Tuesday, July 30, 2019

Mencintai Buku dari Keluarga

Tiap 23 April ada peringatan Hari Buku Sedunia. Kemudian, tanggal 17 Mei, ada peringatan Hari Buku Nasional. Belakangan, ada pula Gernas Baku (Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku) yang marak diberitakan media. Gernas Baku yang berada di bawah koordinasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga ini bertujuan agar orangtua terbiasa membaca buku bersama anak. Lewat membaca bersama, diharapkan terjalin hubungan sosial-emosional yang lebih mendalam antara anak dan orangtua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Dirjen PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar, di laman SahabatKeluarga (27 Juli 2019), menyatakan bahwa mendongeng atau membacakan buku pada anak-anak memiliki beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan minat dan kebiasaan anak pada kegiatan membaca buku yang pada akhirnya memperluas wawasan dan pengetahuan anak. Kedua, menjalin kedekatan antara orangtua dan anak-anaknya. Ketiga, ada pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak dengan mendengarkan pelajaran moral yang ada di buku itu.

Berbagai peringatan dan gerakan tentang buku di atas mestinya membuat kita merenung lagi, sudahkah kita mencintai buku? Atau, masih pentingkah kehadiran buku dalam kehidupan kita? Di beberapa berita yang tersiar beberapa bulan belakangan disebutkan, minat baca di negara ini sangat rendah. Beberapa komunitas tampaknya peduli dengan situasi itu, dan berusaha menyebarkan semangat membaca dan menulis.

Ada yang pergi ke desa-desa sambil membagi-bagi buku, ada yang menggelar perpustakaan temporer di taman-taman kota pada Minggu pagi, ada yang mengadakan seminar atau talkshow dengan mengundang penulis sebagai narasumber, dan ada juga yang menjadikan kegiatan membaca sekaligus menulis untuk mencetak writerpreneur di mana-mana.

Efektifkah berbagai kegiatan tersebut? Tentu masih perlu dipertanyakan, diuji, dan ditelusuri lebih jauh. Yang jelas, kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa kita sudah jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain.

Buah renungan dan pemikiran

Pada masa lalu buku bernilai tinggi. Sekarang, saat teknologi makin maju, dan orang bisa mencetak buku di mana-mana, buku menjadi terkesan tak seberharga dulu. Pada zaman dulu, buku dekat dengan ilmu, hasil renungan dan pemikiran yang mendalam.

Pada masa kini, di era media sosial dan internet, makin banyak pekerja kreatif dalam tulis-menulis bermunculan. Suatu keadaan yang menggairahkan, namun juga perlu ditanggapi lebih cerdas, wajar, dan berimbang. Beberapa editor di penerbitan mengeluh karena menangani banyaknya naskah buku yang terus berdatangan; dan sayangnya, banyak naskah digarap asal-asalan oleh penulisnya.

Itulah persoalan yang muncul dari orang-orang yang dulunya tidak terlatih membaca dengan cermat, tapi ingin membuat buku. Saat gerakan literasi digembar-gemborkan di mana-mana, orang berbondong-bondong menerbitkan buku, namun ada yang tak melalui proses kreatif yang memadai. Karya tulis ada yang dibuat dangkal, asal-asalan, karena penulisnya terburu-buru dalam berproses. Dan sayangnya, tak banyak pula pembaca yang membaca suatu karya dengan mendalam.

Mudji Sutrisno, seorang rohaniwan, pernah mengesalkan pembacaan karya-karya sastra Indonesia yang dilakukan secara dangkal--itu yang dinyatakan Damhuri Muhammad dalam Darah-Daging Sastra Indonesia (2010). Senada dengannya, editor senior Penerbit Mizan, Hernowo, menyatakan dalam Mengikat Makna (2001) bahwa "membaca seperti itu (membaca dengan penuh penghayatan, yang disebutnya dengan istilah deep reading) bagaikan bertafakur--berpikir hati-hati, sistematis, dan mendalam." Ia juga menambahkan, "Apabila seseorang melakukan deep reading dengan benar, dia pasti 'menghasilkan' sesuatu."

