Tuesday, June 7, 2016

Harta Warisan dan Genderuwo

Indonesia negeri yang luas; keragaman suku, sejarah, budaya, bahasa, dan cerita-cerita yang ada di tiap daerahnya juga sangat beragam. Bisa dikatakan, di dunia ini Indonesia adalah negeri yang terkaya atau paling beragam dalam hal-hal itu bila melihat bentangan alamnya—banyak pulau, banyak wilayah. Keragaman itu semestinya menggerakkan kreator dari berbagai penjuru negeri untuk berkarya, salah satunya lewat cerita horor dengan sentuhan budaya komunitas atau masyarakat. 

Cerita horor memancing rasa penasaran seseorang tentang dunia lain dan kematian. Stephen King, dalam prakatanya di buku kumpulan ceritanya berjudul Night Shift menyatakan: "Mungkin hal tersebut (rasa penasaran pembaca) disebabkan berita buruk yang selalu dibawa penulis horor: 'Kau akan mati,' katanya." Dia menambahkan bahwa "... daya tarik besar fiksi horor dari zaman ke zaman adalah bahwa kisah-kisah menakutkan itu merupakan gladi kotor untuk kematian kita sendiri."

Makhluk-makhluk mengerikan, teror, kejahatan, dan kengerian adalah hal-hal yang umumnya ada pada cerita horor. Drakula, vampir, tuyul, atau makhluk mengerikan apa pun yang tak pernah disaksikan manusia dalam kehidupannya, dalam cerita horor menjadi hidup, seakan-akan diberi napas oleh para kreatornya. Manusia pun dikepung kengerian saat membaca atau menonton horor, namun mereka bertahan mengikuti kisah-kisah itu karena hatinya samar-samar menyadari, suatu ketika sebentuk ketakutan—dalam jenis dan cara yang lain—juga akan menghampiri mereka. Pengusiran kuasa dan pengaruh setan dalam film Exorcist dan Conjuring, makhluk-makhluk halus yang menghuni kuburan dalam The Graveyard Book karangan Neil Gaiman, seakan-akan hendak mempertegas suatu ide kepada para penikmat horor: dunia atau sosok yang tidak nyata barangkali nyata.

Ersta Andantino dalam karyanya berjudul Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa (setelah ini disebut Wuni saja) menyajikan seserpih kisah yang berhubungan dengan genderuwo, jin atau makhluk halus yang akrab di telinga banyak orang Jawa. Di novel Wuni, sosok genderuwo tidak muncul sebagai pusat cerita, hanya dikisahkan sekilas.

Cerita Wuni berawal dari kepulangan Jaka, tokoh utama, ke Klaten dari Bogor atas perintah pamannya bernama Pakde Sunar. Di Bogor, Jaka bekerja bersama rekannya bernama Yudhis membangun studio foto kecil-kecilan sambil menunggu lowongan pegawai negeri sipil dibuka. Kepulangannya ke Klaten berkaitan dengan penyerahan harta warisan dari Mbah Putri Sumi, salah satu istri kakeknya yang bernama Soentoro. Soentoro, sang kakek yang sudah almarhum adalah orang kaya-raya, beristri tiga, semasa hidup memiliki usaha dagang yang sukses dan tanah yang luas.

Kekayaan Soentoro diperoleh dengan bantuan magis genderuwo. Suatu ketika Soentoro menyerahkan Mbah Putri Sumi kawin dengan genderuwo; dari perkawinan itu lahirlah anak—setengah manusia, setengah makhluk gaib—yang hidupnya terjebak di dunia nyata dan alam gaib, tinggal di Alas Ledhok, Gunung Merapi.

Jaka adalah keturunan Soentoro yang diramalkan dan dipercaya akan mampu mengelola kekayaan Soentoro. Sejak lahir, Jaka membawa tanda yang diramalkan Soentoro: memiliki toh (semacam tompel) putih yang berbulu di punggung kirinya. Jaka dipercaya akan memulihkan kekayaan yang diperoleh Soentoro dari hasil berhubungan dengan makhluk gaib.

