalnya tampak tak menduga, keluarganya bakal mengalami kunjungan makhluk halus yang mirip arwah Ibu. Ketika bertemu dengan ustadz di kampungnya, Ayah (Bront Palarae) juga mengatakan bahwa mereka tak pernah menunaikan salat. Setelah Ibu meninggal dan dimakamkan, hal-hal ganjil mulai mendatangi Rini (Tara Basro) dan adik-adiknya, yaitu Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat).

Rini mulai merasakan ada yang tak beres ketika neneknya jatuh ke dalam sumur dan meninggal. Rini mengantarkan surat yang ditulis neneknya untuk seorang kawannya yang menjadi penulis di majalah Maya. Dari kawan Nenek itu ia tahu, ada misteri yang tertimbun di keluarganya. Pria tua yang menulis di majalah Maya itu—mirip majalah Misteri—mengatakan bahwa ibunya dulu menjadi anggota sekte pengabdi setan.

Sampai di situ, penonton pun digiring memahami sejarah kelam keluarga Rini, diselingi berbagai penampakan dan teror yang mengejutkan di dalam dan sekitar rumah. Penampakan dan teror yang ada di film ini kebanyakan mirip dengan film-film bergenre serupa. Bayangan setan di cermin, kemunculan hantu dari sumur, kursi atau kursi roda yang bergerak sendiri, juga ruangan yang remang atau gelap sebelum hantu muncul adalah beberapa hal—atau katakanlah pola—yang sering muncul dalam film-film horor. Dan, pola itu makin komplit dengan latar rumah yang berada di desa, jauh dari keramaian—bahkan di dekat kuburan!

Film Pengabdi Setan yang digarap Joko Anwar ini merupakan remake dari film berjudul sama yang dirilis tahun 1980. Film ini tetap mengambil latar suasana kehidupan tahun 1980-an. Latar rumah, properti, juga kostum yang dikenakan pemain juga identik dengan yang digunakan masyarakat pada masa itu. Bagi penonton yang mengalami masa kecil dan remaja pada 1980-an, film ini juga menawarkan nostalgia yang menyenangkan, yaitu mendengarkan sandiwara radio. Di film, ada beberapa adegan ketika Tony (Endy Arfian) mendengarkan sandiwara radio pada malam hari. Radio itu menjadi biang ketakutan: menyala sendiri, berganti saluran sendiri, atau mengeluarkan suara Ibu yang sudah tiada.

Para aktor dan aktris bermain sangat luwes, dialog-dialognya pun efektif. Pengungkapan sejarah kelam keluarga—tentang Ibu yang menjadi pengabdi setan—disampaikan perlahan. Dialog di antara para pemain dalam keluarga Rini juga diselingi banyak humor di sana-sini—hal yang agak kurang lazim dalam film horor sebenarnya, namun jadi selingan yang menghibur karena waktunya pas, yaitu pada saat-saat keluarga saling bercengkerama.

Selain Tara Basro yang menjadi Rini, akting M. Adhiyat yang menjadi Ian pun mencuri perhatian. Ian sulit bicara, berwajah lucu karena sering tersenyum, dan sering berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Bahasa isyarat yang dilakukan tiap anggota keluarga kepada Ian awalnya juga menjadi biang kelucuan, lewatnya anggota-anggota keluarga kadang bercanda dengan Ian. (Supaya penonton paham, kata-kata yang dimaksudkan bahasa isyarat disajikan dalam bentuk teks.)

Namun, pada suatu malam, saat salah satu anggota keluarga mengalami semacam kerasukan setan, ia berkata kepada Ian dengan bahasa isyarat: “Aku ingin kamu mati.” Yang awalnya lucu jadi berubah menegakkan bulu kuduk! Adegan menyuguhkan teror lewat bahasa isyarat itu bagi saya sungguh sebuah ide brilian, kejutan tak terduga.