"Hasil" yang dimaksud Hernowo di atas cenderung dikaitkan dengan aktivitas menulis; bahwa mereka yang doyan membaca akan mempunyai banyak bahan untuk menulis. Hal itulah yang perlu diperhatikan orang-orang yang ingin menulis buku. Namun, menurut hemat saya, "hasil" itu bisa lebih bervariasi. Membaca dengan mendalam, sambil merenung, akan menolong seseorang untuk menjadi lebih bijaksana. Ya, hasilnya tak selalu berupa produk tulisan; tapi pemikiran yang tertata, analitis, atau reflektif. Sayangnya, kita tidak dibiasakan untuk membaca sambil merenung, bahkan di sekolah.

Dimulai dari keluarga

Tidak dibiasakannya kegiatan membaca di sekolah membuat generasi muda saat ini seperti mengalami "mata rantai yang putus" dalam memahami sekaligus mereaksi berbagai persoalan. Belum mengenal sastra, belum mengenal hakikat atau esensi sebuah teks, orang sudah terbiasa menggunakan gadget. Lewat gadget, yang identik dengan ketergesaan dan hiburan, banyakkah orang yang membaca secara mendalam? Tampaknya sedikit.

Karena itulah beberapa persoalan yang perlu dikaji mendalam, didialogkan, atau dihayati, jadi gagal ketika orang lebih terbiasa menggunakan gadget ketimbang membaca buku. Gadget dan media sosial sering memancing orang untuk reaktif ketimbang reflektif.

Kita mudah membagi berita yang belum tentu benar, juga dihasut dengan posting yang provokatif. Kita kurang merenung, menghayati, berpikir, sekaligus mencermati. Buku, dengan realitas demikian, tampaknya tetap menjadi penting bagi orang yang ingin memiliki perspektif yang luas dan tak mudah mau terbawa arus.

Saat ini, manakala buku dan sumber pengetahuan lainnya mudah diakses, berbagai pilihan pun terbentang di depan kita. Di keluarga, agar anak-anak kita tak mudah termakan isu-isu yang menyesatkan, gampang berprasangka buruk terhadap pihak lain, atau terjerumus dalam pergaulan yang membahayakan, salah satu upayanya adalah dengan mengajaknya membaca buku. Buku akan menolong anak-anak untuk kreatif, imajinatif, sekaligus berpikir kritis. Gernas Baku pun mestinya menjadi gerakan kesadaran, bahwa dunia imajinasi mengandung keindahan dan kebaikan bagi anak-anak.

Astrid Lindgren, penulis cerita anak yang karya-karyanya hingga kini masih terus dibaca, menulis buku pertamanya, Pippi Longstocking, sebagai hadiah untuk ulang tahun anaknya yang kesepuluh pada tahun 1944. Kantor berita Swedia, TT, menyatakan bahwa buku-buku Astrid Lindgren lebih sering dipinjam di perpustakaan dan digemari di Swedia dibandingkan dengan pesaing-pesaing baru seperti Harry Potter. Buku-buku karyanya dianggap menggambarkan sebuah dunia bermuatan hubungan kasih sayang dan semangat yang tinggi.

Astrid telah meninggal pada tanggal 28 Januari 2002, dalam usia 94 tahun. Tentang dunia kepenulisan yang dibangunnya, suatu ketika ia berujar, "Jika saya telah membuat seorang anak yang sedih menjadi gembira, setidaknya saya telah menyelesaikan sesuatu dalam hidup saya." Meminjam istilah bahasa Latin, sebuah kisah yang baik hendaknya dulce et utile--indah dan bermanfaat. Kadang kala kita kehilangan dan melupakan banyak kisah yang indah dan bermanfaat bagi kehidupan. Kehidupan yang berjalan cepat dan penuh gejolak kerap membuat kita mengabaikan hal-hal yang semestinya dihayati dan direnungkan lebih mendalam. Lewat bukulah perenungan itu bisa kita peroleh.

