Tuesday, January 9, 2018

Sensor Mandiri, Kekerasan Remaja, dan Pendampingan Orangtua

TAHUN lalu, kasus-kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja sungguh memprihatinkan. Kita mungkin masing ingat, pada 31 Maret, Krisna Wahyu Nurachmad (15 tahun), siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, ditemukan tewas di barak sekolahnya. Mundur ke belakang: Ahmad Andika Baskara (19 tahun), siswa jurusan Teknik Mesin kelas IX SMK Bunda Kandung tewas dalam tawuran di flyover Pasar Rebo, Jakarta, pada 14 Februari. Kemudian, pada 11 Maret, Edi Gilang Febriyanto (17 tahun) dari SMK Abdi Karya juga tewas pada tawuran di Pondok Gede, Bekasi.

Menjelang akhir September 2017, kekerasan remaja juga kembali menyita perhatian publik. Hilarius Christian Event Raharjo, siswa SMA Budi Mulia Bogor korban ‘Gladiator’ (duel satu lawan satu) yang meninggal 29 Januari 2016 lalu, makamnya dibongkar dan jenazahnya diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya secara pasti. Pembongkaran makam dan autopsi dilakukan setelah ibu korban, Maria Agnes, menulis di media sosial tentang ketidakadilan yang ia rasakan.

Belum lagi kasus grup Facebook yang beberapa anggotanya adalah pengidap pedofilia yang mencari mangsa di grup tersebut. Juga, yang tak kalah memprihatinkan, beberapa kali beredar video di Internet, beberapa remaja—bahkan ada juga yang masih anak SD—yang memukuli temannya beramai-ramai. Yang dipukuli tak melawan walaupun menjadi sasaran kekerasan. Berbagai kasus kekerasan remaja itu pun mengundang tanya, apakah film atau tayangan di televisi turut mengambil peran? 

Sensor dan Rating

DALAM Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (LSF) disebutkan bahwa sensor film merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film dan iklan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum. Hal-hal yang disensor dalam sebuah film diatur dalam Pasal 29 yang membahas Pedoman Penyensoran dan dijabarkan lebih jelas di Pasal 30 tentang Kriteria Penyensoran.

Kata “penelitian” menjadi menarik dalam definisi itu. Sebuah film yang lulus sensor ternyata diteliti dulu. Setelah dinyatakan lulus sensor, film itu pun diberi rating atau penggolongan usia penonton, seperti yang disebutkan di Pasal 32. Ada empat golongan usia atau umur yang ditentukan, yaitu: film untuk penonton semua umur, berumur 13 tahun atau lebih, berumur 17 tahun atau lebih, dan berumur 21 tahun atau lebih. Pasal 33 hingga 37 menyebutkan berbagai syarat dan tolok ukur agar suatu film layak ditonton oleh golongan usia tertentu seperti yang diterakan di Pasal 32.

Bila dicermati, pasal dan ayat-ayat di atas—yang bisa dikatakan menjadi rambu-rambu bagi penyensoran dan rating—memuat agak banyak kata “tidak”, terutama di Pasal 33 yang mengatur film untuk ditonton semua umur dan Pasal 34 yang mengatur film untuk penonton berumur 13 tahun atau lebih. Beberapa di antaranya: “tidak mempertontonkan adegan kekerasan” dalam Pasal 33 huruf (d), “tidak mengandung adegan visual horor dan sadis” dalam Pasal 33 huruf (h), atau “tidak menampilkan adegan yang peka ditiru oleh usia peralihan dari anak-anak ke remaja” dalam Pasal 34 huruf (c). 

Kalimat yang diawali dengan kata-kata “tidak mempertontonkan”, “tidak mengandung”, atau “tidak menampilkan” dapat menjadi indikasi, bahwa peraturan tersebut dibuat untuk melindungi anak dan remaja selaku penonton. Ini tentunya disadari oleh keyakinan dan pengetahuan bersama, bahwa anak dan remaja adalah golongan usia yang rentan meniru apa yang ia tonton, entah itu baik atau buruk. 

Kekerasan Remaja

TIDAK mudah menyimpulkan dan memastikan, bahwa kekerasan yang dilakukan dan terjadi di kalangan remaja juga dipengaruhi film yang ditonton. Perlu ada kajian atau survei lebih mendalam tentang hal itu. Dan di Indonesia, selain film, tayangan yang mendapat tempat di masyarakat adalah sinetron. 

Dalam perkembangannya, sinetron beberapa kali mendapat rapor merah. Pada 2013-2014, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat pernyataan tentang sepuluh judul sinetron yang tidak layak tonton karena dianggap tidak mendidik, serta berpotensi memberikan pengaruh perilaku kekerasan terhadap anak. 

Komisioner KPI sebelum menyampaikan pernyataan itu menerima pengaduan cukup banyak, dari sekitar 1600 orang. Tidak sedikit orang yang jadi pesimistis dan waswas terhadap sinetron. Kita mungkin akrab dengan meme yang beredar luas, berisi gambar guru dan artis sinetron; di meme itu tertulis bahwa guru dibayar murah membentuk moral anak bangsa, sementara artis sinetron dibayar mahal merusaknya.

Walaupun demikian, ada suara lain yang menganggap bahwa sinetron berperan penting dalam industri film bila menengoknya secara historis. Totot Indrarto dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan, “Kita boleh saja mencaci sinetron, tapi dari situlah sesungguhnya tumbuh etos kerja dan embrio industri dalam memproduksi film.” Ia juga membandingkan pertumbuhan itu dengan Srimulat, kelompok komedi yang bertahan selama puluhan tahun dan tidak pernah kehabisan kreativitas karena dipaksa memproduksi lawakan. 

Pendampingan Orangtua 


INDUSTRI film yang bertumbuh pesat pun melahirkan tantangan baru. Kreativitas dan ekspresi yang hendak diwujudkan para sineas tentu juga makin beragam, selain perlu diawasi. Pemerintah—dalam hal ini LSF—telah menetapkan rumusan kerja penyensoran seperti yang tadi dibahas dalam peraturan di muka. Tantangan itu pun mendatangi pihak lain, yaitu orangtua, untuk melakukan sensor mandiri.

Walaupun LSF sudah menyensor dan merilis rating tiap film yang beredar, anak dan remaja tak serta-merta suka atau selalu mau menonton film yang sesuai golongan usia mereka. Rating pun bisa menjadi sangat lentur ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa anak dan remaja zaman sekarang akrab dengan gawai yang menjadi medium penyalur beragam jenis tontonan. Jadi, jelaslah di sini, orangtua memainkan peran terpenting dalam soal seleksi dan konsumsi film bagi keluarga. 

Berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan remaja yang dipaparkan di awal dapat dicegah dari dalam keluarga. Untuk menghindarkan anak dan remaja menonton tayangan yang bukan untuk mereka, kepedulian orangtua tak bisa ditawar. Salah satu bentuk kepedulian itu adalah dengan mendampingi anak menonton. 

Orangtua yang memilihkan film dan tontonan yang menginspirasi dan bermanfaat untuk anak-anaknya akan membuat mereka jadi lebih menghargai kehidupan. Orangtua pun, misalnya, perlu memahami jenis-jenis rating, sesekali mendiskusikan film yang ditonton bersama anak, atau mencaritahu apa yang diserap dan dipahami anak dari sebuah film. 

Bila orangtua mau berkomunikasi dengan anak tentang film yang patut baginya, anak bisa memiliki pemahaman tentang moral dan pergaulan sosial. Dan yang tak kalah menarik adalah perbincangan yang lebih luas tentang film itu sendiri. Film menawarkan refleksi dan hiburan; dunia film adalah dunia imajinasi, penciptaan, dan pengetahuan. Membincang film dengan anak—bahkan dengan siapa pun—berarti membincang gagasan-gagasan tentang kreativitas dan imajinasi dalam kehidupan manusia. 


