Tuesday, June 20, 2017

Sastra(wan) dan Perubahan Zaman

Sidik Nugroho*)

AKHIR 2006, seorang penulis yang mengikuti lomba menulis novel yang diadakan sebuah lembaga di Jakarta merenungi nasib di kantor pos sambil minum es teh. Ia kalah, merasa perjuangan menulisnya sia-sia. Sebelum tahun itu—mulai 2003—ia berkarya, membuat beberapa puisi dan cerpen. Ia mengirimkan karya-karyanya dari kantor pos, tapi banyak yang ditolak redaktur koran dan majalah. Hanya empat puisi dimuat sebuah koran dan beberapa cerpen dimuat majalah-majalah remaja.

Selang beberapa waktu setelah kekalahan itu, penulis itu kembali berkarya, menulis cerpen, artikel, juga novel. Ia mulai agak jarang ke kantor pos karena beberapa koran, majalah, dan penerbit menerima kiriman naskah lewat surel. Ia juga menunggu-nunggu pemuatan karyanya, hampir tiap Minggu pagi ke lapak koran dekat rumahnya, kemudian (melakukan seperti yang dicatat Maman S. Mahayana, atau Pak Maman): “berpura-pura membacai berita politik dan olahraga sambil berdebar-debar berharap namanya muncul” di koran yang ia kirimi naskah.

Sampai sekarang penulis itu masih berkarya. Ia menulis beberapa buku, dan sesekali menulis di media cetak dan online. Setelah membaca catatan Pak Maman, penulis itu tergerak menulis tanggapan yang anda baca sekarang.

Ada dua kesan yang bagi saya tampak dominan dalam catatan Pak Maman. Pertama, anggapan Pak Maman bahwa koran adalah media yang lebih tinggi kedudukannya daripada Facebook (FB) atau media sosial lainnya dalam menahbiskan seseorang menjadi sastrawan tidak realistis dan menunjukkan sikap kurang terbuka terhadap perubahan zaman. Kedua, Pak Maman memberikan tudingan negatif terhadap sastra(wan) FB atau media sosial lainnya tanpa disertai cukup bukti. Supaya kesan tak menjadi sekadar kesan, berikut uraian yang saya harapkan memadai untuk menjadi refleksi bersama, atau mungkin perbincangan lebih lanjut.

Posisi Koran

Menurut Pak Maman, pemuatan karya di koran membuat “masyarakat perlahan-lahan dapat melabeli seseorang—yang secara konsisten dan berkelanjutan—sebagai penyair, cerpenis, atau kritikus”. Ini sepenuhnya benar, kalau ditulis dan disiarkan ke publik sepuluh tahun lalu. Manakala minat masyarakat terhadap koran semakin menurun dari hari ke hari, anggapan itu kini jadi tampak meragukan.

Memang, dengan proses kurasi-seleksinya, koran dan majalah menjadi media yang menguji “keseriusan berkarya dan kesabaran (pengarang) menunggu”, walaupun tidak semua koran melakukan proses yang ketat. Koran yang tidak menyediakan honor bagi penulis sastra, misalnya, sangat mungkin dikirimi lebih sedikit naskah.

Proses kurasi-seleksi yang sangat longgar pada koran-koran tak berhonor tentu membuat masyarakat tidak terlalu berharap mendapat suguhan karya bermutu. Dengan demikian, posisi koran—yang masih melaksanakan proses kurasi-seleksi dengan ketat—masih penting, terutama bagi penulis yang menggantungkan hidup lewat publikasi karya di media cetak. Semua penulis tampaknya mengamini: semakin prestisius sebuah media cetak, semakin besar honor yang disediakan.

Namun, sudah menjadi rahasia umum, menulis di beberapa koran juga menguras energi dan emosi. Koran yang prestisius jumlahnya makin sedikit. Banyak koran yang tidak atau lalai membayar honor penulis, juga tidak memberitahukan sebelum atau sesudah karya penulis dimuat sehingga beberapa kali terjadi pemuatan ganda. Kondisi seperti itu tentu membuat FB bisa lebih diminati, atau paling tidak menjadi alternatif.

“Tak dapat dimungkiri, hadirnya media sosial telah memberi kemungkinan lain bagi perkembangan sejumlah bidang ilmu, termasuk sastra,” catat Pak Maman. Namun, dari beberapa pernyataannya yang lain, ia tampak memungkiri bahwa FB dan media sosial lain bisa menjadi media alternatif publikasi sastra. Pak Maman, dengan semua nama yang disebutkannya, masih tenggelam dalam kejayaan sastra masa lalu.

Tudingan Negatif

Agak disayangkan, Pak Maman menyebut banyak nama sastrawan dan redaktur yang baginya sudah membuat dan melahirkan karya berkualitas, namun tak menyebut satu nama pun yang ia tuding membuat karya “instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik)”. Sebagai seorang kritikus, yang juga memiliki akun FB (masih aktifkah digunakan?), anggapan ini terburu-buru dan kurang berdasar. Dengan menyebut satu atau beberapa nama atau karya yang bisa mewakili tudingannya, tentu akan jauh lebih baik. Mengapa lebih memilih memuji nama-nama yang disebut, padahal mereka yang disebut semuanya bukan “Generasi Facebook” seperti judul catatan?

Pak Maman juga mengatakan, karya-karya di FB “ada juga yang potensial dan bergizi”, tapi mendahului dengan “sisanya”. Kata ‘sisa’ tampaknya mewakili sikapnya yang pesimis terhadap sastra(wan) FB. Alih-alih memberikan contoh karya sastra FB yang patut dikritik, atau ‘sisa’-nya yang layak diapresiasi, Pak Maman di bagian akhir malah menyarankan agar pengguna FB “bersikap santun; tak asal jeplak dengan mengeluarkan kosakata kebun binatang atau isi toilet.”

Sebagai alternatif koran, FB dan media sosial lainnya justru memungkinkan lebih banyak eksplorasi atas berbagai hal yang terjadi di masyarakat, termasuk sastra. Adanya diskusi tentang karya sastra—juga dunia atau ilmu sastra—di FB malah bisa mengajak publik meninjau kembali, mendiskusikan, atau mempertanyakan berbagai hal, termasuk sastra(wan) yang oleh sebagian kalangan dianggap lebih “mapan”, berkelas lebih tinggi, atau selama beberapa waktu dijadikan panutan, misalnya. Atau, perlukah ada pemilihan terhadap 33, 44, atau 55 sastrawan yang paling mumpuni karyanya, atau kiprahnya paling fantastis? Atau, terkontaminasikah penghargaan dan festival-festival sastra yang dihelat di tanah air dari kecenderungan pertemanan atau politik sastra?

Tudingan-tudingan Pak Maman mungkin bisa menjadi tidak negatif bila Pak Maman juga memberi batasan pada hal-hal yang sedang dibahas. Misalnya, celotehan tidak bisa disejajarkan dengan karya. Di FB, di mana orang (lebih) bebas mengeluarkan apa saja, tentu perlu ada pemilahan: mana karya, mana bukan. Menganggap celotehan sebagai karya, atau sebaliknya—tanpa identifikasi-klasifikasi yang jelas—membuat catatan Pak Maman lebih terkesan retoris, diakhiri dengan ujaran mirip motivator, dan tak menawarkan wacana yang menggugah. Itu!

*) Novelis, pengguna media sosial, dan pembaca sastra koran

(Catatan ini adalah tanggapan atas Catatan Kebudayaan “Sastra(wan) Generasi Facebook” yang ditulis Maman S. Mahayana, dimuat Kompas, Sabtu, 22 April 2017. Saya kirimkan 24 April 2017. Kompas tidak memuat tulisan ini, mengembalikannya 8 Juni 2017.)