Jaka juga diramalkan akan mengelola kekayaan itu dengan bijak, sekaligus menjadi ahli waris terbesar: mendapat separo bagian keseluruhan harta warisan. Sosok Jaka menarik, menjadi masuk akal ketika ia ditakdirkan menjadi ahli waris: ayahnya guru yang jujur, tidak gila harta, membesarkan Jaka dalam kesederhanaan. Dengan latar belakang keluarga demikian, serta karakter pribadinya yang "lurus", Jaka tampil menjadi "penebus" bagi kekelaman masa lalu leluhurnya.

Kepulangan Jaka ke Klaten, ke Desa Wuni, tempat Mbah Putri Sumi tinggal, ternyata memicu reaksi negatif dari keluarga yang iri kepadanya, yakni Paklik Renggo. Reaksi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk serangan magis: paku-paku, bola api, atau perubahan cuaca secara mendadak di alam sekitar Jaka. Jaka juga harus berhadapan dengan seorang anak Paklik Renggo yang menculik dan menyembunyikannya saat ia mengurus berkas-berkas untuk peralihan warisan.

Di sinilah Ersta dengan apik membangun ketegangan dalam novelnya: konflik yang harus dihadapi Jaka berasal dari dunia gaib dan dunia nyata. Namun, ia tak sendiri menghadapi semua itu. Ia dibantu Yudhis, kawannya di Bogor yang suatu ketika mampir ke Klaten, dan seorang "utusan" yang misterius. Kehadiran "utusan" misterius yang juga menjadi magnet bagi cerita ini. Ia muncul secara terang-terangan, juga di dalam mimpi Jaka.

Selain itu, Ersta adalah pencerita yang tidak terburu-buru membangun ketegangan magis atau supranatural. Ia membangun narasi dan deskripsi yang memikat perihal tempat-tempat yang menjadi latar dalam cerita ini. Ketegangan magis sebenarnya sudah dimulai sejak bagian awal, saat ada sosok misterius yang duduk di samping Jaka dalam perjalanan di kereta. Namun, dalam perkembangannya, ketegangan itu muncul sedikit demi sedikit karena terpendam oleh dua konflik yang dihadapi Jaka: keluarga yang menentangnya mendapat harta warisan dan dua gadis yang memikat hatinya.     

Namun, novel yang dilabeli "a breath-taking true story" ini terkesan kabur kandungan kisah nyatanya. Apakah ini pengalaman seseorang yang dikisahkan kepada Ersta? Atau ada bagian-bagian tertentu saja yang benar-benar terjadi di sini, sementara yang lainnya rekayasa? Atau, yang nyata adalah ketegangan dalam dunia nyata dan magis yang dialami Jaka? Atau, yang nyata adalah perkawinan manusia dengan genderuwo? Sayang, pembaca tidak diberi keterangan apa-apa hingga novel berakhir di bagian Epilog. Hanya ada keterangan di bagian awal bahwa " kesamaan nama orang, tempat, dan yang lain hanya kebetulan semata."

Novel Wuni dibanjiri istilah, kata, dan dialog berbahasa Jawa (diberi keterangan berbahasa Indonesia di catatan kaki), menjadikannya kental dengan nuansa Jawa. "Wuni", selain merupakan nama desa, adalah nama pohon. Pohon ini buahnya kecil, mirip kopi, berwarna merah. Di beberapa tempat, pohon itu juga disebut "buni". Konon, di pohon inilah genderuwo suka tinggal.

Wuni patut disimak hingga akhir. Wuni memenuhi syarat sebagai novel horor yang umumnya menyajikan kejutan-kejutan tak terduga. Di karyanya ini Ersta berhasil membangun sebuah cerita yang khas: horor berpadu dengan cerita atau sosok genderuwo yang dikenal luas oleh masyarakat turun-temurun. (*)

Resensi oleh Sidik Nugroho

Judul: Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa | Penulis: Ersta Andantino | Penerbit: Javanica | Tahun: 2015 | Tebal: 332 halaman

Tuesday, May 31, 2016

Mutilasi dan Dendam Masa Lalu

Resensi oleh Sidik Nugroho*)

Judul: Career of Evil (Titian Kejahatan)
Pengarang: Robert Galbraith
Penerjemah: Siska Yuanita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2016
Tebal: 552 halaman

DETEKTIF partikelir Cormoran Strike namanya kian melambung setelah memecahkan dua kasus yang dikisahkan dalam The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm. Keberhasilan detektif bertungkai palsu itu diberitakan di berbagai media. Namun, selalu begitu—ketika sebuah nama meroket, ada saja yang menghalangi laju terbangnya. Suatu ketika, Robin Ellacott, sekretaris Cormoran, menerima kiriman tungkai wanita.