Tuesday, October 10, 2017

Teror dan Ketakutan dari Sejarah Kelam

Ibu (Ayu Laksmi), mantan penyanyi, meninggal setelah bertarung cukup lama dengan penyakitnya. Saat sekarat, wajahnya begitu pucat, sudah seperti mayat. Sebelum meninggal ia dirawat, membunyikan lonceng kecil bila perlu bantuan. Di awal film, di tujuh menit pertama, ketakutan sudah disuguhkan. Ibu yang berwajah seperti mayat menatap langit-langit dengan tatapan aneh. Ia bahkan meninggal sambil membuka mata dan mulut.

Namun, hingga Ibu dimakamkan, Rini si anak tertua yang ganti menjadi ‘Ibu’ untuk adik-adiknya awalnya tampak tak menduga, keluarganya bakal mengalami kunjungan makhluk halus yang mirip arwah Ibu. Ketika bertemu dengan ustadz di kampungnya, Ayah (Bront Palarae) juga mengatakan bahwa mereka tak pernah menunaikan salat. Setelah Ibu meninggal dan dimakamkan, hal-hal ganjil mulai mendatangi Rini (Tara Basro) dan adik-adiknya, yaitu Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat).

Rini mulai merasakan ada yang tak beres ketika neneknya jatuh ke dalam sumur dan meninggal. Rini mengantarkan surat yang ditulis neneknya untuk seorang kawannya yang menjadi penulis di majalah Maya. Dari kawan Nenek itu ia tahu, ada misteri yang tertimbun di keluarganya. Pria tua yang menulis di majalah Maya itu—mirip majalah Misteri—mengatakan bahwa ibunya dulu menjadi anggota sekte pengabdi setan.

Sampai di situ, penonton pun digiring memahami sejarah kelam keluarga Rini, diselingi berbagai penampakan dan teror yang mengejutkan di dalam dan sekitar rumah. Penampakan dan teror yang ada di film ini kebanyakan mirip dengan film-film bergenre serupa. Bayangan setan di cermin, kemunculan hantu dari sumur, kursi atau kursi roda yang bergerak sendiri, juga ruangan yang remang atau gelap sebelum hantu muncul adalah beberapa hal—atau katakanlah pola—yang sering muncul dalam film-film horor. Dan, pola itu makin komplit dengan latar rumah yang berada di desa, jauh dari keramaian—bahkan di dekat kuburan!

Film Pengabdi Setan yang digarap Joko Anwar ini merupakan remake dari film berjudul sama yang dirilis tahun 1980. Film ini tetap mengambil latar suasana kehidupan tahun 1980-an. Latar rumah, properti, juga kostum yang dikenakan pemain juga identik dengan yang digunakan masyarakat pada masa itu. Bagi penonton yang mengalami masa kecil dan remaja pada 1980-an, film ini juga menawarkan nostalgia yang menyenangkan, yaitu mendengarkan sandiwara radio. Di film, ada beberapa adegan ketika Tony (Endy Arfian) mendengarkan sandiwara radio pada malam hari. Radio itu menjadi biang ketakutan: menyala sendiri, berganti saluran sendiri, atau mengeluarkan suara Ibu yang sudah tiada.

Para aktor dan aktris bermain sangat luwes, dialog-dialognya pun efektif. Pengungkapan sejarah kelam keluarga—tentang Ibu yang menjadi pengabdi setan—disampaikan perlahan. Dialog di antara para pemain dalam keluarga Rini juga diselingi banyak humor di sana-sini—hal yang agak kurang lazim dalam film horor sebenarnya, namun jadi selingan yang menghibur karena waktunya pas, yaitu pada saat-saat keluarga saling bercengkerama.

Selain Tara Basro yang menjadi Rini, akting M. Adhiyat yang menjadi Ian pun mencuri perhatian. Ian sulit bicara, berwajah lucu karena sering tersenyum, dan sering berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Bahasa isyarat yang dilakukan tiap anggota keluarga kepada Ian awalnya juga menjadi biang kelucuan, lewatnya anggota-anggota keluarga kadang bercanda dengan Ian. (Supaya penonton paham, kata-kata yang dimaksudkan bahasa isyarat disajikan dalam bentuk teks.)

Namun, pada suatu malam, saat salah satu anggota keluarga mengalami semacam kerasukan setan, ia berkata kepada Ian dengan bahasa isyarat: “Aku ingin kamu mati.” Yang awalnya lucu jadi berubah menegakkan bulu kuduk! Adegan menyuguhkan teror lewat bahasa isyarat itu bagi saya sungguh sebuah ide brilian, kejutan tak terduga.

Film ini juga menyuguhkan, katakanlah, pandangan baru, bahwa ustadz juga bisa diserang setan dan mengalami nasib yang malang. Hal ini yang tampaknya jarang ditampilkan di film-film horor Indonesia lama, di mana ustadz selalu tampil sebagai sosok ‘sakti’ yang mengalahkan kekuatan setan. Kemalangan yang menimpa ustadz dalam film mengingatkan saya pada sosok pastur yang malang dalam film Exorcist (1973).

Di tangan Joko Anwar, Pengabdi Setan menjadi sebuah hiburan menegangkan yang tergarap optimal. Pemilihan pendukung nuansa film—selain properti dan kostum—seperti lagu dan musik latar pun dilakukan secara cermat. Dan yang menyenangkan, Pengabdi Setan tak terlalu banyak memberi ceramah untuk berubah menjadi pengabdi Tuhan yang saleh nan setia. Pengabdi Setan adalah kisah manusia-manusia yang malang, yang nyaris tak tahu arah untuk berdamai dengan masa lalu yang kelam—masa lalu yang tak pernah mereka hidupi dan kenali. (*)

Judul: Pengabdi Setan
Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Pemain: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Ayu Laksmi
Rilis: 28 September 2017

Sidik Nugroho, penikmat film, situsnya di sidiknugroho.com

Tuesday, September 12, 2017

Nostalgia: Jaminan Sukses Film Indonesia?

Sidik Nugroho*)

 Sejak diputar pertama kali pada 31 Agustus 2017, lima hari kemudian, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 meraup penonton dua juta lebih. Sebuah pencapaian fantastis, yang mungkin akan menyusul seri sebelumnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.



Film di seri kedua dibuka dengan rangkaian beberapa adegan di seri sebelumnya untuk membimbing penonton mengingat—atau mendapat gambaran bagi yang belum menonton seri sebelumnya—cerita di seri pertama. Di seri pertama, cerita diakhiri adegan tas yang tertukar. Tas yang berisi buku yang memuat informasi lokasi harta karun dibawa gadis cantik berbaju merah, yang belakangan diketahui bernama Nadia (Nur Fazura), seorang peneliti dari Malaysia.
 

Pertemuan Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), Indro (Tora Sudiro), dan Sophie (Hannah Al Rashid) dengan Nadia di pantai pun menjadi titik terang bagi mereka yang berutang karena menghancurkan lukisan mahal. Utang itu akan lunas kalau harta karun itu bisa ditemukan. Setelah dipelajari, harta karun itu berada di pulau terpencil di bagian barat Malaysia.

Sampai di situ, penonton digiring untuk lepas dari bayang-bayang seragam polisi (CHIPS) yang dikenakan tiga tokoh utama ini di seri pertama. Guyonan demi guyonan pun disuguhkan, dari yang sederhana seperti plesetan akibat salah dengar (Lab Aran di Universitas Putra Malaysia diplesetkan menjadi Lebaran) hingga yang tidak masuk akal (dada Kasino yang menggembung akibat serum yang disuntikkan seorang ilmuwan di sana).


Guyonan terus berlanjut. Dalam pencarian harta karun, Dono ketemu kuntilanak yang tersangkut di pohon dan minta diturunkan, Indro berkelahi dengan beberapa pocong, dan Kasino berkelahi dengan pohon-pohon yang bergerak dengan jurus-jurus silat—hmmm... bertujuan mengait-ngaitkan dengan film Wiro Sableng yang sedang digarap?

Penulis skenario dan sutradara tampaknya paham, komedi terbuka lebar untuk berbagai keliaran dan ketidakmasukakalan. Lebih-lebih, ketika yang menjadi pijakan untuk mengeksplorasi keduanya adalah tokoh-tokoh ikonik komedi masa silam yang juga memang melakukan hal serupa.