Sudah barang tentu, buku-buku yang dibuat untuk anak-anak semestinya tampil menarik agar anak-anak mencintainya. Anak-anak lebih kecil, misalnya, lebih suka buku bergambar, tidak hanya berisi teks. Selain itu, ajakan membaca pun perlu disertai keteladanan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya--orangtua yang suka membaca buku akan lebih mudah menularkan semangat membaca buku kepada anak-anaknya.

Sudahkah kita membaca buku hari ini?

Tuesday, June 4, 2019

Mengajarkan Ideologi, Membentuk Jati Diri


Saat menyaksikan demonstrasi yang berujung pada kericuhan 22 Mei 2019 lalu, kita mungkin bertanya-tanya, apakah tujuan final dari demonstrasi itu? Sulit untuk meyakini bahwa para demonstran itu berjuang demi keadilan. Lalu, doktrin, ajaran, atau ideologi apa yang menggerakkan mereka? Pancasila? Tampaknya tidak mungkin.

Ideologi dapat muncul dari keyakinan bahwa yang diperjuangkan di dalamnya adalah yang terbaik, paling ideal, atau mampu menjawab semua persoalan dan memberikan solusi dalam masyarakat yang tengah “sakit” karena menganut ideologi lain. Tapi dalam pelaksanaannya, alih-alih berjuang bagi kepentingan rakyat, ideologi hanyalah ilusi. Ketika diterapkan, kemungkinannya untuk menimbulkan chaos dan perpecahan tidaklah kecil.

Ideologi pun dapat menyuburkan ilusi di sekelompok orang yang berpemikiran sama, bahwa masa depan yang bisa diraih sebuah bangsa atau komunitas akan lebih baik, adil, makmur, dan sebagainya. Padahal, ideologi dapat menjadi kepanjangan tangan nafsu segelintir orang untuk berkuasa, dibungkus rapi dalam berbagai ajaran tentang keadilan, kesejahteraan, atau kemakmuran.

Pemikiran tentang keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran pun sering dikaitkan dengan dengan agama. Orang dapat menjadi radikal dalam memahami dan menerapkan dogma agama, lalu memperlakukan orang lain yang berbeda agama dengan sikap intoleran karena dianggap tak sebanding atau sehaluan. Teuku Kemal Fasya (2016) mencatat bahwa di masyarakat, agama kerap menjadi pengetahuan sosial publik yang lebih besar pengaruhnya dibandingkan “rasionalitas pengetahuan” (vernunft) dan “naluri intelektual” (verstand)---dua istilah yang digunakan Immanuel Kant.

Sistem demokrasi yang selama ini sudah dan sedang berjalan pun dianggap tak menyejahterakan rakyat oleh para penyeru ideologi baru. Apalagi ketika sistem demokrasi terbukti berperan melahirkan pemimpin yang korup; selama berpuluh-puluh tahun pada masa Orde Baru kekayaan negara ini dinikmati para penguasa yang doyan melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kebencian terhadap sistem demokrasi pun meluas ke ranah yang lebih luas, membuat para penganut ideologi anti-Pancasila sampai memiliki keyakinan revolusioner bahwa konstitusi perlu diganti. Bercita-cita mengganti sistem demokrasi, konstitusi, dasar negara, bahkan ideologi, itulah ciri organisasi masyarakat (ormas) atau paham radikal yang memperjuangkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara sampai ke akar-akarnya, yang lebih tepat disebut “radikal-intoleran”.

Pembubaran ormas berideologi anti-Pancasila yang beritanya santer dua tahun lalu bisa saja menuai tepukan tangan. Masyarakat senang, pemerintah pun dinilai berupaya menjaga kedaulatan bangsa.  Namun, karena yang dihadapi adalah ormas radikal-intoleran, yang notabene memperjuangkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara sampai ke akar-akarnya, pembubaran itu juga bisa memantik pertanyaan-pertanyaan lain yang berangkat dari realitas politik, kenegaraan, hukum, dan keadilan, misalnya: Akankah korupsi akan tetap merajalela? Akankah hukum akan kian adil ditegakkan? Dan seterusnya.

