Tuesday, June 12, 2018
Napas Terakhir
Tuesday, April 24, 2018
Cerpen: Aphiemi*)
PAGI itu, setelah Bayu dan Vita menyusuri pematang sawah, Nindy, istri Bayu, mengeluh, “Mas, hari ini aku nggak ikut ke gereja. Kepalaku pusing dari tadi subuh.”
SETENGAH jam berlalu di gereja, Vita mengikuti ibadah dengan khidmat. Ia sering bertanya kalau mendengarkan suara musik, “Apa itu, Pa?”, atau “Papa nyanyi apa?”. Bayu berkali-kali menempelkan telunjuk di bibir sambil mendesis, “Ssst...,” agar putrinya tenang. Kalau Bayu duduk, ia duduk di samping Bayu; kalau Bayu berdiri, ia berdiri di kursi panjang dari papan.
Mulut Vita bergerak-gerak, matanya makin lama makin sipit.
“Pengampunan adalah bagian dari iman. Tak mungkin orang bisa mengampuni bila ia tak beriman kepada Tuhan—Tuhan tak kelihatan, pengampunan sulit dinalar. Adakah dendam di hatimu? Ampuni. Adakah kepahitan dalam jiwamu? Lepaskan.”
Mata Vita terpejam seiring kata-kata pastor itu. Hingga khotbah berakhir, Vita masih terlelap. Dan tak lama setelah khotbah selesai...
“BYAR!!! PRANG!!! DUARRR!!!”
VITA dirawat tiga hari di rumah sakit. Selain Vita, ada tiga anak dan dua orang dewasa yang menjadi korban serangan tak terduga pagi itu. Hingga Vita keluar dari rumah sakit, kabar seputar motif pelaku pengeboman masih simpang siur. Saat pastor yang berkhotbah Minggu itu mendatangi Bayu, Nindy, dan Vita pada hari kedua Vita dirawat di rumah sakit, ia tersenyum lebar. “Adik manis akan segera sembuh. Siapa namamu?”
“ALO cabe... apa kabaw?” kata Vita begitu sampai di kebun di seberang sawah itu. Ia sampai di sana digendong Bayu. Perban menutupi punggung dan kakinya, ia masih tertatih-tatih kalau berjalan. Pelaku pengeboman masih terus diselidiki, ada dugaan melakukannya karena salah menafsirkan ajaran agama. Sambil memandang Vita, Bayu merenung, anak-anak tak membutuhkan agama untuk bergembira, mereka memerlukan imajinasi. Apakah orang dewasa hanya membutuhkan agama untuk bergembira, sehingga mereka lupa berimajinasi?
Tuesday, January 9, 2018
Sensor Mandiri, Kekerasan Remaja, dan Pendampingan Orangtua
TAHUN lalu, kasus-kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja sungguh memprihatinkan. Kita mungkin masing ingat, pada 31 Maret, Krisna Wahyu Nurachmad (15 tahun), siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, ditemukan tewas di barak sekolahnya. Mundur ke belakang: Ahmad Andika Baskara (19 tahun), siswa jurusan Teknik Mesin kelas IX SMK Bunda Kandung tewas dalam tawuran di flyover Pasar Rebo, Jakarta, pada 14 Februari. Kemudian, pada 11 Maret, Edi Gilang Febriyanto (17 tahun) dari SMK Abdi Karya juga tewas pada tawuran di Pondok Gede, Bekasi.
Menjelang akhir September 2017, kekerasan remaja juga kembali menyita perhatian publik. Hilarius Christian Event Raharjo, siswa SMA Budi Mulia Bogor korban ‘Gladiator’ (duel satu lawan satu) yang meninggal 29 Januari 2016 lalu, makamnya dibongkar dan jenazahnya diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya secara pasti. Pembongkaran makam dan autopsi dilakukan setelah ibu korban, Maria Agnes, menulis di media sosial tentang ketidakadilan yang ia rasakan.
Belum lagi kasus grup Facebook yang beberapa anggotanya adalah pengidap pedofilia yang mencari mangsa di grup tersebut. Juga, yang tak kalah memprihatinkan, beberapa kali beredar video di Internet, beberapa remaja—bahkan ada juga yang masih anak SD—yang memukuli temannya beramai-ramai. Yang dipukuli tak melawan walaupun menjadi sasaran kekerasan. Berbagai kasus kekerasan remaja itu pun mengundang tanya, apakah film atau tayangan di televisi turut mengambil peran?