Di film-film Warkop DKI pembaca mungkin ingat ketika Dono Kasino Indro menyamar jadi perempuan dalam Bisa Naik Bisa Turun (1991), padahal penyamaran itu terlihat jelas. Atau Dono yang saat menyamar jadi wanita dalam Maju Kena Mundur Kena (1983) ikut bertanding dalam sepakbola wanita. Di babak pertama, skor pertandingan 11-0. Adu jotos sempat terjadi gara-gara pemain saling mencurangi. Dono suka berlari ke sana kemari, terlihat paling aktif dan gembira, dan setelah mencetak gol cengengesan meremasi bokong para pemain wanita.


Di film ini, kehadiran para wanita seksi—yang di film-film Warkop DKI menjadi ciri khas—tampaknya berkurang agak banyak. Yang terbilang paling hot di film ini hanya saat mereka mengamati gadis berbikini lewat teropong. Apakah pengurangan ini demi menghindari sensor? Mungkin saja. Saat Kasino dadanya menggembung, jadi mirip payudara wanita berukuran jumbo, ada bagian yang tampaknya menyentil kebijakan sensor. Blur berbentuk kotak-kotak yang biasanya ditampilkan di televisi untuk memburamkan bagian-bagian tertentu sempat muncul, menutupi dadanya, tapi ia geser dengan tangannya.

Namun, selain dugaan saya untuk menghindari sensor, melihat betapa kritisnya warganet merespons berbagai persoalan, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan diskriminasi gender, tampaknya sutradara dan penulis skenario memilih jalur aman. Guyonan-guyonan yang misigonis dalam Warkop DKI jika dipertahankan dan diadaptasi dalam Warkop DKI Reborn malah sangat mungkin menuai kritik dan hujatan.


Guyonan yang paling menggelitik di film ini adalah penerapan teknologi CGI yang memungkinkan para tokoh bertemu dengan tokoh atau aktor film masa lalu seperti Rhoma Irama, Jaka Sembung, dan Suzanna yang suka makan sate dan soto. Para penonton yang akrab dengan tokoh-tokoh itu tentu akan terkejut menyaksikan pertemuan-pertemuan itu.

Walaupun tampaknya sudah memilih jalur aman, juga berupaya menampilkan ragam komedi dari berbagai sisi, tetap ada yang mengganjal di film ini. Yang paling mengganggu adalah alur. Alur menjadi elemen yang agak tenggelam karena sutradara berhasrat menyuguhkan komedi di tiap adegan.


Misalnya, adegan pertemuan Nadia dengan Kasino di pantai. Sangat kebetulan. Dari sekian banyak orang di pantai itu, tampaknya terlalu cepat dan tak terduga bagi Kasino untuk bertemu orang yang selama ini ia dan tiga rekannya cari-cari. Sebelum bertemu, ia bahkan terpesona dengan Nadia, berlagak jadi orang yang pura-pura tenggelam agar ditolongi. Bahkan setelah bertemu, ekspresi mereka tampak biasa saja, kurang dramatis, padahal Nadia adalah tokoh untuk membuka kunci kerumitan yang mereka temui sebelumnya. Di sini pun terlihat, yang ingin ditonjolkan lucunya, alurnya tak begitu penting.


Sudah barang tentu, alur yang kurang runut tak terlalu menjadi soal. Dalam film komedi, yang lebih penting memang humornya. Toh masyarakat butuh hiburan, tertawa di bioskop beramai-ramai sungguh mengasyikkan. Yang kurang lucu pun jadi agak lucu, atau malah jadi lumayan lucu kalau bioskopnya ramai. Namun, benarkah film hanya hiburan?


Totot Indrarto, dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan bahwa 2016 adalah “tahun kebangkitan kembali film Indonesia” setelah 2008 yang sering disebut sebagai “masa kejayaan film Indonesia jilid baru”. Sebabnya, “sampai dengan akhir 2016 total jumlah penonton bisa menyamai perolehan 2008, yakni 32 juta penonton.”


2016 menjadi tahun penting dalam industri perfilman, dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang rilis pada tahun itu tercatat sebagai film yang paling banyak ditonton sepanjang masa, yaitu 6,8 juta. Dan perolehan penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 juga digadang-gadang bakal mirip—atau mungkin melampaui—seri sebelumnya. Indikasi apakah ini? Terlalu dini untuk menyatakan bahwa fakta ini menunjukkan bahwa penonton film kebanyakan sekadar mencari hiburan dengan menonton film. Toh, film yang terkategori menghibur (baca: membangkitkan gelak tawa) bukan hanya Warkop DKI Reborn, ada film-film komedi lainnya.


Kata kunci yang lebih pas mungkin bukan menghibur, tapi nostalgia. Dono, Kasino, dan Indro adalah tokoh-tokoh yang dirindukan penonton dari segala usia dan kalangan untuk terus hidup dan menyuguhkan kekonyolan-kekonyolan baru. Dan kerinduan itu telah ditangkap para pembuat film. Filmnya pun sukses.


Ahirnya, setelah menonton film ini, yang menurut saya kelucuannya agak berkurang dari yang pertama, saya malah berpikir untuk menjadi orang sukses daripada lucu dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ah, tapi sayang, saya kurang pandai bernostalgia. (*)


Judul: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2
Sutradara: Anggy Umbara         
Penulis: Anggy Umbara, Bene Dion Rajagukguk, Andi Awwe Wijaya
Pemain: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Hannah Al Rashid, Nur Fazura, Indro Warkop
Rilis: 31 Agustus 2017

*) Penulis lepas, penikmat film


Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan

ANDA mungkin pernah membaca kalimat ini: “Seorang suami yang membantu istrinya berbelanja derajat ketampanannya naik 180 derajat.” Atau kata-kata lain yang mirip dengan itu, yang hendak menegaskan bahwa hal-hal baik, mulia, atau luhur yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dapat menimbulkan kesan mendalam. “… derajat ketampanannya naik 180 derajat” hanyalah frasa guyonan yang dapat diganti dengan yang lebih serius atau puitis seperti “… sungguh tak akan terlupakan” atau “… adalah suami idaman semua istri”.


Mengapa kata-kata yang memuat guyonan, atau ungkapan kekaguman yang serius atau puitis itu bisa terlontar? Tanpa bermaksud seksis, sederhana saja alasannya: kebanyakan kaum pria lebih suka melihat-lihat, berkeliling, atau berjalan-jalan sendiri bila istrinya sedang berbelanja. Bagi (sebagian besar) istri, ditemani suami berbelanja jadi terasa istimewa.

Lalu, bagaimana dengan suami yang memutuskan menjadi sosok yang suka menemani istri berbelanja? Guyonan dan kekaguman itu tentu tak pernah terlontar. Saat hal-hal yang baik, luhur, atau mulia menjadi biasa, kebaikan malah bisa terasa hambar. Itulah kesan terkuat ketika menonton film Nyai Ahmad Dahlan.

Nyai Ahmad Dahlan (berikutnya disebut Nyai Dahlan, diperankan Tika Bravani) adalah sosok yang dekat dengan tiga kata itu: baik, luhur, dan mulia. Di bagian awal film, saat melihat beberapa teman wanitanya sembunyi-sembunyi menonton orang sedang mengaji, ia menyarankan agar teman-temannya diperbolehkan ikut. Teman-temannya yang sering bersamanya pun diajaknya rajin menabung saat mereka bertumbuh remaja.

Ketika sudah menikah dengan Kiai Dahlan (David Chalik), saat bertemu dengan petani perempuan yang sedang hamil, Nyai Dahlan pun memberi wejangan. Petani itu, yang mengenakan kalung dari bawang putih sebagai jimat untuk menolak bahaya, diberitahunya untuk bergantung kepada Tuhan. Kemudian, di dapur, waktu mengobrol dengan pembantunya, ia mengingatkan agar bila kelebihan makanan harus mau berbagi dengan orang yang kekurangan.