Tuesday, October 18, 2016

Nama Besar

Esai, dimuat di rubrik Art Culture Tribun Bali, Minggu, 16-10-16

Sidik Nugroho*)

BELAKANGAN ini, pembaca di Indonesia, bahkan dunia, sedang disuguhi berita tentang orang-orang yang (bakal) punya nama besar di bidang kesusastraan. Ada Kusala Sastra Khatulistiwa yang sudah mengumumkan karya-karya penulis fiksi dan puisi yang masuk sepuluh besar. Ada Komite Buku Nasional yang sudah merilis nama-nama pengarang yang akan diberangkatkan untuk program residensi menulis di luar negeri. Ada Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang akan mengundang 16 penulis emerging Indonesia ke Ubud akhir bulan ini. Dan pemenang Nobel Sastra yang baru saja diumumkan: Bob Dylan.

Tentu, lahirnya nama-nama besar ini menggembirakan; acara dan kegiatan-kegiatan demikian membuat kesusastraan diperbincangkan. Bob Dylan yang terkenal sebagai penulis lagu, misalnya, kemenangannya menjadi kejutan tersendiri. Dan, omong-omong, tentang Nobel Sastra, ada kisah yang menarik.

Suatu ketika, koran Inggris Sunday Times membuat percobaan, mengirimkan dua naskah pembuka novel yang terkenal. Satu naskah ditulis V.S. Naipaul, pemenang Nobel Sastra, berjudul "In a Free State"; dan lainnya berjudul "Holiday" karya Stanley Middleton yang memenangkan Booker Prize. Dua naskah pembuka itu dikirimkan kepada dua puluh penerbit dan agen dengan nama palsu. Hampir semua penerbit menolaknya. Dengan kata lain, para editor senior di penerbitan pun yang terbiasa dengan banjirnya naskah, tidak mengenali naskah-naskah yang berkilau itu.

Suatu ketika, saya mengisahkan cerita yang mirip di sebuah kelas menulis:

Dua mahasiswa yang belum pernah membaca karya seorang pengarang, tapi tahu bahwa pengarang itu punya nama besar yang disegani dan memenangkan banyak penghargaan, suatu ketika mendapat pengalaman membaca berbeda. Yang pertama membaca karya si pengarang dalam bentuk buku yang komplit: ada sampul yang memuat nama pengarang dan judul buku, cerita lengkap, dan sampul belakang yang memuat sinopsis pendek buku. Mahasiswa kedua mendapat buku yang sama, namun sampul depan dan belakangnya tak ada.

Selang beberapa waktu, kedua mahasiswa itu tak sengaja bertemu, mengobrol. Saat mereka mengobrolkan bacaan, si mahasiswa kedua menunjukkan buku tanpa sampul yang ia dapatkan. Yang ia dengar dari si mahasiswa pertama membuat ia terkejut. “Kita membaca buku yang sama!” serunya, lalu menyebut sebuah nama besar. “Itu benar-benar karya yang hebat!”

Sungguh tak dinyana, ternyata buku itu karya pengarang setengah dewa yang sangat sering mendapat puja-puji, entah dari orang yang sudah membaca karyanya maupun belum. Si mahasiswa kedua pun teringat bahwa buku itu tak kunjung selesai ia baca karena baginya ceritanya membosankan. Setelah kawannya meninggalkannya, ia merenung sambil menimang buku tanpa sampul itu: kalau aku tahu siapa pengarang buku ini, mungkinkah sudah selesai kubaca?

***

"GOODFELLAS" dan "Pendekar Rajawali Sakti" (PRS) adalah dua karya yang saya nikmati karena keberuntungan setelah “mencari sendiri”. Saya masih ingat, "Goodfellas" saya pinjam di sebuah rental di Jalan Sulfat Agung, Malang, beberapa tahun silam. Saya tidak banyak tahu tentang Robert De Niro juga Joe Pesci, dua aktor legendaris di film itu; bahkan tidak kenal siapa itu Martin Scorsese sang sutradara. Saya juga belum sempat kenal IMDb (International Movie Database) atau Metascore, situs-situs yang mengulas film. Saya menyewa film itu, membawanya pulang ke rumah. Waktu menontonnya, saya tersihir. Sejak hari itu, saya mencari film-film De Niro dan Scorsese tiap kali ada kesempatan.

PRS saya nikmati waktu SMP. Saya mendapatkan beberapa serial PRS waktu suatu hari berkunjung ke persewaan buku di Singkawang, kota kecil di Kalimantan Barat. Saya banyak lupa cerita-cerita PRS, tapi saya ingat, PRS-lah yang membuat saya berimajinasi tentang dunia pendekar.

Kenikmatan terbesar membaca atau menonton dapat muncul dari semacam “pencarian tak terencana”: pergi mencari suatu karya (bisa film atau buku) tanpa tahu pendapat orang tentang karya itu; tanpa mengenal siapa penulis, sutradara, atau aktornya; bahkan tanpa harapan besar untuk puas atau senang setelah menikmatinya.

Tak bisa dimungkiri, di era informasi seperti saat ini, pembaca buku atau penonton film lebih sering ingin atau tergerak menikmati suatu karya karena terlebih dulu membaca ulasannya atau mendengar rekomendasi tentang karya tersebut. Dalam taraf tertentu, pendapat orang lain tak hanya memengaruhi pendapat seseorang tentang suatu karya, bahkan bisa membuat seseorang mengambil keputusan menikmati karya tersebut atau tidak. Ada orang yang mungkin membatalkan menonton film hanya karena skornya rendah di IMDb atau Metascore.

Pendapat pembaca bahkan tak hanya memengaruhi calon pembaca lain, bahkan penerbit. Novel berjudul "Phantastes" karya George MacDonald dianggap gagal oleh penerbitnya karena banyak pembaca yang menilai ceritanya aneh. Karena penilaian pembaca, penerbit pun enggan menerbitkan karya-karya George berikutnya.

Suatu ketika, seorang pembaca menemukan "Phantastes" di toko buku loak. Si pemuda terkesan dengan novel itu, menganggapnya memukau imajinasi dan memancarkan sebentuk “kebaikan yang menyenangkan hati”. Belakangan, pemuda bernama C.S. Lewis itu menjadi penulis kenamaan, buku-bukunya yang berjudul "Kisah-kisah dari Negeri Narnia" disukai anak-anak di seluruh dunia. Ia mengakui, karya George MacDonald itu turut mengambil bagian dalam proses kreatifnya.

Dengan demikian, ada nama besar yang lahir karena membaca karya gagal. (*)

*) Novelis dan pembaca buku, penulis emerging UWRF 2016

Tuesday, August 16, 2016

Catatan dari Buku "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia"

Pengantar:

Pada bulan Maret 2013 saya menemukan buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams di Perpustakaan SMA Santu Petrus, Pontianak. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan di buku ini. Beberapa hal itu akan saya bagikan di sini, untuk mengenang kembali Soekarno, bapak republik Indonesia yang kita cintai.

*** 

1. Kolonialisme, Pidato Pertama Soekarno, dan Ijazah

“Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghancurkan kekuasaan kolonial, rupanya aku harus berterima kasih pula kepada mereka atas pendidikan yang kuterima.”
~ “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 94

Tak lama setelah Soekarno bertemu dengan Marhaen, seorang petani miskin di Bandung, pemikiran-pemikirannya tentang sosialisme mulai menjadi suatu konsep yang nantinya muncul dalam pidato-pidatonya. Ia sering menyebut rakyat kecil sebagai Marhaen: sosok yang miskin, hidup sederhana, tapi memiliki sebidang tanah kecil yang digarapnya dengan upaya sendiri untuk menafkahi keluarga. Marhaen adalah sosok yang mewakili rakyat Indonesia secara luas: rakyat yang sedang ditindas oleh keserakahan kolonialisme; rakyat yang berdikari; rakyat yang bila menemukan kesulitan hidup dapat menemukan solusinya lewat gotong-royong, saling membantu dengan sesamanya.