Di bagian awal pembaca sudah disuguhi konflik menggigit: pelaku mutilasi terbaca jelas motifnya. Bahwa selain mengidap gangguan jiwa, ia membenci Cormoran. Kiriman itu jelas-jelas merupakan sindiran sekaligus tantangan bagi Cormoran. Pelaku mutilasi mengajaknya bermain petak umpet: kalau kau tidak bisa menangkapku, maka karirmu sebagai detektif akan merosot. Dan benar saja—satu demi satu klien yang mempercayakan tugas pengintaian kepadanya mundur.

Kiriman tungkai wanita itu menuntun Cormoran mencurigai empat orang di masa lalunya yang mempunyai kemungkinan melakukan tindakan brutal, sekaligus memiliki dendam kepadanya saat ia masih menjadi tentara: Terence “Digger” Malley, Noel Brockbank, Donald Laing, dan Jeff Whittaker. Selain Robin, Cormoran dibantu Detektif Polisi Wardle dan Shanker, kawan masa kecilnya, mencari jejak si pelaku.

Novel ini menggunakan tiga sudut pandang utama. Pertama Cormoran Strike, kedua Robin Ellacott, dan ketiga pelaku mutilasi yang misterius. Novel ini menjadi tebal karena investigasi yang dilaksanakan Strike terhadap para terduga pelaku mutilasi dikisahkan dengan rinci—penuh strategi yang membutuhkan kecerdikan, juga melibatkan beberapa orang yang berstatus keluarga atau kenalan mereka. Investigasi Robin, rekannya, juga dikisahkan dengan rinci ketika ia sedang tidak bersama-sama Cormoran. Yang menarik adalah ketika Robin menyamar menjadi pengacara kecelakaan bernama Venetia Hall saat mencaritahu tempat tinggal seorang terduga pelaku mutilasi. Ia pandai menyamar, membuat Cormoran terkesan.

Pembaca juga akan dibawa “berkelana” ke tempat-tempat yang “gelap”, seperti klub malam yang menyuguhkan hiburan penari telanjang, juga panti pijat dengan layanan khusus. Di panti pijat itu, Thai Orchid Massage, Cormoran mengeluarkan uang tidak sedikit mencari jejak seorang terduga pelaku mutilasi karena ia dulu pernah menjadi tukang pukul di situ. “Dua ratus tiga puluh pound untuk nomor telepon lama. Kuharap hasilnya sepadan” (halaman 253).

Rangkaian penyelidikan yang dikisahkan dalam novel ini—juga pilihan pengarang memasukkan sudut pandang pelaku mutilasi di dalam cerita—sesuai dengan sebuah aturan (rules) yang dinyatakan S.S. Van Dine dalam artikelnya berjudul “Twenty Rules for Writing Detective Stories” yang dimuat American Magazine (September, 1928). Ia menulis: “Pembaca harus memiliki kesempatan yang sama dengan detektif untuk memecahkan misteri. Semua petunjuk mesti dinyatakan dan digambarkan dengan jelas.” Pengarang sudah menyebutkan pelaku mutilasi sebelum cerita berakhir—di bagian tengah cerita—walaupun ada bagian yang tersembunyi karena ada tambahan penyelidikan di bagian akhir yang menjadi titik penentu penyibak misteri.

Novel detektif ini berhubungan dengan psikologi, khususnya kejahatan seksual. Salah satu terduga pelaku mutilasi diduga kuat mengidap pedofilia, tertarik secara seksual pada anak-anak prapuber. Di awal penyelidikan, terduga pelaku mutilasi juga ada yang disinyalir mengidap acrotomophilia, jenis penyimpangan seksual yang pemuasannya didapat dari fantasi atau tindakan yang melibatkan orang yang diamputasi.

Selain konflik utama cerita, yaitu investigasi terhadap para terduga pelaku mutilasi, ada juga konflik-konflik kecil yang berasal dari kehidupan Robin: Matthew, tunangan Robin yang cemburu kepada Cormoran; Robin yang bimbang dengan kepastian pernikahannya karena mendapati Matthew pernah berselingkuh; Robin yang pernah mengalami masa lalu traumatik karena pernah diperkosa pria yang tak dikenalnya. Ada juga kisah hubungan asmara antara Cormoran dengan Elin, dan dua klien terakhir Cormoran yang menggunakan jasanya. Hal-hal ini juga membuat novel ini makin tebal, dan kadangkala agak mengganggu konsentrasi membaca karena ada beberapa bagian yang kurang signifikan terhubung dengan konflik utama.