Film ini juga menyuguhkan, katakanlah, pandangan baru, bahwa ustadz juga bisa diserang setan dan mengalami nasib yang malang. Hal ini yang tampaknya jarang ditampilkan di film-film horor Indonesia lama, di mana ustadz selalu tampil sebagai sosok ‘sakti’ yang mengalahkan kekuatan setan. Kemalangan yang menimpa ustadz dalam film mengingatkan saya pada sosok pastur yang malang dalam film Exorcist (1973).

Di tangan Joko Anwar, Pengabdi Setan menjadi sebuah hiburan menegangkan yang tergarap optimal. Pemilihan pendukung nuansa film—selain properti dan kostum—seperti lagu dan musik latar pun dilakukan secara cermat. Dan yang menyenangkan, Pengabdi Setan tak terlalu banyak memberi ceramah untuk berubah menjadi pengabdi Tuhan yang saleh nan setia. Pengabdi Setan adalah kisah manusia-manusia yang malang, yang nyaris tak tahu arah untuk berdamai dengan masa lalu yang kelam—masa lalu yang tak pernah mereka hidupi dan kenali. (*)

Judul: Pengabdi Setan
Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Pemain: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Ayu Laksmi
Rilis: 28 September 2017

Sidik Nugroho, penikmat film, situsnya di sidiknugroho.com

Tuesday, September 12, 2017

Nostalgia: Jaminan Sukses Film Indonesia?

Sidik Nugroho*)

 Sejak diputar pertama kali pada 31 Agustus 2017, lima hari kemudian, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 meraup penonton dua juta lebih. Sebuah pencapaian fantastis, yang mungkin akan menyusul seri sebelumnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.



Film di seri kedua dibuka dengan rangkaian beberapa adegan di seri sebelumnya untuk membimbing penonton mengingat—atau mendapat gambaran bagi yang belum menonton seri sebelumnya—cerita di seri pertama. Di seri pertama, cerita diakhiri adegan tas yang tertukar. Tas yang berisi buku yang memuat informasi lokasi harta karun dibawa gadis cantik berbaju merah, yang belakangan diketahui bernama Nadia (Nur Fazura), seorang peneliti dari Malaysia.
 

Pertemuan Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), Indro (Tora Sudiro), dan Sophie (Hannah Al Rashid) dengan Nadia di pantai pun menjadi titik terang bagi mereka yang berutang karena menghancurkan lukisan mahal. Utang itu akan lunas kalau harta karun itu bisa ditemukan. Setelah dipelajari, harta karun itu berada di pulau terpencil di bagian barat Malaysia.

Sampai di situ, penonton digiring untuk lepas dari bayang-bayang seragam polisi (CHIPS) yang dikenakan tiga tokoh utama ini di seri pertama. Guyonan demi guyonan pun disuguhkan, dari yang sederhana seperti plesetan akibat salah dengar (Lab Aran di Universitas Putra Malaysia diplesetkan menjadi Lebaran) hingga yang tidak masuk akal (dada Kasino yang menggembung akibat serum yang disuntikkan seorang ilmuwan di sana).


Guyonan terus berlanjut. Dalam pencarian harta karun, Dono ketemu kuntilanak yang tersangkut di pohon dan minta diturunkan, Indro berkelahi dengan beberapa pocong, dan Kasino berkelahi dengan pohon-pohon yang bergerak dengan jurus-jurus silat—hmmm... bertujuan mengait-ngaitkan dengan film Wiro Sableng yang sedang digarap?

Penulis skenario dan sutradara tampaknya paham, komedi terbuka lebar untuk berbagai keliaran dan ketidakmasukakalan. Lebih-lebih, ketika yang menjadi pijakan untuk mengeksplorasi keduanya adalah tokoh-tokoh ikonik komedi masa silam yang juga memang melakukan hal serupa.

Di film-film Warkop DKI pembaca mungkin ingat ketika Dono Kasino Indro menyamar jadi perempuan dalam Bisa Naik Bisa Turun (1991), padahal penyamaran itu terlihat jelas. Atau Dono yang saat menyamar jadi wanita dalam Maju Kena Mundur Kena (1983) ikut bertanding dalam sepakbola wanita. Di babak pertama, skor pertandingan 11-0. Adu jotos sempat terjadi gara-gara pemain saling mencurangi. Dono suka berlari ke sana kemari, terlihat paling aktif dan gembira, dan setelah mencetak gol cengengesan meremasi bokong para pemain wanita.