Pada tahun 1922, di Bandung diadakan rapat rakasa, Radicale Concentratie. Saat itu Soekarno menjadi mahasiswa di Sekolah Teknik Tinggi di Bandung. Di rapat ini orang-orang dari berbagai partai dan organisasi kebangsaan berkumpul bersama, memprotes berbagai persoalan yang terjadi. Namun, dalam pengamatan Soekarno: “Mereka semua membicarakan omong kosong. Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka tidak menuntut” (halaman 89).

Soekarno pun tampil beda dengan semangat yang menyala-nyala. Inilah kali pertama ia berpidato hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai Singa Podium. Berpidato dengan berapi-api sudah terbentuk sekian lama dalam angan-angan dan impiannya. Ketika kesempatan itu tiba, ia pun menyampaikan pidato yang membakar semangat para pendengarnya. Ia menghimbau agar orang-orang yang berkumpul di sana tidak melakukan “politik berlutut”, mengemis lewat petisi kepada pemerintah kolonial untuk mendirikan sekolah.

“Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mencari jalan keluar bagi perasaan- perasaan kita yang sudah penuh, maka saudara-saudara, nyonya-nyonya dan tuan-tuan, suatu saat akan terjadi pula ledakan dengan kita. Dan manakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saya menantang Pemerintah Kolonial yang membendung perasaan kita,” katanya (halaman 90).

Pidato yang berapi-api ini membuat Soekarno segera dikenal, namun harus berurusan dengan hukum. Presiden (disebut juga di buku ini sebagai Rektor Magnificus) dari Sekolah Teknik Tinggi di Bandung, Prof. Ir. G. Klopper M.E., memanggil Soekarno dan memberikan peringatan agar ia tak banyak berurusan dengan dunia politik, berkonsentrasi pada studi teknik yang ditempuhnya. Saat dipanggil, Soekarno berjanji untuk tidak berpidato lagi di hadapan rakyat banyak.

Saat diwisuda dan menerima ijazah, profesor itu menyatakan sesuatu yang tak akan dilupakan Soekarno seumur hidupnya: “Ir. Sukarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati” (halaman 95).

2. Utari, Inggit, dan Fatmawati


“Inggit dalam masa selanjutnya dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku. Dialah pendorongku. Dengan Inggit berada di sampingku aku melangkah maju memenuhi amanat menuju cita-cita.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 83, 84

Tiga istri Soekarno yang banyak dikisahkan di dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah Utari, Inggit, dan Fatmawati. Selain mereka bertiga, ada pula istri-istri Soekarno yang lain, namun tidak banyak dikisahkan di dalam buku ini. (Hartini, misalnya, hanya dikisahkan sekilas di halaman 18 dan 19, saat Soekarno menjamu beberapa tamu penting dari luar negeri.)

Utari, istri pertama Soekarno, adalah anak dari Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Waktu Soekarno sekolah di HBS, ia tinggal sebagai anak kos (saat itu istilahnya “bayar makan”) di rumahnya. Tak lama setelah istri Pak Tjokro meninggal, seorang saudara Pak Tjokro memberi saran kepada Soekarno agar menghibur Pak Tjokro dengan menikahi Utari, anaknya, yang baru berumur 16 tahun.

Perkawinan mereka tidak bahagia. Soekarno menyatakan, “Aku ingin diibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Manakala bajuku koyak, aku ingin isteriku menambalnya. Dengan Utari keadaannya terbalik. Aku yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak” (halaman 79). Akhirnya, Utari dikembalikan kepada ayahnya pada tahun 1922, setahun setelah Soekarno menikah dengannya.

Di Bandung, Soekarno bertemu dengan Inggit Ganarsih, istri Haji Sanusi. Inggit adalah ibu kos Soekarno saat ia kuliah di Sekolah Teknik Tinggi di Bandung. Haji Sanusi, dalam pemandangan Soekarno adalah suami yang tidak bertanggung jawab, suka berjudi dan main bilyar. Kedekatan mereka berdua akhirnya membuat Haji Sanusi dan Inggit bercerai. Inggit pun menjadi milik Soekarno.

“Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari isteriku yang masih gadis kepada isteri lain yang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannya karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah mengetahuinya.

“Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan ini sangat mencintaiku” (halaman 83).

Soekarno sangat bahagia dengan kehadiran Inggit. Cita-cita politik Soekarno makin tajam pada tahun-tahun pernikahannya dengan Inggit. Saat menikah dengan Inggit, Soekarno pun melalui tahun-tahun yang sulit: dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin; diasingkan ke Pulau Bunga, Ende; lalu diasingkan ke Bengkulu. Inggit setia mendampingi Soekarno di saat-saat ini, menjadi pelipur lara yang tabah.

Namun, satu hal yang menyedihkan Soekarno adalah kemandulannya.

Saat diasingkan di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati yang umurnya lebih muda 22 tahun darinya. Hubungan ini membuat Inggit cemburu dan minta cerai. Puncak perkelahian mereka terjadi pada suatu malam setelah Soekarno menemani seorang kawannya ke Rumah Geisha: “Sekembali di rumah, Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah cangkir mengenai pinggir kepalaku” (halaman 287-288).

Perpisahan Soekarno dengan Inggit tidak banyak diceritakan dalam buku ini. Namun, saya sedih juga membaca bagian ini:

“Setelah perceraian telah disepakati bahwa Inggit kembali ke kota kelahirannya…. Hatiku senantiasa dekat pada isteriku dan aku tidak akan membiarkannya pergi seorang diri. Karena itu Inggit kutemani. Hari sudah tinggi ketika kami kembali dalam keadaan letih, merasa badan kami tidak enak, dan sesampai di rumah kami mendapati serombongan wanita yang akan bertamu kepada Inggit. Sejam lamanya mereka berkunjung, sekalipun tidak banyak yang dipercakapkan. Kuingat di waktu itu aku merasakan kegelisahan yang amat sangat. Saat yang melelahkan sekali. Kemudian aku mengiringkan Inggit ke Bandung, membongkar barang-barangnya, meyakinkan diri kalau-kalau ada sesuatu yang kurang, lalu aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya” (halaman 288-289).

Inggit mendampingi Soekarno pada saat-saat ia berjuang meraih kemerdekaan, menemukan visi atas bangsa yang dipimpinnya. Fatmawati mendampingi Soekarno pada saat-saat revolusi sedang sangat bergejolak: sejak masa pendudukan Jepang hingga agresi militer Belanda. Keduanya berperan penting, walau bagi saya sosok Inggit tetap lebih menarik.

Dengan Fatmawati Soekarno bahagia karena memiliki anak. Pada bulan Juni 1943, ia mendapatkan anaknya yang pertama, Guntur Soekarnoputra. Dari Fatmawati, lahir pula empat anak Soekarno lainnya. Fatmawati menjahit bendera merah putih yang dikibarkan saat Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

3. Soekarno, Pelacur, dan Kita


“Pak, kami merasa bahagia karena rakyat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah akan kami pindahkan gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” jawabku. “Biarkanlah aku di sana.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 4-5)

Pelacur berperan penting dalam perjuangan Soekarno mewujudkan visinya. Mungkin hal ini aneh atau tabu di mata sebagian orang. Tapi, memang demikianlah adanya yang tertulis di buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini.