Bagian yang agak kurang di(pilih untuk di)kembangkan pengarang adalah proses perubahan pikiran dan kepribadian si pelaku mutilasi sehingga ia bertindak keji. Dalam cerita ini, bab-bab khusus yang berisi serpihan-serpihan kisah tentang si pelaku mutilasi lebih menekankan pada kekejaman yang ia rencanakan, serta beberapa peristiwa dan pengalaman ketika melakukan tindak kejahatannya. Pengarang hendak membawa pembaca masuk dalam kengerian yang ada di pikiran sekaligus perbuatannya—tentang kepuasan membunuh, anggapan rendah terhadap wanita, juga proses membunuh dan memutilasi—tapi kurang menjabarkan mengapa pikiran keji itu menjangkiti otak si pembunuh hingga ia bertindak brutal. Hingga cerita berakhir, kesan yang kuat tentang si pembunuh adalah bahwa ia memang keji. Mengapa ia keji—nah, gambaran itu masih samar.

Sebagai pembanding, kalau pembaca pernah menonton film Psycho yang digarap Alfred Hitchcock, maka penonton akan tahu mengapa si pembunuh menjadi jahat. Di suatu bagian film—tidak disebutkan bagian awal, tengah, atau akhir, supaya tidak menjadi spoiler terhadap film itu—dijelaskan dengan gamblang, mengapa si pelaku menjadi sedemikian kejam dan tega membunuh. Penjelasan itu membuat penonton pun tahu, lebih paham, bahwa kekejaman si tokoh disebabkan karena ia dihantui rasa bersalah setelah seorang anggota keluarganya meninggal.

Pilihan pengarang untuk—mungkin secara tidak sengaja—menjelajahi konflik batin si pelaku mutilasi karena memang ia menganggap bahwa napas utama dari novel ketiga ini adalah upaya penjatuhan nama Cormoran Strike. Seperti yang tampak berikut: “Biro penyelidikan ini tak akan bertahan lama bila bau amis kegagalan dan keganjilan terus menguar dari kantornya... Tidak ada yang ingin mempekerjakan orang yang begitu terkenal karena pemberitaan negatif; tidak ada yang menyukai gagasan detektif yang begitu terkait erat dengan pembunuhan yang tak terpecahkan” (halaman 382).

Para terduga pelaku mutilasi awalnya tidak pernah diketahui di mana keberadaannya. Cormoran “... sudah delapan tahun tidak bertemu dengan Brockbank, sembilan tahun tidak bertemu dengan Laing, dan enam belas tahun dengan Whittaker” (halaman 64). Baru di halaman 300—sudah lebih dari setengah buku—dinyatakan di mana ketiga orang itu berada. Ini agak berbeda dengan cerita detektif lain yang ditulis lebih awal. Dalam And Then There Were None dan Murder on the Orient Express, misalnya, Agatha Christie mengisahkan pelaku pembunuhan adalah satu di antara beberapa orang yang berada di dekat korban dan lokasi pembunuhan. 

Novel ini juga lebih terkesan “masa kini”ada peristiwa-peristiwa besar yang terjadi beberapa tahun belakangan turut disebut dalam cerita: pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton dan terbunuhnya Osama bin Laden. Kesan itu makin kuat karena media sosial seperti Facebook dan Instagram, Google Street View, dan forum diskusi tentang disabilitas dan psikologi di Internet juga menjadi media-media yang turut membantu penyelidikan.

Hampir semua bab novel ini diawali dengan kutipan lirik lagu dari Blue Öyster Cult. Kutipan lirik ini mengingatkan saya pada cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma dalam buku kumpulan cerita Sepotong Senja untuk Pacarku yang diawali dengan kata-kata tempo dulu buatan Eddy Suhardy. Kutipan lirik lagu dan kata-kata tempo dulu itu terhubung dengan cerita secara unik dan bebas—bisa temanya, kejadian utamanya, gejolak batin tokohnya, atau lainnya. Sebagai contoh, saat Cormoran memikirkan tiga wanita yang dekat dengannya, Robin, Elin, dan Charlotte, lirik lagu yang dikutip di awal bab ke-40 (halaman 362) berasal dari lagu “Searchin’ for Celine”, tentang cinta: “... love is like a gun/ And in the hands of someone like you/ I think it’d kill.”