Begitulah kebaikan demi kebaikan lainnya pun terus bergulir di sepanjang film—dalam wejangan, dalam dakwah, juga dalam keseharian Nyai Dahlan.

Namun, saya terkesan dengan adegan ketika Kiai dan Nyai Dahlan berada di kamar. Di situ, Kiai Dahlan mengutarakan niatnya membangun Muhammadiyah. Terhadap niat itu Nyai Dahlan menyatakan siap mewakafkan hidupnya. Di situ sorot kamera bergerak tepat, wajah Nyai Dahlan ditampilkan terang; sementara wajah Kiai Dahlan redup, nyaris gelap—ya, ini film tentang Nyai Dahlan!

Adegan lain yang menghibur adalah pelajaran bahasa Latin. Di papan, seorang guru menulis ‘ajam’ (ejaan lama) sambil menggambar ayam. Di antara para wanita yang belajar ada yang menyahut, huruf-huruf itu dibaca ‘pitik’ (bahasa Jawa untuk ayam) karena belum bisa membaca, hanya melihat gambar. Murid-murid lainnya pun tergelak. Setelah semua tertawa, sebuah lagu tentang hakikat belajar dalam bahasa Jawa terlantun merdu.

Selebihnya, tak banyak adegan memukau. Datar, dan malah menimbulkan kesan yang samar tentang Nyai Dahlan. Bila menyebut Ahmad Dahlan, orang akan langsung mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Saya yang tidak akrab dengan sosok Nyai Dahlan sebelumnya jadi merenung setelah menonton film ini: Jadi, siapa sebenarnya Nyai Dahlan yang mau ditunjukkan dalam film ini?

Kalau ia penting sebagai pendamping suami yang bervisi memajukan pendidikan bercorak Islam, mestinya beragam konflik yang mereka temui saat pendirian Muhammadiyah bisa dikisahkan lebih banyak. Atau kalau ia penting sebagai sosok pendiri Aisyiyah, yang berdiri pada 19 Mei 1917, mestinya perjuangan dan kiprahnya di organisasi yang mengangkat derajat perempuan itu diberi porsi lebih besar. Di biopik ini penonton disuguhi kisah dari kecil hingga dewasa yang rentang masanya sangat panjang. Porsi tiap masa nyaris sama, tanpa ada penekanan penting tentang suatu peristiwa yang (diharapkan dapat) identik dengan sosok Nyai Dahlan.

Padahal, peluang untuk memunculkan konflik atau dramatisasi di film ini sebenarnya cukup banyak. Bila dikembangkan lebih jauh, pertentangan Kiai Dahlan dengan orang-orang di Banyuwangi yang tidak mau menerima ajarannya, musuh misterius mirip ninja yang melempar surat kaleng, atau tentara-tentara Jepang yang menyerang pribumi bisa mempertebal latar atau suasana perjuangan di dalam film ini.

Kurangnya dramatisasi dalam skenario—atau mungkin malah peniadaan dramatisasi dalam beberapa peristiwa tertentu—membuatnya datar mirip film dokumenter, bukan film cerita. Padahal Tika Bravani berakting bagus, terutama saat ia menjadi Nyai Dahlan yang tua. Ia tampil lebih karismatis, berwibawa, dan gigih melanjutkan perjuangan suaminya. Biopik ini kehilangan daya pikat karena skenarionya tampak terlalu membawa beban berat menampilkan Nyai Dahlan sebagai sosok penting dan mulia, berjasa bagi agama dan bangsa; tapi di sisi lain kurang menonjolkan kiprahnya yang paling signifikan dalam perjuangan bangsa maupun Muhammadiyah. (*)


DATA FILM


Judul : Nyai Ahmad Dahlan

Sutradara : Olla Atta Adonara

Produser: Dyah Kalsitorini, Widyastuti, Siti Muthmainah

Penulis: Dyah Kalsitorini

Pemeran: Tika Bravani, David Chalik, Cok Simbara

Rilis: 24 Agustus 2017


CATATAN PUBLIKASI

Ulasan ini dimuat di Litera.id, 7 September 2017. Ulasan bisa diakses di sini: http://litera.id/2017/09/07/nyai-ahmad-dahlan-biopik-yang-datar-dan-terlalu-penuh-kebaikan/

Tuesday, July 11, 2017

Moralitas, Boikot, dan LGBT

Sidik Nugroho*)

Ron Woodroof, artis rodeo, divonis dokter mengidap AIDS, punya waktu hidup tinggal 30 hari. Karena vonis itu ia gelisah, berusaha mengobati dirinya dengan segala cara sampai ia bertemu dokter di Meksiko yang menjual obat-obat alternatif. Karena merasakan pengaruhnya—usianya lebih lama daripada vonis dokter—ia pun menjual obat-obat alternatif itu di Dallas kepada orang-orang yang mengidap HIV/AIDS, dibantu waria bernama Rayon.    

Awalnya, Ron adalah homofobia. Ia begitu sinis—bahkan jijik—melihat Rayon. Namun, karena Rayon membantunya mendapatkan pembeli obat-obat alternatif itu, hubungan keduanya makin akrab.

Di dalam film ditampilkan Rayon yang mengubah penampilannya ketika Ron menghadap ayahnya untuk meminta tambahan uang menjalankan bisnisnya: ia mengenakan pakaian pria, sebelumnya selalu berpakaian dan merias diri seperti wanita. Di adegan lain juga ditampilkan Ron dan Rayon berpelukan setelah mereka mendapatkan sejumlah uang untuk melanjutkan bisnisnya.

Dengan latar tahun 1980-1990-an, kisah Ron dan Rayon dalam film Dallas Buyers Club (2013) yang diangkat dari kisah nyata menyuguhkan potret persahabatan yang dinamis sekaligus tak terduga, selain menyinggung isu-isu yang lebih “besar” seperti kekeliruan penanganan medis untuk pengobatan HIV/AIDS atau kecenderungan para lelaki Dallas yang macho dan membenci waria atau transgender.

Di sepanjang zaman, tak sedikit orang seperti Ron, hidup dalam penilaian miring tentang suatu kaum sebelum benar-benar mengenalinya. Philip Yancey, seorang penulis kenamaan, ketika masih kecil mengenal seorang pria yang mengesankan, ia kisahkan dalam bukunya Keajaiban Kasih Karunia (1999).

Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam, sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik dengan tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, juga berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan, “Ini yang akan kulakukan padamu.” Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang rapuh—bahkan bisa dibilang bobrok.

Ron dan Big Harold adalah contoh orang yang (pernah) menerapkan suatu standar moral untuk menilai kualitas kepribadian seseorang. Mereka menentang keras orang yang orientasi seksualnya berbeda seperti LGBT (lesbian, gay, biseks, dan transgender), juga percabulan dan perzinahan di luar ikatan resmi pernikahan. Dan pada kasus Big Harold ada suatu realitas yang menyedihkan: polisi moral tertawan oleh kejahatannya sendiri.

Belakangan, isu LGBT kembali menyeruak karena ada seruan boikot dari beberapa kalangan, dimulai dari Anwar Abbas, Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah. Seruan itu ia sampaikan karena Starbucks memiliki ideologi bisnis dan pandangan hidup yang tak sesuai dengan ideologi bangsa, pun Howard Schultz selaku CEO Starbucks mendukung gerakan gay atau LGBT (Detik.com, 30-06-2017).

Alih-alih memboikot Starbucks karena isu LGBT, tidakkah terpikir untuk memboikotnya karena alasan lain yang lebih relevan atau spesifik? Karena selain Starbucks, cukup banyak perusahaan luar negeri lainnya yang beroperasi di tanah air dan mendukung gerakan LGBT. Dan perusahaaan-perusahaan itu cukup akrab di kehidupan kita—dari media sosial, ponsel, minuman, hingga sepatu.

Seruan boikot ini pun secara tidak langsung menjadi indikasi, bahwa secara sosial, mau tidak mau, kaum LGBT perlu selalu siap menerima kenyataan: di banyak tempat, di berbagai lapisan masyarakat atau komunitas di Indonesia, mereka (akan) ditolak. Tempat, komunitas, atau masyarakat tersebut menolak mereka karena adanya anggapan umum yang telah dianut: kaum LGBT abnormal.