Membubarkan ormas radikal-intoleran dan anti-Pancasila adalah tindakan mencegah kerusakan dari luar, dan pemerintah perlu juga melakukan perbaikan dari dalam. Membenahi “bagian dalam” dapat dilakukan dengan memberi perhatian lebih besar bagi keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Pendidikan ideologi pun perlu menjadi prioritas. Dengan begitu nasionalisme mempunyai alasan untuk terus dipupuk dan berkembang. Pun, dengan begitu nalar demokrasi yang kuat dapat terpelihara: bahwa dengan ideologi Pancasila yang sudah ada, kesejahteraan sosial dan keadilan dapat terwujud.

Ideologi dan pendidikan

Kita khawatir akan kehadiran dan pergerakan ormas radikal-intoleran yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Namun, yang kadang diabaikan adalah sekularisme yang menjadi-jadi. Remaja dan pemuda sekarang tak sedikit yang makin menggilai budaya barat atau asing. Beberapa kali ditemukan siswa tak hafal lima sila dalam Pancasila. Padahal Pancasila memiliki sejarah panjang, lahir lewat proses yang menguras energi dan pemikiran bapak-bapak bangsa, disusun untuk menjadi dasar bagi tujuan negara yang ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Gagasan atau gerakan untuk menggantikan Pancasila baik sebagai ideologi maupun dasar negara muncul beberapa kali dalam sejarah. Setelah Indonesia merdeka, antara tahun 1957-1959, ada pemikiran yang berkembang di Dewan Konstituante untuk merumuskan kembali dasar negara dan memilih alternatif selain Pancasila. Pancasila tetap tak tergoyahkan.

Muhidin M. Dahlan (2016) mengisahkan, suatu ketika, dalam sebuah seminar, Jenderal Try Sutrisno menerangkan hakikat Pancasila; bahwa Pancasila bukan sosialisme, apalagi komunisme; bahwa Pancasila bukan kapitalisme, dan seterusnya. Saat tiba giliran Gus Dur berbicara, ia menyeletuk, seperti menyimpulkan, bahwa Pancasila adalah ideologi yang “bukan-bukan”---tentu dengan maksud bercanda.

Walaupun diucapkan dengan nada bercanda, Gus Dur tampaknya hendak menegaskan, bahwa Pancasila adalah ideologi yang unik, khas milik Indonesia. Pancasila merupakan gabungan beberapa ideologi, darinya banyak pelajaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang bisa digali.

Namun sayang, pada zaman Orde Baru, Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang tampaknya dihelat juga demi menjabarkan keunikan ideologi itu, dilaksanakan dengan cara yang kaku, kurang menggugah. Kini, saat pengaruh budaya asing semakin kuat akibat globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, perlu ada upaya untuk kembali mengajarkan Pancasila sebagai dasar negara karena di dalamnya ada nilai-nilai penting yang mencirikan jati diri bangsa.

Nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan lewat ilmu sejarah, dengan mengisahkan proses kelahiran dan perumusannya yang panjang. Atau lewat ilmu kenegaraan (PPKn), menggali nilai-nilai dalam Pancasila yang dapat dijadikan pandangan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat-saat ini, nilai-nilai Pancasila yang perlu digali adalah toleransi dan kebersamaan.

Sejak pilkada DKI Jakarta 2017 berlangsung---bahkan sejak pilpres 2014---hingga kini, bangsa kita terpecah ke dalam dua golongan yang kadang saling berseberangan pemikiran, dan tak jarang juga saling hujat. Perbedaan pandangan dan narasi di antara dua kubu dapat membawa bangsa kita selalu berada di persimpangan, tak kunjung melangkah bersama.

Di sinilah guru berperan penting, mengingatkan siswa-siswinya bahwa Indonesia itu satu, seperti sila ketiga Pancasila. Persatuan dan kesatuan tak bisa diraih kalau tidak ada toleransi yang mewujud dalam sikap tenggang rasa dan tepa selira. Guru dalam taraf pendidikan dasar dan menengah perlu men-transfer spirit Pancasila ke dalam diri siswa kalau tak rela melihat generasi muda bangsa ini makin radikal-intoleran, atau gandrung pada budaya kebarat-baratan.