Di bagian Ucapan Terima Kasih, pengarang menyatakan, “Rasanya aku tidak pernah menulis novel seasyik aku menulis Career of Evil” (halaman 541). Mungkin itu pengakuan yang jujur. Robert Galbraith, alias J.K. Rowling, juga sudah merangkai kisah yang asyik dan layak diikuti hingga tuntas. Dan, lewat serial Cormoran Strike ia menegaskan bahwa dirinya bukan spesialis pengarang cerita sihir atau anak-anak. (*)

*) Novelis. Novelnya yang baru terbit berjudul Tewasnya Gagak Hitam (2016).


Tuesday, March 22, 2016

Menulis untuk Mendidik? | Catatan 10

Aktivitas tulis-menulis saya seringkali dihubung-hubungkan dengan status saya sebagai guru. Sebagai guru, tulislah karya yang edukatif. Sebagai guru, buatlah karya yang bermanfaat. Sebagai guru, tulislah buku yang bisa dibaca anak-anak muridmu dan mendidik. Begitulah beberapa kawan memberi saran. Tapi, sejak beberapa tahun lalu, saya memilih jalan lain. Saya memutuskan menulis novel-novel misteri untuk pembaca dewasa yang hampir tidak pernah saya sebut-sebut di ruang kelas tempat saya mengajar di sebuah SMP. Saya juga menulis beberapa artikel rohani tiap bulan; tapi ketika menulis fiksi, saya memilih menulis novel dewasa.

Beberapa guru yang saya kenal suka menulis, kecenderungannya memang seperti itu: membuat karya yang mendidik. Ada yang membuat tulisan yang benar-benar bagus dan mendidik, lalu diakui secara luas atau berskala nasional. Ada juga yang menulis buku-buku pelajaran yang diterbitkan mandiri dengan difotokopi dan dicetak sederhana, lalu dijual kepada murid-muridnya. Dan ada juga yang tidak menulis, tapi menjual modul hasil unduhan dari internet yang difotokopi. Untuk yang terakhir, saya pikir tidak masalah kalau siswa tidak keberatan; cuma saya pernah mendengar siswa bercerita bahwa modul unduhan-fotokopian itu dijual seharga dua kali lipat harga fotokopi.

Guru yang menulis saya pikir tidak banyak. Yang menulis fiksi jumlahnya mungkin hanya separo dari yang suka menulis. Dan yang menulis fiksi dewasa, saya yakin, jauh lebih sedikit. Apakah berarti saya, dari kalangan yang sangat sedikit itu bisa dibilang hebat? Unik, mungkin ya. Hebat, tidak. Kalau karya saya tidak mendapatkan apresiasi yang baik dari pembaca, saya sekadar orang yang dungu, ingin tampil eksentrik, hidup dalam kehebatan imajinatif yang ada di kepala saya sendiri. Hidup dalam keangkuhan dan kesia-siaan.

Menulis novel dewasa menimbulkan konsekuensi. Konsekuensi pertama adalah beberapa kali saya dianggap seperti tokoh-tokoh yang saya tulis. Saya dianggap Tony atau Elang, tokoh-tokoh yang suka gonta-ganti wanita dalam novel-novel yang saya tulis. Padahal, saya beranggapan, fiksi yang baik semestinya tak terbelenggu jati-diri penulisnya, walaupun pilihan dan kecenderungan materi atau tema tulisan mau tidak mau dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan si penulis.

Konsekuensi kedua adalah bertemunya karya saya dengan pembaca yang pengalaman membacanya dibentuk oleh opini banyak orang: bahwa bacaan yang baik haruslah edukatif, bermanfaat, dan semacamnya—apalagi yang menulis seorang guru. Pembaca seperti ini biasanya mudah memberi nilai rendah bila menemukan bacaan yang mengandung unsur kekerasan, seks, atau pembunuhan.