Dalam catatan kali ini, saya melakukan hal yang berbeda dengan dua catatan pendek sebelumnya. Bila dua catatan sebelumnya semata-mata bertumpu pada buku Soekarno itu, kali ini saya akan menggunakan beberapa hal lain seputar pelacur untuk dijadikan bahan refleksi.

Pada 4 Juli 1927, dengan dukungan enam orang kawannya dari Algemeene Studieclub Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sejak saat itu, Soekarno semakin sering berpidato. “1928 adalah tahun propaganda dan pidato,” katanya (halaman 113). Karena sering muncul di hadapan publik, ia menjadi sasaran Belanda.

“Mereka mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat tipis harapanku agar bisa luput dari intipan ini. Kalau para pemimpin dari kota lain datang, aku harus mencari tempat rahasia untuk berbicara. Seringkali aku mengadakan pertemuan penting di bagian belakang sebuah mobil dengan merundukkan kepala. Dengan begini polisi tidak dapat mendengar atau melihat apa yang terdjadi. Kami harus menjalankan cara penipuan yang demikian itu” (halaman 115).

Karena sering sembunyi-sembunyi, Soekarno pun menemukan lokalisasi atau tempat pelacuran sebagai tempat yang aman untuk mengadakan rapat dengan teman-teman separtainya. Kadang mereka pergi sendiri-sendiri, kadang dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka berada di sana pada jam 8 atau 9 malam. “Dalam gerakan PNI-ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh daripada anggota lain yang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata yang jempolan, berilah aku seorang pelacur yang baik. Hasilnya mengagumkan sekali dalam pekerjaan ini. Tak dapat dibayangkan betapa bergunanya mereka ini” (halaman 117).

Pelacur-pelacur ini dimanfaatkan Soekarno untuk menggoda polisi Belanda. Bila berhasil menggoda, para pelacur pun mulai beraksi, mengorek semua keterangan yang berkaitan dengan “dapur” politik Belanda, terutama yang berkaitan dengan aktivitas Soekarno.

***

Dalam buku ini Soekarno mengaku pernah membaca Alkitab, terutama saat berada di penjara Sukamiskin: “Aku membaca dan membaca kembali Injil. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak asing lagi bagiku. Aku seringkali mengulang mempelajarinya” (halaman 158). Saya tidak tahu pasti, apakah ia pernah membaca tentang Rahab, seorang pelacur di kitab Yosua, di Perjanjian Lama, yang dimanfaatkan dua pengintai Israel untuk memata-matai penduduk Yerikho sebelum mereka menyerang kota itu.

Lalu, di Perjanjian Baru, di Injil Yohanes, juga dikisahkan tentang Yesus yang mengampuni seorang wanita yang tertangkap basah melakukan dosa zinah yang hendak dirajam beramai-ramai. Yesus hanya menulis di tanah, juga tak melemparinya batu.

Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa pelacur adalah sampah masyarakat. Namun, di mata Soekarno, kedudukan mereka tetap memiliki martabat. Ini yang mempertegas lagi suatu kebenaran berharga yang kadang diabaikan oleh banyak orang: seseorang dilihat bukan dari statusnya, tapi dari kemampuan yang dia miliki dan manfaat yang ia berikan lewat hidupnya.

Saya jadi teringat Iwan Fals yang pernah menulis sebuah lagu berjudul “Lonteku”. Salah satu penggalan liriknya berbunyi: “Lonteku, terima kasih atas pertolonganmu di malam itu.”

Terakhir, saya pun jadi teringat pada lagu “Kupu-kupu Malam” yang dinyanyikan Titiek Puspa. Sepenggal lirik di lagu ini, kiranya menjadi cermin bagi kita yang memandang hina para pelacur:

“Dosakah yang dia kerjakan? Sucikah mereka yang datang?”

4. Revolusi dan Pemerintahan Baru: Yang Menggetarkan dan Menggelikan


Bab paling menggetarkan di buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah bab ke-27, “Revolusi Mulai Berkobar”. Di bab ini Soekarno mengisahkan pesta kecilnya saat diangkat menjadi presiden tak lama setelah Indonesia merdeka. Badannya sedang tidak sehat waktu itu, di jalan dia bertemu tukang sate yang tidak mengenakan baju. Dia memesan sate 50 tusuk, jongkok di tepi jalan, dan memakan satenya dengan lahap.

Setelah merdeka, masalah baru pun muncul. Belanda membonceng Sekutu, datang lagi ke Indonesia. Di Jakarta, ketegangan terjadi di mana-mana. Pada bulan September dan Desember 1945 ada 8000 rakyat yang telah terbunuh untuk mempertahankan kemerdekaan.

Saat pergi ke Surabaya, Soekarno menyaksikan hal-hal mengerikan: “Kota itu menjadi kota neraka. Di setiap penjuru jalan terjadi pertempuran hebat satu-lawan-satu. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Tubuh-tubuh yang telah dipenggal dan dicincang bertumpuk-tumpuk, yang satu di atas yang lain. Kematian sedang bersimaharajalela di jalan-jalan. Rakyat Indonesia menembak-nembak, menikam dan membunuh dengan galak” (halaman 353).

Di Surabaya, Soekarno meminta rakyat untuk menghentikan perang. Ia mengupayakan perundingan dengan pihak Sekutu dan Belanda untuk melaksanakan gencatan senjata. Namun, peperangan besar pada 10 November 1945 tidak dapat dielakkan. “10 November dimulailah serangan balasan kami…. Di jalan-jalan perempuan dan anak-anak dibom, orang-orang tua ditembaki dari udara. Jalan keluar tertutup oleh timbunan mayat yang tidak bisa diangkat oleh karena hujan bom terus-menerus tak henti-hentinya selama berhari-hari” (halaman 355).

***

Jakarta dan Surabaya menjadi bulan-bulanan Belanda dan Sekutu. 4 Januari 1946, Soekarno pun memutuskan untuk memindahkan ibukota RI ke Yogyakarta. Di Yogyakarta inilah ia mulai membentuk sistem pemerintahan. Banyak kejadian lucu yang dikisahkan di sini.

Misalnya, keterbatasan orang-orang yang ditunjuk Soekarno untuk menduduki jabatan tertentu. Mereka dulunya orang-orang desa yang sederhana, dan kemudian diberi tanggung jawab untuk mengemban tugas di republik yang baru. Salah satunya adalah dr. Leimena yang diangkat menjadi menteri. Soekarno pernah bertemu Leimena semasa perang, dokter itu mengobati sakit kepalanya. Mereka bertemu lagi setelah merdeka. Leimena disebut Soekarno sebagai “… salah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui…. seorang yang jujur seperti Yesus dari Nazaret” (halaman 369).

Kekayaan Leimena tidak banyak. Lucu sekali, Soekarno menyebutnya hanya memiliki sehelai celana dalam. “Bajunya tidak lebih dari dua helai…. Satu dipakainya, satu masuk cucian” (halaman 369).

Hal menggelikan lainnya adalah kisah tentang ajudan Soekarno yang pertama di halaman 373. Karena dia ajudan presiden, dia diberi pangkat letnan; dulunya dia preman. Seorang penasehat Soekarno menyeletuk, “Ini tidak mungkin. Ratu Juliana dari Negeri Belanda yang memerintah 10 juta manusia mempunyai ajudan seorang kolonel. Bagaimana pandangan orang nanti melihat Soekarno, presiden RI yang memerintah 70 juta, dengan ajudan yang hanya berpangkat letnan?”

“Betul juga,” kata Soekarno. “Sudah berapa lama engkau menjadi letnan?”