Sensor dan Rating
DALAM Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (LSF) disebutkan bahwa sensor film merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film dan iklan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum. Hal-hal yang disensor dalam sebuah film diatur dalam Pasal 29 yang membahas Pedoman Penyensoran dan dijabarkan lebih jelas di Pasal 30 tentang Kriteria Penyensoran.
Kata “penelitian” menjadi menarik dalam definisi itu. Sebuah film yang lulus sensor ternyata diteliti dulu. Setelah dinyatakan lulus sensor, film itu pun diberi rating atau penggolongan usia penonton, seperti yang disebutkan di Pasal 32. Ada empat golongan usia atau umur yang ditentukan, yaitu: film untuk penonton semua umur, berumur 13 tahun atau lebih, berumur 17 tahun atau lebih, dan berumur 21 tahun atau lebih. Pasal 33 hingga 37 menyebutkan berbagai syarat dan tolok ukur agar suatu film layak ditonton oleh golongan usia tertentu seperti yang diterakan di Pasal 32.
Bila dicermati, pasal dan ayat-ayat di atas—yang bisa dikatakan menjadi rambu-rambu bagi penyensoran dan rating—memuat agak banyak kata “tidak”, terutama di Pasal 33 yang mengatur film untuk ditonton semua umur dan Pasal 34 yang mengatur film untuk penonton berumur 13 tahun atau lebih. Beberapa di antaranya: “tidak mempertontonkan adegan kekerasan” dalam Pasal 33 huruf (d), “tidak mengandung adegan visual horor dan sadis” dalam Pasal 33 huruf (h), atau “tidak menampilkan adegan yang peka ditiru oleh usia peralihan dari anak-anak ke remaja” dalam Pasal 34 huruf (c).
Kalimat yang diawali dengan kata-kata “tidak mempertontonkan”, “tidak mengandung”, atau “tidak menampilkan” dapat menjadi indikasi, bahwa peraturan tersebut dibuat untuk melindungi anak dan remaja selaku penonton. Ini tentunya disadari oleh keyakinan dan pengetahuan bersama, bahwa anak dan remaja adalah golongan usia yang rentan meniru apa yang ia tonton, entah itu baik atau buruk.
Kekerasan Remaja
TIDAK mudah menyimpulkan dan memastikan, bahwa kekerasan yang dilakukan dan terjadi di kalangan remaja juga dipengaruhi film yang ditonton. Perlu ada kajian atau survei lebih mendalam tentang hal itu. Dan di Indonesia, selain film, tayangan yang mendapat tempat di masyarakat adalah sinetron.
Dalam perkembangannya, sinetron beberapa kali mendapat rapor merah. Pada 2013-2014, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat pernyataan tentang sepuluh judul sinetron yang tidak layak tonton karena dianggap tidak mendidik, serta berpotensi memberikan pengaruh perilaku kekerasan terhadap anak.
Komisioner KPI sebelum menyampaikan pernyataan itu menerima pengaduan cukup banyak, dari sekitar 1600 orang. Tidak sedikit orang yang jadi pesimistis dan waswas terhadap sinetron. Kita mungkin akrab dengan meme yang beredar luas, berisi gambar guru dan artis sinetron; di meme itu tertulis bahwa guru dibayar murah membentuk moral anak bangsa, sementara artis sinetron dibayar mahal merusaknya.
Walaupun demikian, ada suara lain yang menganggap bahwa sinetron berperan penting dalam industri film bila menengoknya secara historis. Totot Indrarto dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan, “Kita boleh saja mencaci sinetron, tapi dari situlah sesungguhnya tumbuh etos kerja dan embrio industri dalam memproduksi film.” Ia juga membandingkan pertumbuhan itu dengan Srimulat, kelompok komedi yang bertahan selama puluhan tahun dan tidak pernah kehabisan kreativitas karena dipaksa memproduksi lawakan.
Pendampingan Orangtua
INDUSTRI film yang bertumbuh pesat pun melahirkan tantangan baru. Kreativitas dan ekspresi yang hendak diwujudkan para sineas tentu juga makin beragam, selain perlu diawasi. Pemerintah—dalam hal ini LSF—telah menetapkan rumusan kerja penyensoran seperti yang tadi dibahas dalam peraturan di muka. Tantangan itu pun mendatangi pihak lain, yaitu orangtua, untuk melakukan sensor mandiri.