Konsekuensi-konsekuensi ini sempat membuat saya pernah berpikir mencari jalur aman ketika menulis fiksi. Menulis cerita romantis yang dibumbui komedi mungkin akan lebih baik. Namun, apa daya, ternyata saya merasa tidak bisa melakukannya setelah mencobanya sekian puluh halaman, tak hanya memikirkannya. Menulis cerita romantis yang lucu ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Itu berarti, menulis cerita romantis-komedi berarti bukan jalur aman yang perlu dicoba. Pengalaman itu membuat saya sadar, penulis tak punya banyak pilihan kalau mau benar-benar berinovasi dan menyuguhkan sesuatu yang baru dalam cerita-ceritanya. Saya pun memutuskan mengikuti kata hati saja, menetapkan satu pilihan: menulis cerita misteri lagi.

Kejahatan lagi, kematian lagi, dan teka-teki lagi.

Tuesday, March 1, 2016

Endorsement | Catatan 9

Seorang kawan yang suka membaca buku mengeluh setelah membaca sebagian isi sebuah buku. Ketika saya tanyai sebabnya, dia mengatakan bahwa beberapa endorsement (pujian dari beberapa orang) yang dicantumkan di sampul belakang buku tersebut terlalu berlebihan. "Endorsement-nya hebat, isinya biasa saja." Pendapat kawan saya itu bisa saja subjektif.

Di lain kesempatan, saya mendengar cerita dari kawan penulis bahwa ada seorang tokoh masyarakat yang memberikan endorsement setelah penulisnya memberikan sinopsis bukunya (hanya) lewat sebuah SMS. Bayangkan, tanpa mengetahui isi buku, paling tidak membaca sinopsis utuhnya, endorsement bisa diperoleh.

Mungkin beberapa penulis jadi lebih percaya diri saat ada tokoh kenamaan yang mengucapkan pujian dan pengakuan bahwa karya yang ditulisnya bagus. Tapi, pengakuan yang tak perlu itu ujung-ujungnya menyesatkan. Endorsement seperti itu dapat membuat orang gemar disanjung, anti kritik, lalu tanpa sadar membangun kepercayaan dan kepuasan diri dari pujian yang semu. Membangun popularitas dalam waktu yang singkat adalah mungkin. Namun, mereka yang berpikir panjang biasanya lebih mengutamakan pencapaian yang teruji.

Mungkin kita perlu sedikit belajar dan membandingkan endorsement perbukuan dengan para endorser produk lain, contohnya alat musik. Saya kenal gitaris yang menjadi endorser amplifier. Dia paham benar seluk-beluk amplifier itu. Endorser itu bahkan dikontrak dan dibayar untuk mempromosikan amplifier itu lewat serangkaian acara yang digelar produsen atau promotor. Endorsement dalam perbukuan saya kira sedikit bergeser maknanya, berbeda dengan endorsement amplifier itu. Endorser buku tidak dikontrak, hanya menulis beberapa kalimat pendek yang diterakan di sampul buku atau halaman-halaman awal.

Tidak semua endorsement buku buruk; ada juga yang diberikan setelah seorang endorser menuntaskan pembacaan untuk karya yang dia endorse. Ada juga endorsement yang merupakan kutipan dari sebuah ulasan di media yang dibaca masyarakat luas. Endorsement dapat membantu orang lain menemukan atau menyetujui keunggulan suatu buku, juga produk atau karya lainnya. Ada atau tiada endorsement, toh pembaca nantinya bisa menilai. Karya yang dinilai buruk semestinya memicu seseorang berkarya lebih baik. Karya yang dianggap baik hendaknya membuat seseorang tak mudah berpuas diri.

Juga, yang perlu dicatat, tidak semua penilaian buruk membuat sebuah karya benar-benar buruk. Saya pernah membaca orang yang menilai karya legendaris The Lord of the Rings sebagai karya yang isinya cuma tentang orang berjalan-jalan, lalu memberi satu dari lima bintang untuk novel itu.

Kritik, sebagaimana pujian, juga bisa keliru diberikan. Kritik, sebagaimana pujian, semestinya diterima dengan lapang dada—walaupun tak mudah.