“Satu setengah jam, Pak.”

“Nah, negara kita ini baru lahir dan tumbuhnya cepat. Mulai sore ini engkau menjadi mayor.”

Ada juga kisah lucu tentang rakyat yang tidak tahu benar apa itu “merdeka” di halaman 374. Rakyat cuma tahu: setiap orang merdeka, dan dengan seenaknya mereka naik kereta api. Waktu mereka diminta membayar, ada yang bingung dan menampakkan wajah heran: “Lho, kita kan sudah merdeka?”

Demikian pula dengan kisah ujian untuk masuk Angkatan Udara di halaman 375. Angkatan Udara dimulai dari beberapa buah pesawat terbuat dari kayu yang sudah bobrok. Pertanyaan satu-satunya yang diajukan untuk orang yang berminat menjadi Angkatan Udara adalah: “Saudara berani naik pesawat terbang kita?” Kalau dia menjawab iya, maka diterimalah dia di Angkatan Udara.

5. Soekarno dan Wanita


Hal yang paling menggelikan namun sekaligus mengejutkan dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini adalah pandangan dan kisah-kisah Soekarno tentang wanita. Ia banyak menyampaikan tentang hal ini di bagian awal dan menjelang akhir buku.

Saat berkunjung pertama kali ke Amerika pada tahun 1956, ia menyatakan bahwa satu hal yang paling berbeda antara dirinya dengan Amerika adalah cara pemilihan tokoh politik untuk memegang pemerintahan.

“Cara orang Amerika adalah bersalaman dengan para ibu dan mencium anaknya. Cara Soekarno: bersalaman dengan anaknya dan mencium ibunya,” katanya (halaman 418).

Cara penyambutan tamu di Irian Barat juga sangat mengesankan Soekarno karena adanya peran wanita yang erotis. “Di Irian Barat seorang gadis setengah telanjang berdiri di jalan masuk ke desa dan para tamu diharapkan mencium susunya. Secara simbolis mereka memberi tamu memakan susu ibu sebagai bentuk persembahan yang paling murni. Seorang kawan telah disambut menurut adat ini, kemudian berkelakar kepadaku: ‘Haaa, Pak, sekarang sekarang kami mengerti mengapa bapak mati-matian memperoleh kembali Irian Barat!'” (halaman 420)

Saat Soekarno ada di Amerika, ia berjalan-jalan di toko serba ada. Nyonya Eric Johnston, janda dari raja film, menemani Soekarno ke sebuah toko besar di California. Saat berada di sana, ia teringat pada pesan istrinya, minta dibelikan kutang (halaman 419-420):

“Gadis penjual itu mengambil beberapa buah (kutang), akan tetapi aku lupa ukuran istriku. Akhirnya Nyonya Johnston mendesak dengan hormat, ‘Paduka yang Mulia dipersilakan memilihnya.’

“Apakah bisa dikumpulkan ke sini semua gadis penjual, supaya aku bisa menentukan ukurannya?

“Maka berpawailah gadis-gadis itu di hadapanku dan dengan caraku yang sangat sopan aku meneliti mereka satu demi satu sambil berkata, ‘Tidak, engkau terlalu kecil… Oh, engkau kebesaran…’ Kemudian aku menunjuk seorang wanita dan menyatakan, ‘Ya, engkau cocok sekali. Saya akan mengambil ukuranmu. Tolonglah.’

“Ternyata kemudian barang itu sangat pas pada istriku.”

***

Bila membaca buku ini, pada bagian awal pun kita akan segera tahu bahwa kesukaan Soekarno adalah wanita. Ia memilih Cindy Adams sebagai penulis otobiografi-nya karena mudah terkesan dengan wanita ini. Di kaver belakang buku ini ditunjukkan foto mereka berdua yang sedang berbicara. Cindy Adams sungguhlah seorang wanita yang cantik.

Di bagian awal buku ini, Soekarno tampaknya berang karena pandangan pers yang miring kepadanya. Ia seolah-olah ingin menyatakan bahwa menyukai wanita adalah hiburan tersendiri baginya. Ia pun menyampaikan semacam alasan (sekaligus apologi) untuk hal ini (halaman 11-12), bahwa hal-hal demikian dilakukannya agar hidupnya menjadi bahagia:

“‘Majalah Tuan ‘Time’ dan ‘Life’ terutama sangat kurang ajar terhadap saya,’ katanya kepada Presiden Kennedy. ‘Coba pikir, ‘Time’ menulis: Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu. Selalu mereka menulis yang jelek-jelek.’

“Sekalipun aku dan Presiden Kennedy telah mengadakan pertemuan pendapat, persetujuan dalam lingkungan kecil ini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat. Masih saja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengejar cinta.

“Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tudukkan padaku. Di Tokyo aku telah pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu yang melanggar susila mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekadar duduk, makan-makan, bercakap-cakap dan mendengarkan musik. Hanya itu. Akan tetapi dalam majalah-majalah Barat digembar-gemborkan seolah-olah aku ini Le Grand Seducteur.

“Tanpa hiburan-hiburan kecil ini aku akan mati. Aku mencintai hidup. Orang-orang asing yang mengunjungi istanaku menyatakan bahwa aku menyelenggarakan ‘suatu istana yang menyenangkan’. Ajudan-ajudanku mempunyai wajah-wajah yang senyum. Aku berkelakar dengan mereka, menyanyi dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, nyanyian dan sedikit hiburan kadang-kadang, aku akan dibinasakan oleh kehidupan ini. Umurku sudah 64 tahun. Menjadi Presiden adalah pekerjaan yang membikin orang lekas tua…. Karena itu, sesekali aku harus lari dari keadaan ini, supaya aku dapat hidup seterusnya.

“Banyak kesenangan yang sederhana telah dirampas dariku. Misalnya, di masa kecilku aku telah mengelilingi pulau Jawa dengan sepeda. Sekarang perjalanan semacam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang yang akan mengikutiku.”

6. Hidup di Hati Rakyat

“Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburkanlah Bapakmu menurut agama Islam dan di atas batu kecil engkau tulislah kata-kata sederhana: Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, halaman 472

Soekarno kadangkala pergi tanpa tanda pengenal ke tempat-tempat di mana rakyat berkumpul. Dengan berkemeja dan kacamata hitam, ia merasa dirinya lain, tak mudah dikenali. “Kududuk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanku (sate) dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat yang menyenangkan” (halaman 14).

Suatu hari ia pergi bersama seorang komisaris polisi. Mereka berputar-putar di tengah rakyat dan tak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Ia bertemu dengan seorang laki-laki dan berkata, “Dari mana diambil batubata ini dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?”

Sebelum pria itu menjawab, seorang perempuan berteriak setelah mendengar suara Soekarno: “Heee… itu suara Bapak! Orang ini Bapak!” Tak lama kemudian ratusan lalu ribuan orang berdatangan dari segala penjuru (halaman 14).

Soekarno juga suka minum kopi, minuman rakyat. Ia suka mengajak kawan-kawannya minum kopi. Tak lama setelah ia menjadi pimpinan PNI, ada sebuah kisah yang menarik tentang kopi. Ia kedatangan teman, namanya Sutoto. Ia sedang tak punya uang untuk mengajak temannya itu minum kopi. Saat mereka lagi mengobrol, seorang wartawan lewat di depan rumahnya. Wartawan itu sedang mencari tulisan untuk korannya. Soekarno menawarkan diri menulis.

Soekarno tawar-menawar dengan wartawan itu: berapa honor tulisannya. Akhirnya tercipta sepakat, ia dibayar 2 rupiah. Ia membuatkan tulisan untuk wartawan itu selama 15 menit. Setelah tulisan itu jadi, ia pun mengajak Sutoto dan Inggit, istrinya, minum kopi dan makan peuyeum (halaman 120).