Jangankan kaum LGBT, orang yang terlambat menikah juga bisa merasakan perlakuan kurang menyenangkan di masyarakat. Saya sendiri mengalaminya. Kalau hadir di pertemuan keluarga besar, Lebaran, Natal, bertemu teman-teman lama, atau di resepsi pernikahan, selalu saja pertanyaan itu muncul: “Kapan menikah?”

Dulu saya termasuk yang ‘sensi’ kalau mendengar pertanyaan itu karena belum menikah. Tapi, mengingat anggapan umum yang berlaku di situ—bahwa pria berumur mendekati kepala empat biasanya sudah punya anak balita—mau bagimana lagi? Lama-lama jadi terbiasa. Masyarakat atau komunitas di berbagai tempat yang saya kunjungi, sejauh yang saya amati, hanya bisa (langsung) maklum kalau yang tidak menikah adalah biarawan atau biarawati. Di luar status itu, siap-siap saja menerima cibiran dan tak jarang tuduhan miring.

Kaum LGBT tentu akan mengalami pertentangan dan konflik yang lebih berat. Pertanyaannya, siap tidak mereka dikucilkan atau bahkan diintimidasi? Febrie Hastiyanto dalam esainya berjudul LGBT dan Norma Baru (2015) mempertanyakan prospek LGBT untuk “menjadi norma baru, atau setidaknya menjadi norma yang diterima sebagai salah satu norma hubungan sosial dan biologis berdasar gender”.

Prospek itu tampaknya sangat kecil. Salah satu indikasinya, tahun lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menyatakan bahwa kelompok LGBT bisa merusak moral bangsa. Pernyataannya itu dipicu oleh makin merebaknya komunitas LGBT di beberapa universitas di Indonesia. Ada juga indikasi lain, seperti pelarangan bedah buku yang ditulis Irshad Manji, novelis lesbian, beberapa tahun silam. Pemerintah tampaknya tak ingin tinggal diam ketika kaum LGBT menunjukkan eksistensi lewat sebuah acara atau kegiatan yang bersifat publik.

Pada akhirnya, kehadiran kaum LGBT pun menjadi tantangan tersendiri bagi kaum heteroseksual. Memperlakukan kaum LGBT secara wajar dalam kehidupan sehari-hari bisa ditempuh dengan cara menepis fobia bahwa mereka berbahaya. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berorientasi LGBT, dan itu perlu dikenali kalau sering berinteraksi sosial, bukannya mengucilkannya.

Dalam berinteraksi, sebagian orang mungkin akan seperti Ron, berubah penilaiannya terhadap waria setelah mengenalnya. Dan sebagian mungkin seperti Big Harold, yang selalu yakin bahwa standar moral tertentu harus sama pada semua orang. Pilihan tiap orang dalam memperlakukan orang lain tentu berbeda-beda.

Begitu juga kopi yang dipilih untuk diminum. Tulisan ini—sama seperti banyak tulisan saya lainnya—dibuat di warung kopi sederhana di tepi jalan, segelas kopi cuma Rp5000,00.

*) Penulis lepas, penyuka film, dan penyuka kopi yang belum pernah ngopi di Starbucks

(Keterangan: gambar diambil dari cinemablend.com)

Tuesday, June 20, 2017

Sastra(wan) dan Perubahan Zaman

Sidik Nugroho*)

AKHIR 2006, seorang penulis yang mengikuti lomba menulis novel yang diadakan sebuah lembaga di Jakarta merenungi nasib di kantor pos sambil minum es teh. Ia kalah, merasa perjuangan menulisnya sia-sia. Sebelum tahun itu—mulai 2003—ia berkarya, membuat beberapa puisi dan cerpen. Ia mengirimkan karya-karyanya dari kantor pos, tapi banyak yang ditolak redaktur koran dan majalah. Hanya empat puisi dimuat sebuah koran dan beberapa cerpen dimuat majalah-majalah remaja.

Selang beberapa waktu setelah kekalahan itu, penulis itu kembali berkarya, menulis cerpen, artikel, juga novel. Ia mulai agak jarang ke kantor pos karena beberapa koran, majalah, dan penerbit menerima kiriman naskah lewat surel. Ia juga menunggu-nunggu pemuatan karyanya, hampir tiap Minggu pagi ke lapak koran dekat rumahnya, kemudian (melakukan seperti yang dicatat Maman S. Mahayana, atau Pak Maman): “berpura-pura membacai berita politik dan olahraga sambil berdebar-debar berharap namanya muncul” di koran yang ia kirimi naskah.

Sampai sekarang penulis itu masih berkarya. Ia menulis beberapa buku, dan sesekali menulis di media cetak dan online. Setelah membaca catatan Pak Maman, penulis itu tergerak menulis tanggapan yang anda baca sekarang.

Ada dua kesan yang bagi saya tampak dominan dalam catatan Pak Maman. Pertama, anggapan Pak Maman bahwa koran adalah media yang lebih tinggi kedudukannya daripada Facebook (FB) atau media sosial lainnya dalam menahbiskan seseorang menjadi sastrawan tidak realistis dan menunjukkan sikap kurang terbuka terhadap perubahan zaman. Kedua, Pak Maman memberikan tudingan negatif terhadap sastra(wan) FB atau media sosial lainnya tanpa disertai cukup bukti. Supaya kesan tak menjadi sekadar kesan, berikut uraian yang saya harapkan memadai untuk menjadi refleksi bersama, atau mungkin perbincangan lebih lanjut.

Posisi Koran

Menurut Pak Maman, pemuatan karya di koran membuat “masyarakat perlahan-lahan dapat melabeli seseorang—yang secara konsisten dan berkelanjutan—sebagai penyair, cerpenis, atau kritikus”. Ini sepenuhnya benar, kalau ditulis dan disiarkan ke publik sepuluh tahun lalu. Manakala minat masyarakat terhadap koran semakin menurun dari hari ke hari, anggapan itu kini jadi tampak meragukan.

Memang, dengan proses kurasi-seleksinya, koran dan majalah menjadi media yang menguji “keseriusan berkarya dan kesabaran (pengarang) menunggu”, walaupun tidak semua koran melakukan proses yang ketat. Koran yang tidak menyediakan honor bagi penulis sastra, misalnya, sangat mungkin dikirimi lebih sedikit naskah.

Proses kurasi-seleksi yang sangat longgar pada koran-koran tak berhonor tentu membuat masyarakat tidak terlalu berharap mendapat suguhan karya bermutu. Dengan demikian, posisi koran—yang masih melaksanakan proses kurasi-seleksi dengan ketat—masih penting, terutama bagi penulis yang menggantungkan hidup lewat publikasi karya di media cetak. Semua penulis tampaknya mengamini: semakin prestisius sebuah media cetak, semakin besar honor yang disediakan.

Namun, sudah menjadi rahasia umum, menulis di beberapa koran juga menguras energi dan emosi. Koran yang prestisius jumlahnya makin sedikit. Banyak koran yang tidak atau lalai membayar honor penulis, juga tidak memberitahukan sebelum atau sesudah karya penulis dimuat sehingga beberapa kali terjadi pemuatan ganda. Kondisi seperti itu tentu membuat FB bisa lebih diminati, atau paling tidak menjadi alternatif.

“Tak dapat dimungkiri, hadirnya media sosial telah memberi kemungkinan lain bagi perkembangan sejumlah bidang ilmu, termasuk sastra,” catat Pak Maman. Namun, dari beberapa pernyataannya yang lain, ia tampak memungkiri bahwa FB dan media sosial lain bisa menjadi media alternatif publikasi sastra. Pak Maman, dengan semua nama yang disebutkannya, masih tenggelam dalam kejayaan sastra masa lalu.