Di film ini, kehadiran para wanita seksi—yang di film-film Warkop DKI menjadi ciri khas—tampaknya berkurang agak banyak. Yang terbilang paling hot di film ini hanya saat mereka mengamati gadis berbikini lewat teropong. Apakah pengurangan ini demi menghindari sensor? Mungkin saja. Saat Kasino dadanya menggembung, jadi mirip payudara wanita berukuran jumbo, ada bagian yang tampaknya menyentil kebijakan sensor. Blur berbentuk kotak-kotak yang biasanya ditampilkan di televisi untuk memburamkan bagian-bagian tertentu sempat muncul, menutupi dadanya, tapi ia geser dengan tangannya.

Namun, selain dugaan saya untuk menghindari sensor, melihat betapa kritisnya warganet merespons berbagai persoalan, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan diskriminasi gender, tampaknya sutradara dan penulis skenario memilih jalur aman. Guyonan-guyonan yang misigonis dalam Warkop DKI jika dipertahankan dan diadaptasi dalam Warkop DKI Reborn malah sangat mungkin menuai kritik dan hujatan.


Guyonan yang paling menggelitik di film ini adalah penerapan teknologi CGI yang memungkinkan para tokoh bertemu dengan tokoh atau aktor film masa lalu seperti Rhoma Irama, Jaka Sembung, dan Suzanna yang suka makan sate dan soto. Para penonton yang akrab dengan tokoh-tokoh itu tentu akan terkejut menyaksikan pertemuan-pertemuan itu.

Walaupun tampaknya sudah memilih jalur aman, juga berupaya menampilkan ragam komedi dari berbagai sisi, tetap ada yang mengganjal di film ini. Yang paling mengganggu adalah alur. Alur menjadi elemen yang agak tenggelam karena sutradara berhasrat menyuguhkan komedi di tiap adegan.


Misalnya, adegan pertemuan Nadia dengan Kasino di pantai. Sangat kebetulan. Dari sekian banyak orang di pantai itu, tampaknya terlalu cepat dan tak terduga bagi Kasino untuk bertemu orang yang selama ini ia dan tiga rekannya cari-cari. Sebelum bertemu, ia bahkan terpesona dengan Nadia, berlagak jadi orang yang pura-pura tenggelam agar ditolongi. Bahkan setelah bertemu, ekspresi mereka tampak biasa saja, kurang dramatis, padahal Nadia adalah tokoh untuk membuka kunci kerumitan yang mereka temui sebelumnya. Di sini pun terlihat, yang ingin ditonjolkan lucunya, alurnya tak begitu penting.


Sudah barang tentu, alur yang kurang runut tak terlalu menjadi soal. Dalam film komedi, yang lebih penting memang humornya. Toh masyarakat butuh hiburan, tertawa di bioskop beramai-ramai sungguh mengasyikkan. Yang kurang lucu pun jadi agak lucu, atau malah jadi lumayan lucu kalau bioskopnya ramai. Namun, benarkah film hanya hiburan?


Totot Indrarto, dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan bahwa 2016 adalah “tahun kebangkitan kembali film Indonesia” setelah 2008 yang sering disebut sebagai “masa kejayaan film Indonesia jilid baru”. Sebabnya, “sampai dengan akhir 2016 total jumlah penonton bisa menyamai perolehan 2008, yakni 32 juta penonton.”


2016 menjadi tahun penting dalam industri perfilman, dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang rilis pada tahun itu tercatat sebagai film yang paling banyak ditonton sepanjang masa, yaitu 6,8 juta. Dan perolehan penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 juga digadang-gadang bakal mirip—atau mungkin melampaui—seri sebelumnya. Indikasi apakah ini? Terlalu dini untuk menyatakan bahwa fakta ini menunjukkan bahwa penonton film kebanyakan sekadar mencari hiburan dengan menonton film. Toh, film yang terkategori menghibur (baca: membangkitkan gelak tawa) bukan hanya Warkop DKI Reborn, ada film-film komedi lainnya.