Soekarno memang suka menulis sejak remaja, saat ia bersekolah di HBS, Surabaya. Ia menulis untuk majalah Sarekat Islam, “Oetoesan Hindia”. Ia sering menggunakan nama samaran karena tulisan-tulisannya menentang kolonialisme Belanda. Ia berkata ada 500 lebih tulisannya di majalah-majalah itu (halaman 68). Saat dibuang di Pulau Bunga, Ende, Soekarno menulis 12 cerita sandiwara pada tahun 1934-1938 (halaman 181).

***

Saat menjadi presiden, Soekarno juga sering mengundang orang-orang minum kopi. Ia mengadakan jam kerja terbuka. “Pagi-pagi dari jam 7 sampai jam 9 puluhan orang yang tidak diundang secara resmi turut minum kopi. Mereka adalah menteri-menteri, penasehat, pembesar tinggi, atau penerbit yang baru kutugaskan mencetak Injil dalam bahasa Indonesia, atau pemahat patung yang baru saja ditunjuk untuk menciptakan monumen Angkatan Bersenjata, atau arsitek yang minta persetujuan rencana gedung bertingkat yang baru….” (halaman 440).

Soekarno adalah bapak bangsa yang hidup dengan kemelaratan dan kemiskinan pada masa kecilnya. Ia adalah wakil yang ideal dari kondisi rakyat jelata pada zamannya. Inilah yang tampaknya tidak bisa ia lupakan sepanjang hayatnya, bahkan ketika ia sudah menjadi presiden. Rakyat jelata selalu ada di hati Soekarno. “Aku adalah kepunyaan rakyat. Aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada di antara mereka,” katanya (halaman 11-12).

“Aku ingin bercampur dengan rakyat. Itulah yang menjadi kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku” (halaman 13).

***

Penutup

21-03-2013, hari terakhir membaca “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Lega rasanya menamatkan buku ini dalam dua minggu. Tidak banyak buku yang meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca — buku ini adalah salah satunya. 

Otobiografi selalu perlu ditelaah dengan cara membandingkannya dengan buku atau sumber lain — tidak ditelan mentah-mentah. Oleh karena itulah hal-hal yang masih perlu dikaji lebih jauh (terutama secara akademis) tidak saya tampilkan di sini. Misalnya, perbedaan pendapat antara Soekarno dengan Hatta atau Syahrir. Di buku ini beberapa kali disebutkan bahwa Soekarno selalu berseberangan pemikiran dengan keduanya. Saya berharap ada waktu khusus bagi saya untuk membaca lebih banyak tentang “perseteruan” mereka di panggung politik.

Sidik Nugroho, Maret 2013

Tuesday, August 2, 2016

Luka Sejarah dalam Cerita

Kritikus tak selalu tulus. Kritik dapat lahir dari ketidaksukaan semata, perasaan disaingi, atau ketidakmampuan menilai dengan jernih. Itulah yang terjadi pada Pak Orok—nama samaran, bukan nama sebenarnya—yang mengkritik buku yang baru saja terbit, ditulis pengarang muda bernama Ishak. Kritik yang dimuat surat kabar itu, oleh Ishak dianggap memutarbalikkan maksudnya yang sebenarnya sehingga ia dianggap pengkhianat oleh rakyat.

Anggapan Ishak itu ia sampaikan kepada Satilawati, tunangannya. Karena kritik itu, Ishak memutuskan pergi, menjauh dari keramaian. Ishak jadi kecil hati, ia telah mengorbankan banyak uangnya agar bukunya itu terbit, dan ia merasa sudah melahirkan karya baru yang mewakili semangat zamannya. Ia pun beranggapan, Satilawati tidak akan selalu mendukungnya—“Tunangan pengarang tentu tidak suka membaca roman tunangannya sendiri” (halaman 25). Tapi Satilawati tidak rela bila Ishak pergi meninggalkannya, sudah telanjur mencintainya, walaupun Ishak menganggap akan ada orang lain yang akan mencintai gadis itu. Satilawati pun jengkel, menyebut Ishak pengarang pengecut: “Sedikit diserang kritik orang, engkau hendak melarikan diri” (halaman 27).

Itulah bagian awal kisah dalam cerita “Kejahatan Membalas Dendam” (KMD) yang berupa drama empat babak. Cerita atau drama ini adalah cerita terpanjang di buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus, mungkin sama panjangnya dengan cerita berjudul “Surabaya”. Sebelum cerita sampai di tengah, pembaca sudah diberitahu, bahwa Pak Orok tak lain adalah ayah Satilawati. Ia juga seorang pengarang, tapi oleh Ishak dianggap kolot.

KMD dan sebelas cerita lain di buku ini menyuguhkan kisah-kisah yang terjadi saat Indonesia belum dan sudah merdeka. Menarik, ada beberapa cerita dengan tokoh utama pengarang di buku ini. Sosok pengarang yang muncul dalam tiga cerita, yaitu KMD, “Ave Maria” (AM), dan “Jalan Lain ke Roma” (JLkR) bernasib kurang mujur.

Di KMD, pengarang memiliki kemungkinan dikucilkan dan gagal menikah. Di AM, cerita pertama di buku ini, dikisahkan Zulbahri, seorang mantan pengarang yang “karyanya banyak juga diterbitkan”, tapi “belum dikenal umum” (halaman 16). Ia menikah dengan Wartini, dan di bulan kedelapan setelah menikah, sepasang manusia itu kedatangan orang yang berpeluang merenggut cinta mereka. Zulbahri hidup seperti orang gila setelah rumah tangganya terancam bubar. Di JLkR, Open, pengarang yang berkali-kali berganti-ganti profesi pernah digebuki penguasa setelah karyanya dianggap membahayakan.

Pilihan Idrus menghadirkan beberapa cerita tentang pengarang sangat mungkin terpengaruh oleh kehidupannya sendiri. Di KMD, terbaca apa yang menjadi hasratnya: “Pengarang-pengarang muda Indonesia ini sedang menyiapkan diri untuk menyambut Indonesia merdeka... Pengarang muda Indonesia sekarang selalu berusaha menciptakan hasil kesusasteraan internasional, diakui oleh seluruh dunia... kedudukan pengarang-pengarang Indonesia merdeka harus sama dengan kedudukan pengarang-pengarang negara lain” (halaman 73).

***

Buku ini berisi dua belas cerita yang dibagi dalam tiga bagian. Pertama Zaman Jepang, terdiri dari satu cerita berjudul “Ave Maria” dan satu naskah drama berjudul “Kejahatan Membalas Dendam”. Kedua Corat-Coret di Bawah Tanah, terdiri dari tujuh cerpen, yaitu “Kota-Harmoni”, “Jawa Baru”, “Pasar Malam Zaman Jepang”, “Sanyo”, “Fujinkai”, “Oh... Oh... Oh!”, dan “Heiho”. Ketiga Sesudah 17 Agustus 1945, terdiri dari tiga cerpen, yaitu ”Kisah Sebuah Celana Pendek”, “Surabaya”, dan “Jalan Lain ke Roma”.

Cerpen-cerpen di bagian Corat-Coret di Bawah Tanah memotret ketidakadilan sosial yang menindas rakyat Indonesia pada zaman Jepang. “Di Bawah Tanah”—tiga kata yang digunakan untuk menampung tujuh cerpen di dalamnya, sangat mungkin terilhami situasi yang melanda rakyat Indonesia pada masa itu: Jepang menugasi banyak mata-mata di mana-mana saat menduduki Indonesia.