Pada hari lahirnya Pancasila, semoga guru, sebagai salah satu ujung tombak kemajuan bangsa, dapat merenungi lagi sejarah panjang kelahiran dan eksistensi Pancasila, juga menggali lagi nilai-nilai Pancasila yang bisa menjadi solusi untuk permusuhan berkepanjangan. Semoga kemajemukan yang menjadi jati diri bangsa ini lestari dengan terus adanya toleransi; rakyat Indonesia (kembali) menghargai dan mengamalkan Pancasila, dasar negara yang lahir dari cita-cita luhur bapak-bapak bangsa. (*)

Dimuat di Media Indonesia


Tuesday, May 7, 2019

Cerpen: Buku Harian Amelia

Charles,

Lagu "Cinta" yang dinyanyikan Vina Panduwinata hingga sekarang masih terngiang-ngiang di telingaku bila mengingat pertemuan pertama kita. Saat itu kau datang dengan payungmu. Aku awalnya agak risih dengan kehadiranmu, tapi aku juga tidak mau basah kuyup.

Itulah sebagian catatan Amelia di buku hariannya, bertanggal 20 Februari 2001. Dua tahun sebelumnya, 20 Februari 1999, pada suatu sore yang mendung, tak jauh dari Simpang Lima, Semarang, ia tampak gelisah. Wajah gadis itu cemberut tiap kali memandang jalan dan angkasa, mungkin karena angkot yang ditunggunya tak kunjung tiba. Langit pun makin muram, awan-awan hitam bergulung-gulung.
Kulihat ia dari seberang jalan. Dari seragamnya kutahu ia karyawati di toserba di wilayah Simpang Lima. Awalnya aku hendak pergi ke rumah kawanku, tapi kakiku melangkah ke seberang jalan ketika gerimis turun. "Hei, aku payungi biar enggak basah, ya?" kataku sambil menatapnya. Hujan sering turun pada waktu-waktu itu, aku membawa payung ke mana-mana.
Amelia tersenyum, tapi tampak ragu menerima kehadiranku seutuhnya.
"Baru pulang kerja?" tanyaku seramah mungkin.
Amelia mengangguk. "Mas sendiri," aku terkejut mendengar suaranya yang lembut dan mirip anak-anak, "mau ke mana?"
Aku bingung menjawab. Amelia menunggu angkot menuju Jalan Pandanaran, dan aku ingin tetap bersamanya. Tiba-tiba aku teringat toko musik di Jalan Pandanaran yang beberapa kali kukunjungi. "Mau ke Toko Purnomo, beli senar gitar." Aku mendesah panjang mendengar dusta kecilku.
Amelia tersenyum, matanya berbinar ketika bertanya, "Jadi, Mas pandai main gitar?"
Aku mengangguk mantap.
Angkot yang kami tunggu tiba. Penumpang sepi, kami duduk berhadap-hadapan. Amelia berkata kepadaku tinggal di Randusari, dekat toko musik itu. Oh, keberuntungan dari langit! "Kalau nanti masih hujan, kamu kuantar sampai rumah ya."
Amelia berterimakasih, bertanya, "Nama Mas siapa?"
Aku mengulurkan tanganku. "Charles."
"Amelia," katanya sambil menjabat tanganku.
***

Charles,

Aku suka bila Mas Charles datang ke rumah. Aku suka membuatkanmu segelas kopi yang katamu "kopi paling gembira sedunia." Aku juga suka mendengar petikan gitarmu, memandangi wajahmu dari samping saat kau bernyanyi. Kuyakin dia pria yang baik, bisikku dalam hati tiap memandangmu.