Kata kunci yang lebih pas mungkin bukan menghibur, tapi nostalgia. Dono, Kasino, dan Indro adalah tokoh-tokoh yang dirindukan penonton dari segala usia dan kalangan untuk terus hidup dan menyuguhkan kekonyolan-kekonyolan baru. Dan kerinduan itu telah ditangkap para pembuat film. Filmnya pun sukses.


Ahirnya, setelah menonton film ini, yang menurut saya kelucuannya agak berkurang dari yang pertama, saya malah berpikir untuk menjadi orang sukses daripada lucu dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ah, tapi sayang, saya kurang pandai bernostalgia. (*)


Judul: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2
Sutradara: Anggy Umbara         
Penulis: Anggy Umbara, Bene Dion Rajagukguk, Andi Awwe Wijaya
Pemain: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Hannah Al Rashid, Nur Fazura, Indro Warkop
Rilis: 31 Agustus 2017

*) Penulis lepas, penikmat film


Tuesday, July 11, 2017

Moralitas, Boikot, dan LGBT

Sidik Nugroho*)

Ron Woodroof, artis rodeo, divonis dokter mengidap AIDS, punya waktu hidup tinggal 30 hari. Karena vonis itu ia gelisah, berusaha mengobati dirinya dengan segala cara sampai ia bertemu dokter di Meksiko yang menjual obat-obat alternatif. Karena merasakan pengaruhnya—usianya lebih lama daripada vonis dokter—ia pun menjual obat-obat alternatif itu di Dallas kepada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, dibantu waria bernama Rayon.    

Awalnya, Ron adalah homofobia. Ia begitu sinis—bahkan jijik—melihat Rayon. Namun, karena Rayon membantunya mendapatkan pembeli obat-obat alternatif itu, hubungan keduanya makin akrab.

Di dalam film ditampilkan Rayon yang mengubah penampilannya ketika Ron menghadap ayahnya untuk meminta tambahan uang menjalankan bisnisnya: ia mengenakan pakaian pria, sebelumnya selalu berpakaian dan merias diri seperti wanita. Di adegan lain juga ditampilkan Ron dan Rayon berpelukan setelah mereka mendapatkan sejumlah uang untuk melanjutkan bisnisnya.

Dengan latar tahun 1980-1990-an, kisah Ron dan Rayon dalam film Dallas Buyers Club (2013) yang diangkat dari kisah nyata menyuguhkan potret persahabatan yang dinamis sekaligus tak terduga, selain menyinggung isu-isu yang lebih “besar” seperti kekeliruan penanganan medis untuk pengobatan HIV/AIDS atau kecenderungan para lelaki Dallas yang macho dan membenci waria atau transgender.

Di sepanjang zaman, tak sedikit orang seperti Ron, hidup dalam penilaian miring tentang suatu kaum sebelum benar-benar mengenalinya. Philip Yancey, seorang penulis kenamaan, ketika masih kecil mengenal seorang pria yang mengesankan, ia kisahkan dalam bukunya Keajaiban Kasih Karunia (1999).

Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam, sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik dengan tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, juga berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan, “Ini yang akan kulakukan padamu.” Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang rapuh—bahkan bisa dibilang bobrok.

Ron dan Big Harold adalah contoh orang yang (pernah) menerapkan suatu standar moral untuk menilai kualitas kepribadian seseorang. Mereka menentang keras orang yang orientasi seksualnya berbeda seperti LGBT (lesbian, gay, biseks, dan transgender), juga percabulan dan perzinahan di luar ikatan resmi pernikahan. Dan pada kasus Big Harold ada suatu realitas yang menyedihkan: polisi moral tertawan oleh kejahatannya sendiri.