Kisah tentang mata-mata—atau intervensi diam-diam Jepang dalam banyak aspek kehidupan—ada di cerpen “Fujinkai” dan “Sanyo”. Di cerpen “Fujinkai”, tokoh utamanya, Nyonya Sastra, mengadakan semacam rapat, mengundang ibu-ibu datang ke rumahnya. Di situ ia berpidato, dan pidatonya semata-mata tentang kehebatan Jepang. Dalam cerpen “Sanyo” dikisahkan penjual kacang dan es lilin yang mengobrol tentang “sanyo”, penasihat di tiap-tiap departemen semasa Jepang berkuasa. Obrolan itu membuat Kadir, si penjual kacang bertanya-tanya, apa atau siapa sebenarnya “sanyo”? Sampai seorang pembeli datang kepadanya dan si penjual es lilin, dan kedatangannya membuatnya terancam karena ia adalah mata-mata.

Dalam cerpen “Kota-Harmoni” dikisahkan tentang orang Jepang yang merasa superior saat menumpang sebuah trem bau terasi, juga diisi orang-orang dari berbagai kalangan. Cerpen “Jawa Baru” sangat terasa nuansa retorisnya, latarnya saat Jepang mulai menguasai Jawa. Lewat cerpen itu, Idrus mengkritik pemerintah Jepang yang merampas hasil bumi, terutama beras, sehingga rakyat sengsara: “Kehidupan susah di Jakarta, di Plered, di seluruh Pulau Jawa. Semua orang menengadahkan tangan ke langit, minta rezeki dari Tuhan yang mahakuasa, seperti Tuhan lupa memberi mereka rezeki. Setiap tahun padi menguning juga, beras digiling juga, Tuhankah yang salah?” (halaman 89).

Cerpen bernuansa satir paling kental adalah “Pasar Malam Zaman Jepang” dan “Oh... Oh... Oh...!”. Di cerpen pertama dikisahkan tentang seorang pria kurus yang bernasib malang karena kalah main rolet (semacam judi) yang diselenggarakan “dengan bantuan Sendenbu” (halaman 90). Sendenbu adalah barisan propaganda milik Jepang, kegiatan-kegiatan yang mereka bantu adakan bermacam-macam: sandiwara, musik, juga olahraga. Ia mempertaruhkan semua hartanya, bahkan menjual bajunya, celananya, untuk berjudi. Sampai akhirnya yang melekat di badannya hanya celana pendek dan kaus dalam. Di cerpen kedua dikisahkan perempuan muda yang menyembunyikan beras di balik kutang, dan berasnya diambil orang yang menyamar sebagai agen polisi.

Cerita-cerita dalam bagian Corat-coret di Bawah Tanah memang lucu namun mengentak kesadaran, mengundang simpati. Tapi, beberapa cerita terkesan buru-buru. Ada yang retorikanya terasa lebih kental ketimbang realitas yang berusaha disuguhkan. Ada juga tokoh yang mengambil peran penting dalam plot atau esensi cerita, tapi dikisahkan sedikit saja latar belakang atau kehadirannya. Laki-laki yang mengaku sebagai mata-mata dan mendatangi Kadir si penjual kacang dan penjual es lilin dalam “Heiho” tidak diberi deskripsi atau narasi sebelum kedatangannya yang mendadak. Agen polisi dalam cerita “Oh... Oh... Oh...!” pun hanya disebut sekali sebelum ia mendatangi wanita di kereta, tanpa embel-embel identitas atau keterangan lain yang membuat pembaca bisa lebih mahfum pada tindakannya. Mungkin, itulah alasannya Idrus melabeli cerita-cerita itu sebagai “Corat-Coret”.

Cerita yang berhasil mengangkat benda menjadi simbol perjuangan adalah “Kisah Sebuah Celana Pendek”. Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana baru agar ia sukses melamar pekerjaan sebagai juru tulis. Tapi Kusno tak meraih impian menjadi juru tulis. Ia menurunkan harapannya: dari juru tulis menjadi portir, dari portir menjadi opas. Menjadi opas membuat celana barunya makin lama makin rusak. Malang nasib Kusno, kesusahan yang beruntun dan gaji yang kecil membuatnya tak mampu membeli celana baru.

Cerpen “Surabaya” mengisahkan pergolakan yang terjadi di Surabaya saat revolusi besar-besaran terjadi. Cerita ini mendapatkan komentar paling banyak dari H.B. Jassin yang menulis Pengantar (Kata Pendahuluan) di cetakan keenam, bahwa lewat ceritanya Idrus mengkritik dengan menuliskan realitas yang terjadi pada masa itu (halaman 8).

Apa yang Idrus lakukan dianggap H.B. Jassin sebagai suatu terobosan, bahwa pengarang tidak boleh terjebak pada “sentimen-sentimen yang chauvinstis” (halaman 8-9). Pemuda-pemuda Indonesia disebutnya bertingkah seperti koboi (disebut “cowboy”), salah satunya: “... penduduk Surabaya bertindak seperti cowboy-cowboy dalam cafe-cafe, menciumi gadis-gadis dan revolvernya...” (halaman 140). Cerpen “Surabaya”, dengan demikian, muatan ideologisnya merupakan wujud dari yang dinyatakan sosok pengarang dalam drama “Kejahatan Membalas Dendam”—bahwa pengarang, sedapat mungkin menyuguhkan cerita yang realistis, mewakili suasana dan kehidupan zamannya.

***

Dalam cerita-cerita Idrus, beras sebagai makanan pokok begitu berharga di zaman itu. Rakyat bertani, tapi beras diambil pemerintah. Hiburan, olahraga, musik, bahkan dikuasai pemerintah dan menjadi alat propaganda. Salah bicara, salah bertanya, nasib naas menanti; dan kematian menjadi hukuman yang tampak begitu mudah diberikan bagi pelanggaran yang terhitung ringan. Membeli celana baru bahkan sangat susah dan mahal. Bahkan di rapat-rapat kecil, pidato yang disampaikan kepada yang hadir di rapat sudah didikte Jepang.

Cerpen-cerpen Idrus menjadi rekam-jejak yang menyadarkan kita bahwa bangsa ini sebenarnya tidak kalah di bawah kekuasaan asing. Kekayaan bumi kita dirampas, rakyat kita takluk dan dibunuhi—kita orang-orang kalah. Namun semangat hidup dan keinginan merdeka tidak pernah pudar. Di sejarah versi para penguasa atau penindas yang menang, cerita-cerita ini menjadi lawan. Seperti yang dikatakan Emha Ainun Najib dalam sebuah cuitannya di Twitter beberapa tahun silam: “Sejarah adalah milik mereka yang menang. Pengetahuan kita tentang Hitler tergantung pada siapa yang mengalahkan Hitler.”

Cerpen-cerpen Idrus hampir semuanya bernada humor, walaupun di balik humor itu tragedilah yang terjadi dan berusaha ia sajikan. Humor dalam ceritanya tak membuat kita tergelak-gelak, tapi merenung. Sejarah menorehkan luka di masa lalu, dan Idrus telah menjadi saksi yang peka dan peduli, menulis cerita-cerita itu agar pembaca di masa kini tak lupa—bahwa untuk menjadi bangsa merdeka, dulu kita benar-benar sengsara. (*)

Data Buku:

Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun: 1978
Tebal: 167 halaman

Review buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus, ditulis Sidik Nugroho, Juli 2016

Tuesday, June 7, 2016

Harta Warisan dan Genderuwo

Indonesia negeri yang luas; keragaman suku, sejarah, budaya, bahasa, dan cerita-cerita yang ada di tiap daerahnya juga sangat beragam. Bisa dikatakan, di dunia ini Indonesia adalah negeri yang terkaya atau paling beragam dalam hal-hal itu bila melihat bentangan alamnya—banyak pulau, banyak wilayah. Keragaman itu semestinya menggerakkan kreator dari berbagai penjuru negeri untuk berkarya, salah satunya lewat cerita horor dengan sentuhan budaya komunitas atau masyarakat. 