Tudingan Negatif

Agak disayangkan, Pak Maman menyebut banyak nama sastrawan dan redaktur yang baginya sudah membuat dan melahirkan karya berkualitas, namun tak menyebut satu nama pun yang ia tuding membuat karya “instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik)”. Sebagai seorang kritikus, yang juga memiliki akun FB (masih aktifkah digunakan?), anggapan ini terburu-buru dan kurang berdasar. Dengan menyebut satu atau beberapa nama atau karya yang bisa mewakili tudingannya, tentu akan jauh lebih baik. Mengapa lebih memilih memuji nama-nama yang disebut, padahal mereka yang disebut semuanya bukan “Generasi Facebook” seperti judul catatan?

Pak Maman juga mengatakan, karya-karya di FB “ada juga yang potensial dan bergizi”, tapi mendahului dengan “sisanya”. Kata ‘sisa’ tampaknya mewakili sikapnya yang pesimis terhadap sastra(wan) FB. Alih-alih memberikan contoh karya sastra FB yang patut dikritik, atau ‘sisa’-nya yang layak diapresiasi, Pak Maman di bagian akhir malah menyarankan agar pengguna FB “bersikap santun; tak asal jeplak dengan mengeluarkan kosakata kebun binatang atau isi toilet.”

Sebagai alternatif koran, FB dan media sosial lainnya justru memungkinkan lebih banyak eksplorasi atas berbagai hal yang terjadi di masyarakat, termasuk sastra. Adanya diskusi tentang karya sastra—juga dunia atau ilmu sastra—di FB malah bisa mengajak publik meninjau kembali, mendiskusikan, atau mempertanyakan berbagai hal, termasuk sastra(wan) yang oleh sebagian kalangan dianggap lebih “mapan”, berkelas lebih tinggi, atau selama beberapa waktu dijadikan panutan, misalnya. Atau, perlukah ada pemilihan terhadap 33, 44, atau 55 sastrawan yang paling mumpuni karyanya, atau kiprahnya paling fantastis? Atau, terkontaminasikah penghargaan dan festival-festival sastra yang dihelat di tanah air dari kecenderungan pertemanan atau politik sastra?

Tudingan-tudingan Pak Maman mungkin bisa menjadi tidak negatif bila Pak Maman juga memberi batasan pada hal-hal yang sedang dibahas. Misalnya, celotehan tidak bisa disejajarkan dengan karya. Di FB, di mana orang (lebih) bebas mengeluarkan apa saja, tentu perlu ada pemilahan: mana karya, mana bukan. Menganggap celotehan sebagai karya, atau sebaliknya—tanpa identifikasi-klasifikasi yang jelas—membuat catatan Pak Maman lebih terkesan retoris, diakhiri dengan ujaran mirip motivator, dan tak menawarkan wacana yang menggugah. Itu!

*) Novelis, pengguna media sosial, dan pembaca sastra koran

(Catatan ini adalah tanggapan atas Catatan Kebudayaan “Sastra(wan) Generasi Facebook” yang ditulis Maman S. Mahayana, dimuat Kompas, Sabtu, 22 April 2017. Saya kirimkan 24 April 2017. Kompas tidak memuat tulisan ini, mengembalikannya 8 Juni 2017.)

Tuesday, August 16, 2016

Catatan dari Buku "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia"

Pengantar:

Pada bulan Maret 2013 saya menemukan buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams di Perpustakaan SMA Santu Petrus, Pontianak. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan di buku ini. Beberapa hal itu akan saya bagikan di sini, untuk mengenang kembali Soekarno, bapak republik Indonesia yang kita cintai.

*** 

1. Kolonialisme, Pidato Pertama Soekarno, dan Ijazah

“Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghancurkan kekuasaan kolonial, rupanya aku harus berterima kasih pula kepada mereka atas pendidikan yang kuterima.”
~ “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 94

Tak lama setelah Soekarno bertemu dengan Marhaen, seorang petani miskin di Bandung, pemikiran-pemikirannya tentang sosialisme mulai menjadi suatu konsep yang nantinya muncul dalam pidato-pidatonya. Ia sering menyebut rakyat kecil sebagai Marhaen: sosok yang miskin, hidup sederhana, tapi memiliki sebidang tanah kecil yang digarapnya dengan upaya sendiri untuk menafkahi keluarga. Marhaen adalah sosok yang mewakili rakyat Indonesia secara luas: rakyat yang sedang ditindas oleh keserakahan kolonialisme; rakyat yang berdikari; rakyat yang bila menemukan kesulitan hidup dapat menemukan solusinya lewat gotong-royong, saling membantu dengan sesamanya.

Pada tahun 1922, di Bandung diadakan rapat rakasa, Radicale Concentratie. Saat itu Soekarno menjadi mahasiswa di Sekolah Teknik Tinggi di Bandung. Di rapat ini orang-orang dari berbagai partai dan organisasi kebangsaan berkumpul bersama, memprotes berbagai persoalan yang terjadi. Namun, dalam pengamatan Soekarno: “Mereka semua membicarakan omong kosong. Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka tidak menuntut” (halaman 89).

Soekarno pun tampil beda dengan semangat yang menyala-nyala. Inilah kali pertama ia berpidato hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai Singa Podium. Berpidato dengan berapi-api sudah terbentuk sekian lama dalam angan-angan dan impiannya. Ketika kesempatan itu tiba, ia pun menyampaikan pidato yang membakar semangat para pendengarnya. Ia menghimbau agar orang-orang yang berkumpul di sana tidak melakukan “politik berlutut”, mengemis lewat petisi kepada pemerintah kolonial untuk mendirikan sekolah.

“Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mencari jalan keluar bagi perasaan- perasaan kita yang sudah penuh, maka saudara-saudara, nyonya-nyonya dan tuan-tuan, suatu saat akan terjadi pula ledakan dengan kita. Dan manakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saya menantang Pemerintah Kolonial yang membendung perasaan kita,” katanya (halaman 90).

Pidato yang berapi-api ini membuat Soekarno segera dikenal, namun harus berurusan dengan hukum. Presiden (disebut juga di buku ini sebagai Rektor Magnificus) dari Sekolah Teknik Tinggi di Bandung, Prof. Ir. G. Klopper M.E., memanggil Soekarno dan memberikan peringatan agar ia tak banyak berurusan dengan dunia politik, berkonsentrasi pada studi teknik yang ditempuhnya. Saat dipanggil, Soekarno berjanji untuk tidak berpidato lagi di hadapan rakyat banyak.

Saat diwisuda dan menerima ijazah, profesor itu menyatakan sesuatu yang tak akan dilupakan Soekarno seumur hidupnya: “Ir. Sukarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati” (halaman 95).

2. Utari, Inggit, dan Fatmawati


“Inggit dalam masa selanjutnya dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku. Dialah pendorongku. Dengan Inggit berada di sampingku aku melangkah maju memenuhi amanat menuju cita-cita.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 83, 84

Tiga istri Soekarno yang banyak dikisahkan di dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah Utari, Inggit, dan Fatmawati. Selain mereka bertiga, ada pula istri-istri Soekarno yang lain, namun tidak banyak dikisahkan di dalam buku ini. (Hartini, misalnya, hanya dikisahkan sekilas di halaman 18 dan 19, saat Soekarno menjamu beberapa tamu penting dari luar negeri.)

Utari, istri pertama Soekarno, adalah anak dari Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Waktu Soekarno sekolah di HBS, ia tinggal sebagai anak kos (saat itu istilahnya “bayar makan”) di rumahnya. Tak lama setelah istri Pak Tjokro meninggal, seorang saudara Pak Tjokro memberi saran kepada Soekarno agar menghibur Pak Tjokro dengan menikahi Utari, anaknya, yang baru berumur 16 tahun.

Perkawinan mereka tidak bahagia. Soekarno menyatakan, “Aku ingin diibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Manakala bajuku koyak, aku ingin isteriku menambalnya. Dengan Utari keadaannya terbalik. Aku yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak” (halaman 79). Akhirnya, Utari dikembalikan kepada ayahnya pada tahun 1922, setahun setelah Soekarno menikah dengannya.