Belakangan, isu LGBT kembali menyeruak karena ada seruan boikot dari beberapa kalangan, dimulai dari Anwar Abbas, Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah. Seruan itu ia sampaikan karena Starbucks memiliki ideologi bisnis dan pandangan hidup yang tak sesuai dengan ideologi bangsa, pun Howard Schultz selaku CEO Starbucks mendukung gerakan gay atau LGBT (Detik.com, 30-06-2017).

Alih-alih memboikot Starbucks karena isu LGBT, tidakkah terpikir untuk memboikotnya karena alasan lain yang lebih relevan atau spesifik? Karena selain Starbucks, cukup banyak perusahaan luar negeri lainnya yang beroperasi di tanah air dan mendukung gerakan LGBT. Dan perusahaaan-perusahaan itu cukup akrab di kehidupan kita—dari media sosial, ponsel, minuman, hingga sepatu.

Seruan boikot ini pun secara tidak langsung menjadi indikasi, bahwa secara sosial, mau tidak mau, kaum LGBT perlu selalu siap menerima kenyataan: di banyak tempat, di berbagai lapisan masyarakat atau komunitas di Indonesia, mereka (akan) ditolak. Tempat, komunitas, atau masyarakat tersebut menolak mereka karena adanya anggapan umum yang telah dianut: kaum LGBT abnormal.

Jangankan kaum LGBT, orang yang terlambat menikah juga bisa merasakan perlakuan kurang menyenangkan di masyarakat. Saya sendiri mengalaminya. Kalau hadir di pertemuan keluarga besar, Lebaran, Natal, bertemu teman-teman lama, atau di resepsi pernikahan, selalu saja pertanyaan itu muncul: “Kapan menikah?”

Dulu saya termasuk yang ‘sensi’ kalau mendengar pertanyaan itu karena belum menikah. Tapi, mengingat anggapan umum yang berlaku di situ—bahwa pria berumur mendekati kepala empat biasanya sudah punya anak balita—mau bagimana lagi? Lama-lama jadi terbiasa. Masyarakat atau komunitas di berbagai tempat yang saya kunjungi, sejauh yang saya amati, hanya bisa (langsung) maklum kalau yang tidak menikah adalah biarawan atau biarawati. Di luar status itu, siap-siap saja menerima cibiran dan tak jarang tuduhan miring.

Kaum LGBT tentu akan mengalami pertentangan dan konflik yang lebih berat. Pertanyaannya, siap tidak mereka dikucilkan atau bahkan diintimidasi? Febrie Hastiyanto dalam esainya berjudul LGBT dan Norma Baru (2015) mempertanyakan prospek LGBT untuk “menjadi norma baru, atau setidaknya menjadi norma yang diterima sebagai salah satu norma hubungan sosial dan biologis berdasar gender”.

Prospek itu tampaknya sangat kecil. Salah satu indikasinya, tahun lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menyatakan bahwa kelompok LGBT bisa merusak moral bangsa. Pernyataannya itu dipicu oleh makin merebaknya komunitas LGBT di beberapa universitas di Indonesia. Ada juga indikasi lain, seperti pelarangan bedah buku yang ditulis Irshad Manji, novelis lesbian, beberapa tahun silam. Pemerintah tampaknya tak ingin tinggal diam ketika kaum LGBT menunjukkan eksistensi lewat sebuah acara atau kegiatan yang bersifat publik.

Pada akhirnya, kehadiran kaum LGBT pun menjadi tantangan tersendiri bagi kaum heteroseksual. Memperlakukan kaum LGBT secara wajar dalam kehidupan sehari-hari bisa ditempuh dengan cara menepis fobia bahwa mereka berbahaya. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berorientasi LGBT, dan itu perlu dikenali kalau sering berinteraksi sosial, bukannya mengucilkannya.

Dalam berinteraksi, sebagian orang mungkin akan seperti Ron, berubah penilaiannya terhadap waria setelah mengenalnya. Dan sebagian mungkin seperti Big Harold, yang selalu yakin bahwa standar moral tertentu harus sama pada semua orang. Pilihan tiap orang dalam memperlakukan orang lain tentu berbeda-beda.

Begitu juga kopi yang dipilih untuk diminum. Tulisan ini—sama seperti banyak tulisan saya lainnya—dibuat di warung kopi sederhana di tepi jalan, segelas kopi cuma Rp5000,00.