Tuesday, February 23, 2016

Fokus | Catatan 8

Tony Widiastono, mantan redaktur opini harian Kompas, bercerita bahwa suatu ketika ia mendapat kiriman e-mail dari seorang penulis yang gigih. "Ini adalah tulisan saya yang ke-150," kata penulis itu. "Saya sudah mengirim 149 opini selama ini. Bila naskah ini pun tetap ditolak, saya tak akan pernah berhenti menulis." E-mail itu serta-merta membuat Pak Tony terpana. Ia pun membalas e-mail itu, menyertakan beberapa pengarahan yang penting untuk diperhatikan si penulis.

Inilah kisah yang disampaikan Pak Tony dalam seminar Guru Menulis di Media Massa yang dihelat Kompas, Surya, dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) beberapa tahun lalu di gedung PDAM Surabaya. Dalam ceritanya, ada satu pengarahan yang diberikannya kepada penulis itu, yang penting untuk disimak bersama. Itu berkaitan dengan fokus dalam penulisan yang perlu diasah oleh setiap penulis pemula.

Yang dimaksudkan dengan fokus adalah bagaimana seseorang mengeksplorasi suatu hal (dalam hal di atas berarti sebuah tema atau bidang penulisan) yang menjadi minatnya secara kontinyu. Seorang ahli syaraf, Richard Restaak, M.D. menyatakan dalam bukunya Smart and Smarter bahwa jika kita teratur berlatih dan kemudian dapat memainkan sebuah lagu dengan piano atau mengayunkan golf dengan benar, maka kemampuan kita akan bertambah. Bukan hanya dalam hal piano atau golf, tapi hal ini berlaku dalam hal-hal lain.

Kate DiCamillo, yang menulis buku Because of Winn Dixie (sudah difilmkan) menulis dua halaman sehari. Ia melakukannya pada saat jam empat pagi. John Petrucci, gitaris rock ternama dari grup band Dream Theater, mengaku berlatih dua jam sehari untuk melatih empat teknik bergitar yang berbeda. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang dengan produktivitas dan kreativitas yang tinggi. Karya-karya mereka diakui dunia.

Seringkali kita bosan dengan sesuatu yang dikerjakan rutin. Beberapa kalangan bahkan tampaknya membenci kata "rutinitas" yang padahal sangat dekat dengan kata "fokus". Sebagai dalih untuk berinovasi mereka kemudian menggembar-gemborkan kedinamisan hidup: "Mari kita cari sesuatu yang baru!" Padahal, tak jarang ajakan itu semata-mata berangkat dari kemalasan untuk mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Membiasakan kita lalai, hidup tanpa fokus.

Tuesday, February 16, 2016

Membuat, Mengolah, dan Menerbitkan Tulisan | Catatan 7

"Saya harap Anda dapat kepuasan saat membaca tulisan ini, sebagaimana saya puas saat menulisnya."
~ Francis Quarles, penyair Inggris

Sebuah buku tentang tulis-menulis tampaknya memang tak perlu tebal, apalagi berkaitan dengan penulisan kreatif. Dalam memoarnya yang terkenal, On Writing, Stephen King menyatakan berkali-kali bahwa buku tentang tulis-menulis sebaiknya dibuat seringkas mungkin. Semakin tebal buku itu, semakin banyak pula omong kosong yang termuat di dalamnya, demikian kurang lebih ia menekankan.

Kegiatan atau pekerjaan menulis berkaitan langsung dengan tindakan atau praktik. Semua penulis yang menulis buku tentang penulisan tentunya berharap agar para pembacanya segera menulis, bukan hanya berpikir atau berangan-angan menulis. Demikian pula buku ini tampil dengan maksud yang gamblang sejak judulnya dibaca: Keep Your Hand Moving!

Saat ini, manakala dunia penerbitan dan perbukuan makin marak dengan munculnya banyak penerbit dan buku baru, sebuah buku tentang menulis memang dibutuhkan. Kata-kata yang menjadi judul buku ini diambil dari sebuah buku karya Natalie Goldberg. Sebuah pemikiran utama yang dicetuskan oleh Natalie -- beliau disebut-sebut sebagai pengarang yang berhasil dalam menggugah kesadaran banyak pembacanya untuk membiasakan diri menulis -- yang dikedepankan oleh Anwar adalah pentingnya setiap orang memacu diri untuk menulis tanpa memperhatikan dan membimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulis, tata-bahasa, atau lainnya yang dapat menjadi penghalang.