Walaupun LSF sudah menyensor dan merilis rating tiap film yang beredar, anak dan remaja tak serta-merta suka atau selalu mau menonton film yang sesuai golongan usia mereka. Rating pun bisa menjadi sangat lentur ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa anak dan remaja zaman sekarang akrab dengan gawai yang menjadi medium penyalur beragam jenis tontonan. Jadi, jelaslah di sini, orangtua memainkan peran terpenting dalam soal seleksi dan konsumsi film bagi keluarga.
Berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan remaja yang dipaparkan di awal dapat dicegah dari dalam keluarga. Untuk menghindarkan anak dan remaja menonton tayangan yang bukan untuk mereka, kepedulian orangtua tak bisa ditawar. Salah satu bentuk kepedulian itu adalah dengan mendampingi anak menonton.
Orangtua yang memilihkan film dan tontonan yang menginspirasi dan bermanfaat untuk anak-anaknya akan membuat mereka jadi lebih menghargai kehidupan. Orangtua pun, misalnya, perlu memahami jenis-jenis rating, sesekali mendiskusikan film yang ditonton bersama anak, atau mencaritahu apa yang diserap dan dipahami anak dari sebuah film.
Bila orangtua mau berkomunikasi dengan anak tentang film yang patut baginya, anak bisa memiliki pemahaman tentang moral dan pergaulan sosial. Dan yang tak kalah menarik adalah perbincangan yang lebih luas tentang film itu sendiri. Film menawarkan refleksi dan hiburan; dunia film adalah dunia imajinasi, penciptaan, dan pengetahuan. Membincang film dengan anak—bahkan dengan siapa pun—berarti membincang gagasan-gagasan tentang kreativitas dan imajinasi dalam kehidupan manusia.
Tuesday, October 10, 2017
Teror dan Ketakutan dari Sejarah Kelam
Namun, hingga Ibu dimakamkan, Rini si
anak tertua yang ganti menjadi ‘Ibu’ untuk adik-adiknya awalnya tampak tak
menduga, keluarganya bakal mengalami kunjungan makhluk halus yang mirip arwah
Ibu. Ketika bertemu dengan ustadz di kampungnya, Ayah (Bront Palarae) juga
mengatakan bahwa mereka tak pernah menunaikan salat. Setelah Ibu meninggal dan
dimakamkan, hal-hal ganjil mulai mendatangi Rini (Tara Basro) dan adik-adiknya,
yaitu Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat).Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Pemain: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Ayu Laksmi
Tuesday, September 12, 2017
Nostalgia: Jaminan Sukses Film Indonesia?
Sejak diputar pertama kali pada 31 Agustus 2017, lima hari kemudian, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 meraup penonton dua juta lebih. Sebuah pencapaian fantastis, yang mungkin akan menyusul seri sebelumnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.
Film di seri kedua dibuka dengan rangkaian beberapa adegan di seri sebelumnya untuk membimbing penonton mengingat—atau mendapat gambaran bagi yang belum menonton seri sebelumnya—cerita di seri pertama. Di seri pertama, cerita diakhiri adegan tas yang tertukar. Tas yang berisi buku yang memuat informasi lokasi harta karun dibawa gadis cantik berbaju merah, yang belakangan diketahui bernama Nadia (Nur Fazura), seorang peneliti dari Malaysia.
Pertemuan Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), Indro (Tora Sudiro), dan Sophie (Hannah Al Rashid) dengan Nadia di pantai pun menjadi titik terang bagi mereka yang berutang karena menghancurkan lukisan mahal. Utang itu akan lunas kalau harta karun itu bisa ditemukan. Setelah dipelajari, harta karun itu berada di pulau terpencil di bagian barat Malaysia.
Sampai di situ, penonton digiring untuk lepas dari bayang-bayang seragam polisi (CHIPS) yang dikenakan tiga tokoh utama ini di seri pertama. Guyonan demi guyonan pun disuguhkan, dari yang sederhana seperti plesetan akibat salah dengar (Lab Aran di Universitas Putra Malaysia diplesetkan menjadi Lebaran) hingga yang tidak masuk akal (dada Kasino yang menggembung akibat serum yang disuntikkan seorang ilmuwan di sana).
Guyonan terus berlanjut. Dalam pencarian harta karun, Dono ketemu kuntilanak yang tersangkut di pohon dan minta diturunkan, Indro berkelahi dengan beberapa pocong, dan Kasino berkelahi dengan pohon-pohon yang bergerak dengan jurus-jurus silat—hmmm... bertujuan mengait-ngaitkan dengan film Wiro Sableng yang sedang digarap?