*) Penulis lepas, penyuka film, dan penyuka kopi yang belum pernah ngopi di Starbucks

(Keterangan: gambar diambil dari cinemablend.com)

Tuesday, June 20, 2017

Sastra(wan) dan Perubahan Zaman

Sidik Nugroho*)

AKHIR 2006, seorang penulis yang mengikuti lomba menulis novel yang diadakan sebuah lembaga di Jakarta merenungi nasib di kantor pos sambil minum es teh. Ia kalah, merasa perjuangan menulisnya sia-sia. Sebelum tahun itu—mulai 2003—ia berkarya, membuat beberapa puisi dan cerpen. Ia mengirimkan karya-karyanya dari kantor pos, tapi banyak yang ditolak redaktur koran dan majalah. Hanya empat puisi dimuat sebuah koran dan beberapa cerpen dimuat majalah-majalah remaja.

Selang beberapa waktu setelah kekalahan itu, penulis itu kembali berkarya, menulis cerpen, artikel, juga novel. Ia mulai agak jarang ke kantor pos karena beberapa koran, majalah, dan penerbit menerima kiriman naskah lewat surel. Ia juga menunggu-nunggu pemuatan karyanya, hampir tiap Minggu pagi ke lapak koran dekat rumahnya, kemudian (melakukan seperti yang dicatat Maman S. Mahayana, atau Pak Maman): “berpura-pura membacai berita politik dan olahraga sambil berdebar-debar berharap namanya muncul” di koran yang ia kirimi naskah.

Sampai sekarang penulis itu masih berkarya. Ia menulis beberapa buku, dan sesekali menulis di media cetak dan online. Setelah membaca catatan Pak Maman, penulis itu tergerak menulis tanggapan yang anda baca sekarang.

Ada dua kesan yang bagi saya tampak dominan dalam catatan Pak Maman. Pertama, anggapan Pak Maman bahwa koran adalah media yang lebih tinggi kedudukannya daripada Facebook (FB) atau media sosial lainnya dalam menahbiskan seseorang menjadi sastrawan tidak realistis dan menunjukkan sikap kurang terbuka terhadap perubahan zaman. Kedua, Pak Maman memberikan tudingan negatif terhadap sastra(wan) FB atau media sosial lainnya tanpa disertai cukup bukti. Supaya kesan tak menjadi sekadar kesan, berikut uraian yang saya harapkan memadai untuk menjadi refleksi bersama, atau mungkin perbincangan lebih lanjut.

Posisi Koran

Menurut Pak Maman, pemuatan karya di koran membuat “masyarakat perlahan-lahan dapat melabeli seseorang—yang secara konsisten dan berkelanjutan—sebagai penyair, cerpenis, atau kritikus”. Ini sepenuhnya benar, kalau ditulis dan disiarkan ke publik sepuluh tahun lalu. Manakala minat masyarakat terhadap koran semakin menurun dari hari ke hari, anggapan itu kini jadi tampak meragukan.

Memang, dengan proses kurasi-seleksinya, koran dan majalah menjadi media yang menguji “keseriusan berkarya dan kesabaran (pengarang) menunggu”, walaupun tidak semua koran melakukan proses yang ketat. Koran yang tidak menyediakan honor bagi penulis sastra, misalnya, sangat mungkin dikirimi lebih sedikit naskah.

Proses kurasi-seleksi yang sangat longgar pada koran-koran tak berhonor tentu membuat masyarakat tidak terlalu berharap mendapat suguhan karya bermutu. Dengan demikian, posisi koran—yang masih melaksanakan proses kurasi-seleksi dengan ketat—masih penting, terutama bagi penulis yang menggantungkan hidup lewat publikasi karya di media cetak. Semua penulis tampaknya mengamini: semakin prestisius sebuah media cetak, semakin besar honor yang disediakan.

