Tuesday, October 18, 2016

Nama Besar

Esai, dimuat di rubrik Art Culture Tribun Bali, Minggu, 16-10-16

Sidik Nugroho*)

BELAKANGAN ini, pembaca di Indonesia, bahkan dunia, sedang disuguhi berita tentang orang-orang yang (bakal) punya nama besar di bidang kesusastraan. Ada Kusala Sastra Khatulistiwa yang sudah mengumumkan karya-karya penulis fiksi dan puisi yang masuk sepuluh besar. Ada Komite Buku Nasional yang sudah merilis nama-nama pengarang yang akan diberangkatkan untuk program residensi menulis di luar negeri. Ada Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang akan mengundang 16 penulis emerging Indonesia ke Ubud akhir bulan ini. Dan pemenang Nobel Sastra yang baru saja diumumkan: Bob Dylan.

Tentu, lahirnya nama-nama besar ini menggembirakan; acara dan kegiatan-kegiatan demikian membuat kesusastraan diperbincangkan. Bob Dylan yang terkenal sebagai penulis lagu, misalnya, kemenangannya menjadi kejutan tersendiri. Dan, omong-omong, tentang Nobel Sastra, ada kisah yang menarik.

Suatu ketika, koran Inggris Sunday Times membuat percobaan, mengirimkan dua naskah pembuka novel yang terkenal. Satu naskah ditulis V.S. Naipaul, pemenang Nobel Sastra, berjudul "In a Free State"; dan lainnya berjudul "Holiday" karya Stanley Middleton yang memenangkan Booker Prize. Dua naskah pembuka itu dikirimkan kepada dua puluh penerbit dan agen dengan nama palsu. Hampir semua penerbit menolaknya. Dengan kata lain, para editor senior di penerbitan pun yang terbiasa dengan banjirnya naskah, tidak mengenali naskah-naskah yang berkilau itu.

Suatu ketika, saya mengisahkan cerita yang mirip di sebuah kelas menulis:

Dua mahasiswa yang belum pernah membaca karya seorang pengarang, tapi tahu bahwa pengarang itu punya nama besar yang disegani dan memenangkan banyak penghargaan, suatu ketika mendapat pengalaman membaca berbeda. Yang pertama membaca karya si pengarang dalam bentuk buku yang komplit: ada sampul yang memuat nama pengarang dan judul buku, cerita lengkap, dan sampul belakang yang memuat sinopsis pendek buku. Mahasiswa kedua mendapat buku yang sama, namun sampul depan dan belakangnya tak ada.

Selang beberapa waktu, kedua mahasiswa itu tak sengaja bertemu, mengobrol. Saat mereka mengobrolkan bacaan, si mahasiswa kedua menunjukkan buku tanpa sampul yang ia dapatkan. Yang ia dengar dari si mahasiswa pertama membuat ia terkejut. “Kita membaca buku yang sama!” serunya, lalu menyebut sebuah nama besar. “Itu benar-benar karya yang hebat!”

Sungguh tak dinyana, ternyata buku itu karya pengarang setengah dewa yang sangat sering mendapat puja-puji, entah dari orang yang sudah membaca karyanya maupun belum. Si mahasiswa kedua pun teringat bahwa buku itu tak kunjung selesai ia baca karena baginya ceritanya membosankan. Setelah kawannya meninggalkannya, ia merenung sambil menimang buku tanpa sampul itu: kalau aku tahu siapa pengarang buku ini, mungkinkah sudah selesai kubaca?

***

"GOODFELLAS" dan "Pendekar Rajawali Sakti" (PRS) adalah dua karya yang saya nikmati karena keberuntungan setelah “mencari sendiri”. Saya masih ingat, "Goodfellas" saya pinjam di sebuah rental di Jalan Sulfat Agung, Malang, beberapa tahun silam. Saya tidak banyak tahu tentang Robert De Niro juga Joe Pesci, dua aktor legendaris di film itu; bahkan tidak kenal siapa itu Martin Scorsese sang sutradara. Saya juga belum sempat kenal IMDb (International Movie Database) atau Metascore, situs-situs yang mengulas film. Saya menyewa film itu, membawanya pulang ke rumah. Waktu menontonnya, saya tersihir. Sejak hari itu, saya mencari film-film De Niro dan Scorsese tiap kali ada kesempatan.

PRS saya nikmati waktu SMP. Saya mendapatkan beberapa serial PRS waktu suatu hari berkunjung ke persewaan buku di Singkawang, kota kecil di Kalimantan Barat. Saya banyak lupa cerita-cerita PRS, tapi saya ingat, PRS-lah yang membuat saya berimajinasi tentang dunia pendekar.

Kenikmatan terbesar membaca atau menonton dapat muncul dari semacam “pencarian tak terencana”: pergi mencari suatu karya (bisa film atau buku) tanpa tahu pendapat orang tentang karya itu; tanpa mengenal siapa penulis, sutradara, atau aktornya; bahkan tanpa harapan besar untuk puas atau senang setelah menikmatinya.

Tak bisa dimungkiri, di era informasi seperti saat ini, pembaca buku atau penonton film lebih sering ingin atau tergerak menikmati suatu karya karena terlebih dulu membaca ulasannya atau mendengar rekomendasi tentang karya tersebut. Dalam taraf tertentu, pendapat orang lain tak hanya memengaruhi pendapat seseorang tentang suatu karya, bahkan bisa membuat seseorang mengambil keputusan menikmati karya tersebut atau tidak. Ada orang yang mungkin membatalkan menonton film hanya karena skornya rendah di IMDb atau Metascore.

Pendapat pembaca bahkan tak hanya memengaruhi calon pembaca lain, bahkan penerbit. Novel berjudul "Phantastes" karya George MacDonald dianggap gagal oleh penerbitnya karena banyak pembaca yang menilai ceritanya aneh. Karena penilaian pembaca, penerbit pun enggan menerbitkan karya-karya George berikutnya.

Suatu ketika, seorang pembaca menemukan "Phantastes" di toko buku loak. Si pemuda terkesan dengan novel itu, menganggapnya memukau imajinasi dan memancarkan sebentuk “kebaikan yang menyenangkan hati”. Belakangan, pemuda bernama C.S. Lewis itu menjadi penulis kenamaan, buku-bukunya yang berjudul "Kisah-kisah dari Negeri Narnia" disukai anak-anak di seluruh dunia. Ia mengakui, karya George MacDonald itu turut mengambil bagian dalam proses kreatifnya.

Dengan demikian, ada nama besar yang lahir karena membaca karya gagal. (*)

*) Novelis dan pembaca buku, penulis emerging UWRF 2016