Penulis skenario dan sutradara tampaknya paham, komedi terbuka lebar untuk berbagai keliaran dan ketidakmasukakalan. Lebih-lebih, ketika yang menjadi pijakan untuk mengeksplorasi keduanya adalah tokoh-tokoh ikonik komedi masa silam yang juga memang melakukan hal serupa.
Di film-film Warkop DKI pembaca mungkin ingat ketika Dono Kasino Indro menyamar jadi perempuan dalam Bisa Naik Bisa Turun (1991), padahal penyamaran itu terlihat jelas. Atau Dono yang saat menyamar jadi wanita dalam Maju Kena Mundur Kena (1983) ikut bertanding dalam sepakbola wanita. Di babak pertama, skor pertandingan 11-0. Adu jotos sempat terjadi gara-gara pemain saling mencurangi. Dono suka berlari ke sana kemari, terlihat paling aktif dan gembira, dan setelah mencetak gol cengengesan meremasi bokong para pemain wanita.
Di film ini, kehadiran para wanita seksi—yang di film-film Warkop DKI menjadi ciri khas—tampaknya berkurang agak banyak. Yang terbilang paling hot di film ini hanya saat mereka mengamati gadis berbikini lewat teropong. Apakah pengurangan ini demi menghindari sensor? Mungkin saja. Saat Kasino dadanya menggembung, jadi mirip payudara wanita berukuran jumbo, ada bagian yang tampaknya menyentil kebijakan sensor. Blur berbentuk kotak-kotak yang biasanya ditampilkan di televisi untuk memburamkan bagian-bagian tertentu sempat muncul, menutupi dadanya, tapi ia geser dengan tangannya.
Namun, selain dugaan saya untuk menghindari sensor, melihat betapa kritisnya warganet merespons berbagai persoalan, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan diskriminasi gender, tampaknya sutradara dan penulis skenario memilih jalur aman. Guyonan-guyonan yang misigonis dalam Warkop DKI jika dipertahankan dan diadaptasi dalam Warkop DKI Reborn malah sangat mungkin menuai kritik dan hujatan.
Guyonan yang paling menggelitik di film ini adalah penerapan teknologi CGI yang memungkinkan para tokoh bertemu dengan tokoh atau aktor film masa lalu seperti Rhoma Irama, Jaka Sembung, dan Suzanna yang suka makan sate dan soto. Para penonton yang akrab dengan tokoh-tokoh itu tentu akan terkejut menyaksikan pertemuan-pertemuan itu.
Walaupun tampaknya sudah memilih jalur aman, juga berupaya menampilkan ragam komedi dari berbagai sisi, tetap ada yang mengganjal di film ini. Yang paling mengganggu adalah alur. Alur menjadi elemen yang agak tenggelam karena sutradara berhasrat menyuguhkan komedi di tiap adegan.
Misalnya, adegan pertemuan Nadia dengan Kasino di pantai. Sangat kebetulan. Dari sekian banyak orang di pantai itu, tampaknya terlalu cepat dan tak terduga bagi Kasino untuk bertemu orang yang selama ini ia dan tiga rekannya cari-cari. Sebelum bertemu, ia bahkan terpesona dengan Nadia, berlagak jadi orang yang pura-pura tenggelam agar ditolongi. Bahkan setelah bertemu, ekspresi mereka tampak biasa saja, kurang dramatis, padahal Nadia adalah tokoh untuk membuka kunci kerumitan yang mereka temui sebelumnya. Di sini pun terlihat, yang ingin ditonjolkan lucunya, alurnya tak begitu penting.
Sudah barang tentu, alur yang kurang runut tak terlalu menjadi soal. Dalam film komedi, yang lebih penting memang humornya. Toh masyarakat butuh hiburan, tertawa di bioskop beramai-ramai sungguh mengasyikkan. Yang kurang lucu pun jadi agak lucu, atau malah jadi lumayan lucu kalau bioskopnya ramai. Namun, benarkah film hanya hiburan?
Totot Indrarto, dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan bahwa 2016 adalah “tahun kebangkitan kembali film Indonesia” setelah 2008 yang sering disebut sebagai “masa kejayaan film Indonesia jilid baru”. Sebabnya, “sampai dengan akhir 2016 total jumlah penonton bisa menyamai perolehan 2008, yakni 32 juta penonton.”