Cerita horor memancing rasa penasaran seseorang tentang dunia lain dan kematian. Stephen King, dalam prakatanya di buku kumpulan ceritanya berjudul Night Shift menyatakan: "Mungkin hal tersebut (rasa penasaran pembaca) disebabkan berita buruk yang selalu dibawa penulis horor: 'Kau akan mati,' katanya." Dia menambahkan bahwa "... daya tarik besar fiksi horor dari zaman ke zaman adalah bahwa kisah-kisah menakutkan itu merupakan gladi kotor untuk kematian kita sendiri."

Makhluk-makhluk mengerikan, teror, kejahatan, dan kengerian adalah hal-hal yang umumnya ada pada cerita horor. Drakula, vampir, tuyul, atau makhluk mengerikan apa pun yang tak pernah disaksikan manusia dalam kehidupannya, dalam cerita horor menjadi hidup, seakan-akan diberi napas oleh para kreatornya. Manusia pun dikepung kengerian saat membaca atau menonton horor, namun mereka bertahan mengikuti kisah-kisah itu karena hatinya samar-samar menyadari, suatu ketika sebentuk ketakutan—dalam jenis dan cara yang lain—juga akan menghampiri mereka. Pengusiran kuasa dan pengaruh setan dalam film Exorcist dan Conjuring, makhluk-makhluk halus yang menghuni kuburan dalam The Graveyard Book karangan Neil Gaiman, seakan-akan hendak mempertegas suatu ide kepada para penikmat horor: dunia atau sosok yang tidak nyata barangkali nyata.

Ersta Andantino dalam karyanya berjudul Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa (setelah ini disebut Wuni saja) menyajikan seserpih kisah yang berhubungan dengan genderuwo, jin atau makhluk halus yang akrab di telinga banyak orang Jawa. Di novel Wuni, sosok genderuwo tidak muncul sebagai pusat cerita, hanya dikisahkan sekilas.

Cerita Wuni berawal dari kepulangan Jaka, tokoh utama, ke Klaten dari Bogor atas perintah pamannya bernama Pakde Sunar. Di Bogor, Jaka bekerja bersama rekannya bernama Yudhis membangun studio foto kecil-kecilan sambil menunggu lowongan pegawai negeri sipil dibuka. Kepulangannya ke Klaten berkaitan dengan penyerahan harta warisan dari Mbah Putri Sumi, salah satu istri kakeknya yang bernama Soentoro. Soentoro, sang kakek yang sudah almarhum adalah orang kaya-raya, beristri tiga, semasa hidup memiliki usaha dagang yang sukses dan tanah yang luas.

Kekayaan Soentoro diperoleh dengan bantuan magis genderuwo. Suatu ketika Soentoro menyerahkan Mbah Putri Sumi kawin dengan genderuwo; dari perkawinan itu lahirlah anak—setengah manusia, setengah makhluk gaib—yang hidupnya terjebak di dunia nyata dan alam gaib, tinggal di Alas Ledhok, Gunung Merapi.

Jaka adalah keturunan Soentoro yang diramalkan dan dipercaya akan mampu mengelola kekayaan Soentoro. Sejak lahir, Jaka membawa tanda yang diramalkan Soentoro: memiliki toh (semacam tompel) putih yang berbulu di punggung kirinya. Jaka dipercaya akan memulihkan kekayaan yang diperoleh Soentoro dari hasil berhubungan dengan makhluk gaib.

Jaka juga diramalkan akan mengelola kekayaan itu dengan bijak, sekaligus menjadi ahli waris terbesar: mendapat separo bagian keseluruhan harta warisan. Sosok Jaka menarik, menjadi masuk akal ketika ia ditakdirkan menjadi ahli waris: ayahnya guru yang jujur, tidak gila harta, membesarkan Jaka dalam kesederhanaan. Dengan latar belakang keluarga demikian, serta karakter pribadinya yang "lurus", Jaka tampil menjadi "penebus" bagi kekelaman masa lalu leluhurnya.

Kepulangan Jaka ke Klaten, ke Desa Wuni, tempat Mbah Putri Sumi tinggal, ternyata memicu reaksi negatif dari keluarga yang iri kepadanya, yakni Paklik Renggo. Reaksi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk serangan magis: paku-paku, bola api, atau perubahan cuaca secara mendadak di alam sekitar Jaka. Jaka juga harus berhadapan dengan seorang anak Paklik Renggo yang menculik dan menyembunyikannya saat ia mengurus berkas-berkas untuk peralihan warisan.

Di sinilah Ersta dengan apik membangun ketegangan dalam novelnya: konflik yang harus dihadapi Jaka berasal dari dunia gaib dan dunia nyata. Namun, ia tak sendiri menghadapi semua itu. Ia dibantu Yudhis, kawannya di Bogor yang suatu ketika mampir ke Klaten, dan seorang "utusan" yang misterius. Kehadiran "utusan" misterius yang juga menjadi magnet bagi cerita ini. Ia muncul secara terang-terangan, juga di dalam mimpi Jaka.

Selain itu, Ersta adalah pencerita yang tidak terburu-buru membangun ketegangan magis atau supranatural. Ia membangun narasi dan deskripsi yang memikat perihal tempat-tempat yang menjadi latar dalam cerita ini. Ketegangan magis sebenarnya sudah dimulai sejak bagian awal, saat ada sosok misterius yang duduk di samping Jaka dalam perjalanan di kereta. Namun, dalam perkembangannya, ketegangan itu muncul sedikit demi sedikit karena terpendam oleh dua konflik yang dihadapi Jaka: keluarga yang menentangnya mendapat harta warisan dan dua gadis yang memikat hatinya.     

Namun, novel yang dilabeli "a breath-taking true story" ini terkesan kabur kandungan kisah nyatanya. Apakah ini pengalaman seseorang yang dikisahkan kepada Ersta? Atau ada bagian-bagian tertentu saja yang benar-benar terjadi di sini, sementara yang lainnya rekayasa? Atau, yang nyata adalah ketegangan dalam dunia nyata dan magis yang dialami Jaka? Atau, yang nyata adalah perkawinan manusia dengan genderuwo? Sayang, pembaca tidak diberi keterangan apa-apa hingga novel berakhir di bagian Epilog. Hanya ada keterangan di bagian awal bahwa " kesamaan nama orang, tempat, dan yang lain hanya kebetulan semata."

Novel Wuni dibanjiri istilah, kata, dan dialog berbahasa Jawa (diberi keterangan berbahasa Indonesia di catatan kaki), menjadikannya kental dengan nuansa Jawa. "Wuni", selain merupakan nama desa, adalah nama pohon. Pohon ini buahnya kecil, mirip kopi, berwarna merah. Di beberapa tempat, pohon itu juga disebut "buni". Konon, di pohon inilah genderuwo suka tinggal.

Wuni patut disimak hingga akhir. Wuni memenuhi syarat sebagai novel horor yang umumnya menyajikan kejutan-kejutan tak terduga. Di karyanya ini Ersta berhasil membangun sebuah cerita yang khas: horor berpadu dengan cerita atau sosok genderuwo yang dikenal luas oleh masyarakat turun-temurun. (*)

Resensi oleh Sidik Nugroho

Judul: Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa | Penulis: Ersta Andantino | Penerbit: Javanica | Tahun: 2015 | Tebal: 332 halaman