Itu sebagian catatan Amelia, 4 April 1999. Setelah pertemuan di angkot itu, aku sering mengunjunginya, paling tidak seminggu sekali. Teras rumahnya luas, kami berdua sering duduk-duduk di sana. Adiknya bernama Ridwan cepat akrab denganku, suka minta diajari bergitar.
Aku juga suka dengan kopi buatannya. Sungguh tak kuduga, ia selalu ingat dengan istilah "kopi paling gembira sedunia" yang kukarang ketika melihat senyumnya yang merekah sambil menghidangkan kopi suatu malam.
Suatu malam, saat berdua di teras, kukatakan kepadanya bahwa aku ingin dia selalu membuatkan kopi untukku di sepanjang usia, juga menemaniku. Dia memberikan kecupan yang lembut di keningku. Malam itu, 24 April 1999, Amelia menjadi kekasihku. Sebagai perayaan kecil kelahiran cinta kami, kunyanyikan lagu paling manis untuknya, berjudul "Untukmu" ciptaan Tito Sumarsono:

Di antara kita t'lah terjalin sudah
Benang-benang asmara
Tak mungkin lagi 'kan terpisah
S'moga Tuhan mendengar pinta kita

Gerimis turun ketika aku pulang. Aku teringat Gene Kelly yang menari dan menyanyi riang di kala hujan dalam film Singin’ in the Rain.
***

Charles,

Hari-hari yang kulalui sejak kamu hadir sungguh penuh warna. Aku suka bila kau menjemputku sepulang kerja dengan sepeda motormu. Apalagi kalau kita mampir di warung roti bakar itu, mengobrolkan apa saja.
Waktu kaubonceng, duduk menyamping di belakangmu, rasanya nyaman sekali merangkulkan tanganku di perutmu. Aku suka menempelkan telinga kananku di punggungmu, mencoba mendengar detak jantungmu.

Itu catatan bertanggal 30 Juni 1999. Tak lama sebelum itu aku berhasil membeli sepeda motor bekas dengan meminjam uang dari sana-sini. Aku ingin lebih sering membawanya ke mana-mana. Pukul 16.30 aku pulang bekerja, pukul 16.45 ia pulang bekerja. Begitu pulang bekerja aku menyusulnya, kami sering melepas lelah di warung roti bakar di Simpang Lima.
Aku menempelkan tanganku ke beberapa bagian punggungku, benarkah detak jantung manusia bisa didengar dari situ? Amelia, Amelia... ada-ada saja! Kuambil fotonya yang terselip di halaman buku hariannya, kuelus-elus wajahnya di foto berukuran 4 x 6 sentimeter itu dengan jempolku. Kutempelkan foto itu di dadaku sebelah kiri.
"Kaudengar sesuatu, Amelia?" bisikku perlahan.
***

Charles,

Aku sangat sedih. Orangtuaku tidak menyetujui hubungan kita. Kau ingin membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit, di kaki Gunung Ungaran. Betapa manis niatmu itu. Aku tidak mau meninggalkanmu, tapi....  

Catatan itu tak bertanggal, berada di antara dua catatan lain yang bertanggal 13 dan 30 Desember 1999. Aku ingat, saat-saat itu kami agak jarang bertemu karena dua kejadian yang membuatku terpuruk. Pertama, aku berhenti bekerja karena toko tempatku bekerja sepi pengunjung. Kedua, aku harus menjual sepeda motorku karena tak bisa melunasi cicilan.
Namun aku tetap memiliki harapan membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit. Harapan itu muncul karena kami sering ke Gombel, wilayah yang tinggi di Semarang. Selain ke warung roti bakar itu, Amelia sangat suka bila kuajak ke Gombel. Kami berangkat ke Gombel pukul lima sore dari Simpang Lima. Sampai di Gombel sekitar setengah enam, matahari akan terbenam. Di sana ada taman yang asri. Dari taman itu kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu di Semarang.
Betapa damai rasanya: dari terang menuju remang, dari remang menuju gelap... Amelia, ia ada di sampingku.
Sekarang, di sini, di rumah kecil di kaki bukit yang akhirnya berhasil kutegakkan, aku membacai catatan-catatan Amelia. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan baru menjadi distributor kain, membeli rumah tipe 40 dengan mencicil di Ungaran. Kupandangi lagi foto Amelia, dan kulihat kerlap-kerlip lampu yang terbentang di depanku.
Andai kau ada di sini, Amelia....
***

Charles,

Betapa aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Di Surabaya semuanya berubah. Suamiku orang terpelajar, hidup kami bisa dibilang mewah. Tapi aku kehilangan saat-saat yang indah seperti dulu.
Sudahlah, aku berniat memulai babak baru. Aku tak akan menulis namamu lagi. Lagipula, sejak dulu buku ini memang kuniatkan sebagai catatanku saja, bukan catatan untuk Charles.
Aduh... Charles, Charles, kenapa namamu selalu saja ingin kusebut?
Ampuni aku, Tuhan, jikalau masih terus berharap kepadanya. Aku tidak akan pernah lupa kepada pria baik hati yang datang kepadaku saat gerimis dan memayungiku dengan mesra.