Namun, sudah menjadi rahasia umum, menulis di beberapa koran juga menguras energi dan emosi. Koran yang prestisius jumlahnya makin sedikit. Banyak koran yang tidak atau lalai membayar honor penulis, juga tidak memberitahukan sebelum atau sesudah karya penulis dimuat sehingga beberapa kali terjadi pemuatan ganda. Kondisi seperti itu tentu membuat FB bisa lebih diminati, atau paling tidak menjadi alternatif.

“Tak dapat dimungkiri, hadirnya media sosial telah memberi kemungkinan lain bagi perkembangan sejumlah bidang ilmu, termasuk sastra,” catat Pak Maman. Namun, dari beberapa pernyataannya yang lain, ia tampak memungkiri bahwa FB dan media sosial lain bisa menjadi media alternatif publikasi sastra. Pak Maman, dengan semua nama yang disebutkannya, masih tenggelam dalam kejayaan sastra masa lalu.

Tudingan Negatif

Agak disayangkan, Pak Maman menyebut banyak nama sastrawan dan redaktur yang baginya sudah membuat dan melahirkan karya berkualitas, namun tak menyebut satu nama pun yang ia tuding membuat karya “instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik)”. Sebagai seorang kritikus, yang juga memiliki akun FB (masih aktifkah digunakan?), anggapan ini terburu-buru dan kurang berdasar. Dengan menyebut satu atau beberapa nama atau karya yang bisa mewakili tudingannya, tentu akan jauh lebih baik. Mengapa lebih memilih memuji nama-nama yang disebut, padahal mereka yang disebut semuanya bukan “Generasi Facebook” seperti judul catatan?

Pak Maman juga mengatakan, karya-karya di FB “ada juga yang potensial dan bergizi”, tapi mendahului dengan “sisanya”. Kata ‘sisa’ tampaknya mewakili sikapnya yang pesimis terhadap sastra(wan) FB. Alih-alih memberikan contoh karya sastra FB yang patut dikritik, atau ‘sisa’-nya yang layak diapresiasi, Pak Maman di bagian akhir malah menyarankan agar pengguna FB “bersikap santun; tak asal jeplak dengan mengeluarkan kosakata kebun binatang atau isi toilet.”

Sebagai alternatif koran, FB dan media sosial lainnya justru memungkinkan lebih banyak eksplorasi atas berbagai hal yang terjadi di masyarakat, termasuk sastra. Adanya diskusi tentang karya sastra—juga dunia atau ilmu sastra—di FB malah bisa mengajak publik meninjau kembali, mendiskusikan, atau mempertanyakan berbagai hal, termasuk sastra(wan) yang oleh sebagian kalangan dianggap lebih “mapan”, berkelas lebih tinggi, atau selama beberapa waktu dijadikan panutan, misalnya. Atau, perlukah ada pemilihan terhadap 33, 44, atau 55 sastrawan yang paling mumpuni karyanya, atau kiprahnya paling fantastis? Atau, terkontaminasikah penghargaan dan festival-festival sastra yang dihelat di tanah air dari kecenderungan pertemanan atau politik sastra?

Tudingan-tudingan Pak Maman mungkin bisa menjadi tidak negatif bila Pak Maman juga memberi batasan pada hal-hal yang sedang dibahas. Misalnya, celotehan tidak bisa disejajarkan dengan karya. Di FB, di mana orang (lebih) bebas mengeluarkan apa saja, tentu perlu ada pemilahan: mana karya, mana bukan. Menganggap celotehan sebagai karya, atau sebaliknya—tanpa identifikasi-klasifikasi yang jelas—membuat catatan Pak Maman lebih terkesan retoris, diakhiri dengan ujaran mirip motivator, dan tak menawarkan wacana yang menggugah. Itu!

*) Novelis, pengguna media sosial, dan pembaca sastra koran

(Catatan ini adalah tanggapan atas Catatan Kebudayaan “Sastra(wan) Generasi Facebook” yang ditulis Maman S. Mahayana, dimuat Kompas, Sabtu, 22 April 2017. Saya kirimkan 24 April 2017. Kompas tidak memuat tulisan ini, mengembalikannya 8 Juni 2017.)