Di Bandung, Soekarno bertemu dengan Inggit Ganarsih, istri Haji Sanusi. Inggit adalah ibu kos Soekarno saat ia kuliah di Sekolah Teknik Tinggi di Bandung. Haji Sanusi, dalam pemandangan Soekarno adalah suami yang tidak bertanggung jawab, suka berjudi dan main bilyar. Kedekatan mereka berdua akhirnya membuat Haji Sanusi dan Inggit bercerai. Inggit pun menjadi milik Soekarno.

“Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari isteriku yang masih gadis kepada isteri lain yang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannya karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah mengetahuinya.

“Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan ini sangat mencintaiku” (halaman 83).

Soekarno sangat bahagia dengan kehadiran Inggit. Cita-cita politik Soekarno makin tajam pada tahun-tahun pernikahannya dengan Inggit. Saat menikah dengan Inggit, Soekarno pun melalui tahun-tahun yang sulit: dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin; diasingkan ke Pulau Bunga, Ende; lalu diasingkan ke Bengkulu. Inggit setia mendampingi Soekarno di saat-saat ini, menjadi pelipur lara yang tabah.

Namun, satu hal yang menyedihkan Soekarno adalah kemandulannya.

Saat diasingkan di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati yang umurnya lebih muda 22 tahun darinya. Hubungan ini membuat Inggit cemburu dan minta cerai. Puncak perkelahian mereka terjadi pada suatu malam setelah Soekarno menemani seorang kawannya ke Rumah Geisha: “Sekembali di rumah, Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah cangkir mengenai pinggir kepalaku” (halaman 287-288).

Perpisahan Soekarno dengan Inggit tidak banyak diceritakan dalam buku ini. Namun, saya sedih juga membaca bagian ini:

“Setelah perceraian telah disepakati bahwa Inggit kembali ke kota kelahirannya…. Hatiku senantiasa dekat pada isteriku dan aku tidak akan membiarkannya pergi seorang diri. Karena itu Inggit kutemani. Hari sudah tinggi ketika kami kembali dalam keadaan letih, merasa badan kami tidak enak, dan sesampai di rumah kami mendapati serombongan wanita yang akan bertamu kepada Inggit. Sejam lamanya mereka berkunjung, sekalipun tidak banyak yang dipercakapkan. Kuingat di waktu itu aku merasakan kegelisahan yang amat sangat. Saat yang melelahkan sekali. Kemudian aku mengiringkan Inggit ke Bandung, membongkar barang-barangnya, meyakinkan diri kalau-kalau ada sesuatu yang kurang, lalu aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya” (halaman 288-289).

Inggit mendampingi Soekarno pada saat-saat ia berjuang meraih kemerdekaan, menemukan visi atas bangsa yang dipimpinnya. Fatmawati mendampingi Soekarno pada saat-saat revolusi sedang sangat bergejolak: sejak masa pendudukan Jepang hingga agresi militer Belanda. Keduanya berperan penting, walau bagi saya sosok Inggit tetap lebih menarik.

Dengan Fatmawati Soekarno bahagia karena memiliki anak. Pada bulan Juni 1943, ia mendapatkan anaknya yang pertama, Guntur Soekarnoputra. Dari Fatmawati, lahir pula empat anak Soekarno lainnya. Fatmawati menjahit bendera merah putih yang dikibarkan saat Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

3. Soekarno, Pelacur, dan Kita


“Pak, kami merasa bahagia karena rakyat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wajar kalau gambar Presiden kita digantungkan di dinding rumah pelacuran. Apa yang harus kami kerjakan? Apakah akan kami pindahkan gambar Bapak dari dinding-dinding itu?”

“Tidak,” jawabku. “Biarkanlah aku di sana.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, halaman 4-5)

Pelacur berperan penting dalam perjuangan Soekarno mewujudkan visinya. Mungkin hal ini aneh atau tabu di mata sebagian orang. Tapi, memang demikianlah adanya yang tertulis di buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini.

Dalam catatan kali ini, saya melakukan hal yang berbeda dengan dua catatan pendek sebelumnya. Bila dua catatan sebelumnya semata-mata bertumpu pada buku Soekarno itu, kali ini saya akan menggunakan beberapa hal lain seputar pelacur untuk dijadikan bahan refleksi.

Pada 4 Juli 1927, dengan dukungan enam orang kawannya dari Algemeene Studieclub Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sejak saat itu, Soekarno semakin sering berpidato. “1928 adalah tahun propaganda dan pidato,” katanya (halaman 113). Karena sering muncul di hadapan publik, ia menjadi sasaran Belanda.

“Mereka mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat tipis harapanku agar bisa luput dari intipan ini. Kalau para pemimpin dari kota lain datang, aku harus mencari tempat rahasia untuk berbicara. Seringkali aku mengadakan pertemuan penting di bagian belakang sebuah mobil dengan merundukkan kepala. Dengan begini polisi tidak dapat mendengar atau melihat apa yang terdjadi. Kami harus menjalankan cara penipuan yang demikian itu” (halaman 115).

Karena sering sembunyi-sembunyi, Soekarno pun menemukan lokalisasi atau tempat pelacuran sebagai tempat yang aman untuk mengadakan rapat dengan teman-teman separtainya. Kadang mereka pergi sendiri-sendiri, kadang dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka berada di sana pada jam 8 atau 9 malam. “Dalam gerakan PNI-ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh daripada anggota lain yang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata yang jempolan, berilah aku seorang pelacur yang baik. Hasilnya mengagumkan sekali dalam pekerjaan ini. Tak dapat dibayangkan betapa bergunanya mereka ini” (halaman 117).

Pelacur-pelacur ini dimanfaatkan Soekarno untuk menggoda polisi Belanda. Bila berhasil menggoda, para pelacur pun mulai beraksi, mengorek semua keterangan yang berkaitan dengan “dapur” politik Belanda, terutama yang berkaitan dengan aktivitas Soekarno.

***

Dalam buku ini Soekarno mengaku pernah membaca Alkitab, terutama saat berada di penjara Sukamiskin: “Aku membaca dan membaca kembali Injil. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak asing lagi bagiku. Aku seringkali mengulang mempelajarinya” (halaman 158). Saya tidak tahu pasti, apakah ia pernah membaca tentang Rahab, seorang pelacur di kitab Yosua, di Perjanjian Lama, yang dimanfaatkan dua pengintai Israel untuk memata-matai penduduk Yerikho sebelum mereka menyerang kota itu.

Lalu, di Perjanjian Baru, di Injil Yohanes, juga dikisahkan tentang Yesus yang mengampuni seorang wanita yang tertangkap basah melakukan dosa zinah yang hendak dirajam beramai-ramai. Yesus hanya menulis di tanah, juga tak melemparinya batu.

Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa pelacur adalah sampah masyarakat. Namun, di mata Soekarno, kedudukan mereka tetap memiliki martabat. Ini yang mempertegas lagi suatu kebenaran berharga yang kadang diabaikan oleh banyak orang: seseorang dilihat bukan dari statusnya, tapi dari kemampuan yang dia miliki dan manfaat yang ia berikan lewat hidupnya.

Saya jadi teringat Iwan Fals yang pernah menulis sebuah lagu berjudul “Lonteku”. Salah satu penggalan liriknya berbunyi: “Lonteku, terima kasih atas pertolonganmu di malam itu.”

Terakhir, saya pun jadi teringat pada lagu “Kupu-kupu Malam” yang dinyanyikan Titiek Puspa. Sepenggal lirik di lagu ini, kiranya menjadi cermin bagi kita yang memandang hina para pelacur:

“Dosakah yang dia kerjakan? Sucikah mereka yang datang?”

4. Revolusi dan Pemerintahan Baru: Yang Menggetarkan dan Menggelikan


Bab paling menggetarkan di buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah bab ke-27, “Revolusi Mulai Berkobar”. Di bab ini Soekarno mengisahkan pesta kecilnya saat diangkat menjadi presiden tak lama setelah Indonesia merdeka. Badannya sedang tidak sehat waktu itu, di jalan dia bertemu tukang sate yang tidak mengenakan baju. Dia memesan sate 50 tusuk, jongkok di tepi jalan, dan memakan satenya dengan lahap.