Itulah catatan terakhir Amelia yang ditulis diawali namaku, bertanggal 22 Februari 2001. Sejak Januari 2000 aku tak pernah bertemu Amelia, ia menikah April 2000. Membayangkannya masih sering memikirkanku selama lebih dari setahun sejak kami berpisah membuatku tersanjung.
Ia menepati janjinya saat aku membuka halaman-halaman belakang buku harian itu. Amelia bercerita tentang suaminya yang sibuk bekerja dan jarang memerhatikannya. Mereka juga tak kunjung mendapat keturunan. Buku harian Amelia makin jarang ditulis sejak 2007. Catatan-catatan terakhir yang ditulisnya adalah tentang penyakitnya—ada empat catatan. Aku merasakan kepedihan mendalam saat membaca kalimat ini: "Aku siap menjemput maut, Tuhan, bila itu takdir-Mu. Mungkin, di sisi-Mu aku lebih bahagia."
***

8 Februari 2010—berita kematian Amelia sampai kepadaku. Ridwan, adiknya, yang mengabariku. Ia menjadi temanku di media sosial, walau kami jarang berinteraksi. Baru saat kakaknya meninggal ia mengirimiku pesan, menanyakan nomor teleponku. "Dia meninggal semalam. Kanker darahnya nggak tertolong, Mas. Besok siang dimakamkan di Bergota," katanya dengan suara serak di telepon.
Aku datang ke pemakaman di tengah kota Semarang itu, memasrahkan Amelia dalam genggaman Tuhan Yesus. Memandangi foto Amelia berukuran besar di situ membuatku rindu sekaligus putus asa. Setelah bertahun-tahun tidak saling bertukar kabar, rasa sayangku kepadanya ternyata tak pernah sirna.
Buku harian Amelia ditemukan Ridwan, lalu diberikannya kepadaku beberapa hari setelah pemakaman. "Dulu dia pernah menunjukkan catatan tentang Mas Charles waktu kalian masih pacaran."
"Lalu, bagaimana buku ini ketemu?"
"Setelah pemakaman aku ke Surabaya mengantar suami kakak. Di Surabaya, iseng-iseng aku ke gudang, kutemukan buku ini."
Aku tidak tahu apakah suaminya pernah mengetahui keberadaan buku itu. Membacanya, aku pun sadar, Amelia memiliki sudut pandang berbeda denganku dalam mengenang berbagai kebersamaan kami. Kenangannya kini menjadi kenanganku.
Malam ini, rasa rinduku begitu besar kepada Amelia. Tahun-tahun berlalu, namun kenangan memayungi gadis yang pandai membuat "kopi paling gembira sedunia" itu tak pernah layu. Gerimis turun dari langit. Aku mengambil bolpoin, menuliskan kata-kataku di halaman terakhir buku harian lusuh itu:
Selamat tinggal, Amelia, kekasih dalam kehidupanku. Kau pergi, tiada lagi kata kembali. Selamat jalan, akan ada banyak sudut kenangan dalam hatiku yang akan kucipta dan kuhampiri untukmu, hanya untukmu, lagi dan lagi...
karena kau akan selalu tinggal di sini.

***
Sidik Nugroho

Semarang, Malang, Pontianak; 2012, 2017; 
dimuat di Majalah Hidup edisi 21 April 2019.
Cerita untuk mengenang masa-masa SMA di Semarang, 1995-1998, 
mulai ditulis tak lama setelah menyaksikan akting Gene Kelly dalam 
film Singin' in the Rain.