2016 menjadi tahun penting dalam industri perfilman, dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang rilis pada tahun itu tercatat sebagai film yang paling banyak ditonton sepanjang masa, yaitu 6,8 juta. Dan perolehan penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 juga digadang-gadang bakal mirip—atau mungkin melampaui—seri sebelumnya. Indikasi apakah ini? Terlalu dini untuk menyatakan bahwa fakta ini menunjukkan bahwa penonton film kebanyakan sekadar mencari hiburan dengan menonton film. Toh, film yang terkategori menghibur (baca: membangkitkan gelak tawa) bukan hanya Warkop DKI Reborn, ada film-film komedi lainnya.
Kata kunci yang lebih pas mungkin bukan menghibur, tapi nostalgia. Dono, Kasino, dan Indro adalah tokoh-tokoh yang dirindukan penonton dari segala usia dan kalangan untuk terus hidup dan menyuguhkan kekonyolan-kekonyolan baru. Dan kerinduan itu telah ditangkap para pembuat film. Filmnya pun sukses.
Ahirnya, setelah menonton film ini, yang menurut saya kelucuannya agak berkurang dari yang pertama, saya malah berpikir untuk menjadi orang sukses daripada lucu dalam perjalanan pulang ke rumah.
Ah, tapi sayang, saya kurang pandai bernostalgia. (*)
Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan
ANDA mungkin pernah membaca kalimat ini: “Seorang suami yang membantu istrinya berbelanja derajat ketampanannya naik 180 derajat.” Atau kata-kata lain yang mirip dengan itu, yang hendak menegaskan bahwa hal-hal baik, mulia, atau luhur yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dapat menimbulkan kesan mendalam. “… derajat ketampanannya naik 180 derajat” hanyalah frasa guyonan yang dapat diganti dengan yang lebih serius atau puitis seperti “… sungguh tak akan terlupakan” atau “… adalah suami idaman semua istri”.
Mengapa kata-kata yang memuat guyonan, atau ungkapan kekaguman yang serius atau puitis itu bisa terlontar? Tanpa bermaksud seksis, sederhana saja alasannya: kebanyakan kaum pria lebih suka melihat-lihat, berkeliling, atau berjalan-jalan sendiri bila istrinya sedang berbelanja. Bagi (sebagian besar) istri, ditemani suami berbelanja jadi terasa istimewa.
Lalu, bagaimana dengan suami yang memutuskan menjadi sosok yang suka menemani istri berbelanja? Guyonan dan kekaguman itu tentu tak pernah terlontar. Saat hal-hal yang baik, luhur, atau mulia menjadi biasa, kebaikan malah bisa terasa hambar. Itulah kesan terkuat ketika menonton film Nyai Ahmad Dahlan.
Nyai Ahmad Dahlan (berikutnya disebut Nyai Dahlan, diperankan Tika Bravani) adalah sosok yang dekat dengan tiga kata itu: baik, luhur, dan mulia. Di bagian awal film, saat melihat beberapa teman wanitanya sembunyi-sembunyi menonton orang sedang mengaji, ia menyarankan agar teman-temannya diperbolehkan ikut. Teman-temannya yang sering bersamanya pun diajaknya rajin menabung saat mereka bertumbuh remaja.
Ketika sudah menikah dengan Kiai Dahlan (David Chalik), saat bertemu dengan petani perempuan yang sedang hamil, Nyai Dahlan pun memberi wejangan. Petani itu, yang mengenakan kalung dari bawang putih sebagai jimat untuk menolak bahaya, diberitahunya untuk bergantung kepada Tuhan. Kemudian, di dapur, waktu mengobrol dengan pembantunya, ia mengingatkan agar bila kelebihan makanan harus mau berbagi dengan orang yang kekurangan.
Begitulah kebaikan demi kebaikan lainnya pun terus bergulir di sepanjang film—dalam wejangan, dalam dakwah, juga dalam keseharian Nyai Dahlan.
Namun, saya terkesan dengan adegan ketika Kiai dan Nyai Dahlan berada di kamar. Di situ, Kiai Dahlan mengutarakan niatnya membangun Muhammadiyah. Terhadap niat itu Nyai Dahlan menyatakan siap mewakafkan hidupnya. Di situ sorot kamera bergerak tepat, wajah Nyai Dahlan ditampilkan terang; sementara wajah Kiai Dahlan redup, nyaris gelap—ya, ini film tentang Nyai Dahlan!