Secara garis besar, buku tipis ini memiliki dua landasan berpikir yang penting. Bagian pertama adalah bagaimana pembaca mengasah keterampilan menulis dan menangani naskah. Keep your hand moving adalah seruan Anwar pada sidang pembaca -- utamanya pembaca pemula yang berniat menekuni dunia penulisan -- agar mengedepankan suara hati saat menuangkan gagasan dalam tulisan. Walaupun tulisan itu semrawut dan tak jelas fokusnya, Anwar hendak menegaskan bahwa yang penting: tulislah!

Setelah menulis, barulah para pembaca diajak untuk menyusuri kembali apa-apa saja yang telah ditulisnya. Kali ini Anwar mengajak pembaca untuk mengembangkan dan mendayagunakan kemampuannya mengolah naskah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bisa dinikmati.

Tulisan yang baik dan bisa dinikmati adalah tulisan yang oleh penulisnya sendiri digarap penuh kesungguhan. Sebagai seorang editor yang telah lama berpengalaman menangani berbagai naskah, Anwar sering lelah melihat naskah-naskah yang tidak serius digarap oleh penulisnya. Masih banyak penulis yang bergantung pada editor untuk meneliti naskah -- penulis yang memprihatinkan, yang membaca naskahnya sendiri tak sempat, atau mungkin malah tak berminat.

Padahal, seorang penulis bertanggungjawab dalam menghasilkan naskah yang siap-baca. Seorang penulis harus jadi orang pertama yang menikmati tulisannya, seperti kutipan di atas. Anwar mengajak sidang pembaca untuk bukan hanya menulis, tapi mengedit dan memoles tulisan agar tampil lebih indah, bahkan berbobot. Bila kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan tanda baca atau penyusunan kalimat masih banyak dilakukan di sana-sini, maka seorang penulis sebenarnya masih belum memberikan kemampuan terbaiknya.  

Hal ini bukan berarti tugas dan peran editor dikesampingkan. Namun, editor yang menjadi penjembatan antara penulis dan pembaca pada nantinya memiliki peran lain yang tak kalah penting, yaitu mengolah sebuah naskah dengan sedemikian rupa sehingga pada nantinya bisa diminati oleh masyarakat -- selain tetap mengoreksi, memberi saran, kritik dan masukan atas naskah yang dieditnya.

Bagian kedua yang disampaikan dalam buku ini berkaitan dengan bagaimana seorang penulis "menjual" naskahnya kepada media. Bagian ini perlu dicermati dengan landasan berpikir bahwa seorang penulis yang baik semestinya memiliki keyakinan bahwa karya tulisnya sudah tidak memiliki kesalahan sebelum dikirimkan untuk dipublikasikan ke koran, majalah, atau untuk diterbitkan sebagai sebuah buku.

Anwar juga menyingkapkan beberapa kemungkinan menerbitkan sebuah naskah. Di sinilah ia tampak leluasa mengajak pembaca menyusuri bidang penulisan yang menjadi minat masing-masing. Bukunya ini bisa dibaca oleh orang yang suka menulis tulisan motivasi, inspirasi, sastra, bahkan artikel-artikel populer.

Hal lain yang masih termasuk dalam bagian kedua adalah bahasannya tentang motivasi menulis. Seorang penulis yang berniat agar karya-karyanya laku dijual harus memiliki strategi mengurangi penolakan. Sebab penulis mana pun tak suka menghadapi hal ini, walau pada kenyataannya hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Inilah sebuah hal yang sering meresahkan penulis muda. Anwar menawarkan beberapa solusi seperti membuat proposal sebelum naskah sebuah buku diajukan; atau bahkan banting setir merambah bidang penulisan lain yang lebih mendatangkan keuntungan bila naskah-naskah seorang penulis terlalu sering mengalami penolakan.

Di sini Anwar tak hanya melejitkan semangat menulis, membuat pembacanya berapi-api. Anwar juga mengajak sidang pembaca berpikir realistis. Tak jarang, banyak orang meninggalkan dunia penulisan gara-gara tak memiliki motivasi yang jelas dan terencana, lalu putus asa. Bila seseorang merencanakan menulis sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu mencari berbagai kemungkinan dan mengenali tren yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya. (*)

Identitas Buku
Judul: Keep Your Hand Moving || Penulis: Anwar Holid || Penerbit: Gramedia Pustaka Utama || Tebal: 131 halaman || Cetakan pertama, 2010