Adegan lain yang menghibur adalah pelajaran bahasa Latin. Di papan, seorang guru menulis ‘ajam’ (ejaan lama) sambil menggambar ayam. Di antara para wanita yang belajar ada yang menyahut, huruf-huruf itu dibaca ‘pitik’ (bahasa Jawa untuk ayam) karena belum bisa membaca, hanya melihat gambar. Murid-murid lainnya pun tergelak. Setelah semua tertawa, sebuah lagu tentang hakikat belajar dalam bahasa Jawa terlantun merdu.
Selebihnya, tak banyak adegan memukau. Datar, dan malah menimbulkan kesan yang samar tentang Nyai Dahlan. Bila menyebut Ahmad Dahlan, orang akan langsung mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Saya yang tidak akrab dengan sosok Nyai Dahlan sebelumnya jadi merenung setelah menonton film ini: Jadi, siapa sebenarnya Nyai Dahlan yang mau ditunjukkan dalam film ini?
Kalau ia penting sebagai pendamping suami yang bervisi memajukan pendidikan bercorak Islam, mestinya beragam konflik yang mereka temui saat pendirian Muhammadiyah bisa dikisahkan lebih banyak. Atau kalau ia penting sebagai sosok pendiri Aisyiyah, yang berdiri pada 19 Mei 1917, mestinya perjuangan dan kiprahnya di organisasi yang mengangkat derajat perempuan itu diberi porsi lebih besar. Di biopik ini penonton disuguhi kisah dari kecil hingga dewasa yang rentang masanya sangat panjang. Porsi tiap masa nyaris sama, tanpa ada penekanan penting tentang suatu peristiwa yang (diharapkan dapat) identik dengan sosok Nyai Dahlan.
Padahal, peluang untuk memunculkan konflik atau dramatisasi di film ini sebenarnya cukup banyak. Bila dikembangkan lebih jauh, pertentangan Kiai Dahlan dengan orang-orang di Banyuwangi yang tidak mau menerima ajarannya, musuh misterius mirip ninja yang melempar surat kaleng, atau tentara-tentara Jepang yang menyerang pribumi bisa mempertebal latar atau suasana perjuangan di dalam film ini.
Kurangnya dramatisasi dalam skenario—atau mungkin malah peniadaan dramatisasi dalam beberapa peristiwa tertentu—membuatnya datar mirip film dokumenter, bukan film cerita. Padahal Tika Bravani berakting bagus, terutama saat ia menjadi Nyai Dahlan yang tua. Ia tampil lebih karismatis, berwibawa, dan gigih melanjutkan perjuangan suaminya. Biopik ini kehilangan daya pikat karena skenarionya tampak terlalu membawa beban berat menampilkan Nyai Dahlan sebagai sosok penting dan mulia, berjasa bagi agama dan bangsa; tapi di sisi lain kurang menonjolkan kiprahnya yang paling signifikan dalam perjuangan bangsa maupun Muhammadiyah. (*)
DATA FILM
Judul : Nyai Ahmad Dahlan
Sutradara : Olla Atta Adonara
Produser: Dyah Kalsitorini, Widyastuti, Siti Muthmainah
Penulis: Dyah Kalsitorini
Pemeran: Tika Bravani, David Chalik, Cok Simbara
Rilis: 24 Agustus 2017
CATATAN PUBLIKASI
Ulasan ini dimuat di Litera.id, 7 September 2017. Ulasan bisa diakses di sini: http://litera.id/2017/09/07/nyai-ahmad-dahlan-biopik-yang-datar-dan-terlalu-penuh-kebaikan/
Tuesday, July 11, 2017
Moralitas, Boikot, dan LGBT
Ron Woodroof, artis rodeo, divonis dokter mengidap AIDS, punya waktu hidup tinggal 30 hari. Karena vonis itu ia gelisah, berusaha mengobati dirinya dengan segala cara sampai ia bertemu dokter di Meksiko yang menjual obat-obat alternatif. Karena merasakan pengaruhnya—usianya lebih lama daripada vonis dokter—ia pun menjual obat-obat alternatif itu di Dallas kepada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, dibantu waria bernama Rayon.
Awalnya, Ron adalah homofobia. Ia begitu sinis—bahkan jijik—melihat
Rayon. Namun, karena Rayon membantunya mendapatkan pembeli obat-obat alternatif
itu, hubungan keduanya makin akrab. (Keterangan: gambar diambil dari cinemablend.com)