Setelah merdeka, masalah baru pun muncul. Belanda membonceng Sekutu, datang lagi ke Indonesia. Di Jakarta, ketegangan terjadi di mana-mana. Pada bulan September dan Desember 1945 ada 8000 rakyat yang telah terbunuh untuk mempertahankan kemerdekaan.

Saat pergi ke Surabaya, Soekarno menyaksikan hal-hal mengerikan: “Kota itu menjadi kota neraka. Di setiap penjuru jalan terjadi pertempuran hebat satu-lawan-satu. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Tubuh-tubuh yang telah dipenggal dan dicincang bertumpuk-tumpuk, yang satu di atas yang lain. Kematian sedang bersimaharajalela di jalan-jalan. Rakyat Indonesia menembak-nembak, menikam dan membunuh dengan galak” (halaman 353).

Di Surabaya, Soekarno meminta rakyat untuk menghentikan perang. Ia mengupayakan perundingan dengan pihak Sekutu dan Belanda untuk melaksanakan gencatan senjata. Namun, peperangan besar pada 10 November 1945 tidak dapat dielakkan. “10 November dimulailah serangan balasan kami…. Di jalan-jalan perempuan dan anak-anak dibom, orang-orang tua ditembaki dari udara. Jalan keluar tertutup oleh timbunan mayat yang tidak bisa diangkat oleh karena hujan bom terus-menerus tak henti-hentinya selama berhari-hari” (halaman 355).

***

Jakarta dan Surabaya menjadi bulan-bulanan Belanda dan Sekutu. 4 Januari 1946, Soekarno pun memutuskan untuk memindahkan ibukota RI ke Yogyakarta. Di Yogyakarta inilah ia mulai membentuk sistem pemerintahan. Banyak kejadian lucu yang dikisahkan di sini.

Misalnya, keterbatasan orang-orang yang ditunjuk Soekarno untuk menduduki jabatan tertentu. Mereka dulunya orang-orang desa yang sederhana, dan kemudian diberi tanggung jawab untuk mengemban tugas di republik yang baru. Salah satunya adalah dr. Leimena yang diangkat menjadi menteri. Soekarno pernah bertemu Leimena semasa perang, dokter itu mengobati sakit kepalanya. Mereka bertemu lagi setelah merdeka. Leimena disebut Soekarno sebagai “… salah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui…. seorang yang jujur seperti Yesus dari Nazaret” (halaman 369).

Kekayaan Leimena tidak banyak. Lucu sekali, Soekarno menyebutnya hanya memiliki sehelai celana dalam. “Bajunya tidak lebih dari dua helai…. Satu dipakainya, satu masuk cucian” (halaman 369).

Hal menggelikan lainnya adalah kisah tentang ajudan Soekarno yang pertama di halaman 373. Karena dia ajudan presiden, dia diberi pangkat letnan; dulunya dia preman. Seorang penasehat Soekarno menyeletuk, “Ini tidak mungkin. Ratu Juliana dari Negeri Belanda yang memerintah 10 juta manusia mempunyai ajudan seorang kolonel. Bagaimana pandangan orang nanti melihat Soekarno, presiden RI yang memerintah 70 juta, dengan ajudan yang hanya berpangkat letnan?”

“Betul juga,” kata Soekarno. “Sudah berapa lama engkau menjadi letnan?”

“Satu setengah jam, Pak.”

“Nah, negara kita ini baru lahir dan tumbuhnya cepat. Mulai sore ini engkau menjadi mayor.”

Ada juga kisah lucu tentang rakyat yang tidak tahu benar apa itu “merdeka” di halaman 374. Rakyat cuma tahu: setiap orang merdeka, dan dengan seenaknya mereka naik kereta api. Waktu mereka diminta membayar, ada yang bingung dan menampakkan wajah heran: “Lho, kita kan sudah merdeka?”

Demikian pula dengan kisah ujian untuk masuk Angkatan Udara di halaman 375. Angkatan Udara dimulai dari beberapa buah pesawat terbuat dari kayu yang sudah bobrok. Pertanyaan satu-satunya yang diajukan untuk orang yang berminat menjadi Angkatan Udara adalah: “Saudara berani naik pesawat terbang kita?” Kalau dia menjawab iya, maka diterimalah dia di Angkatan Udara.

5. Soekarno dan Wanita


Hal yang paling menggelikan namun sekaligus mengejutkan dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini adalah pandangan dan kisah-kisah Soekarno tentang wanita. Ia banyak menyampaikan tentang hal ini di bagian awal dan menjelang akhir buku.

Saat berkunjung pertama kali ke Amerika pada tahun 1956, ia menyatakan bahwa satu hal yang paling berbeda antara dirinya dengan Amerika adalah cara pemilihan tokoh politik untuk memegang pemerintahan.

“Cara orang Amerika adalah bersalaman dengan para ibu dan mencium anaknya. Cara Soekarno: bersalaman dengan anaknya dan mencium ibunya,” katanya (halaman 418).

Cara penyambutan tamu di Irian Barat juga sangat mengesankan Soekarno karena adanya peran wanita yang erotis. “Di Irian Barat seorang gadis setengah telanjang berdiri di jalan masuk ke desa dan para tamu diharapkan mencium susunya. Secara simbolis mereka memberi tamu memakan susu ibu sebagai bentuk persembahan yang paling murni. Seorang kawan telah disambut menurut adat ini, kemudian berkelakar kepadaku: ‘Haaa, Pak, sekarang sekarang kami mengerti mengapa bapak mati-matian memperoleh kembali Irian Barat!'” (halaman 420)

Saat Soekarno ada di Amerika, ia berjalan-jalan di toko serba ada. Nyonya Eric Johnston, janda dari raja film, menemani Soekarno ke sebuah toko besar di California. Saat berada di sana, ia teringat pada pesan istrinya, minta dibelikan kutang (halaman 419-420):

“Gadis penjual itu mengambil beberapa buah (kutang), akan tetapi aku lupa ukuran istriku. Akhirnya Nyonya Johnston mendesak dengan hormat, ‘Paduka yang Mulia dipersilakan memilihnya.’

“Apakah bisa dikumpulkan ke sini semua gadis penjual, supaya aku bisa menentukan ukurannya?

“Maka berpawailah gadis-gadis itu di hadapanku dan dengan caraku yang sangat sopan aku meneliti mereka satu demi satu sambil berkata, ‘Tidak, engkau terlalu kecil… Oh, engkau kebesaran…’ Kemudian aku menunjuk seorang wanita dan menyatakan, ‘Ya, engkau cocok sekali. Saya akan mengambil ukuranmu. Tolonglah.’

“Ternyata kemudian barang itu sangat pas pada istriku.”

***

Bila membaca buku ini, pada bagian awal pun kita akan segera tahu bahwa kesukaan Soekarno adalah wanita. Ia memilih Cindy Adams sebagai penulis otobiografi-nya karena mudah terkesan dengan wanita ini. Di kaver belakang buku ini ditunjukkan foto mereka berdua yang sedang berbicara. Cindy Adams sungguhlah seorang wanita yang cantik.

Di bagian awal buku ini, Soekarno tampaknya berang karena pandangan pers yang miring kepadanya. Ia seolah-olah ingin menyatakan bahwa menyukai wanita adalah hiburan tersendiri baginya. Ia pun menyampaikan semacam alasan (sekaligus apologi) untuk hal ini (halaman 11-12), bahwa hal-hal demikian dilakukannya agar hidupnya menjadi bahagia:

“‘Majalah Tuan ‘Time’ dan ‘Life’ terutama sangat kurang ajar terhadap saya,’ katanya kepada Presiden Kennedy. ‘Coba pikir, ‘Time’ menulis: Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu. Selalu mereka menulis yang jelek-jelek.’

“Sekalipun aku dan Presiden Kennedy telah mengadakan pertemuan pendapat, persetujuan dalam lingkungan kecil ini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat. Masih saja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengejar cinta.

“Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak pelesiran sebagaimana mereka tudukkan padaku. Di Tokyo aku telah pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu yang melanggar susila mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekadar duduk, makan-makan, bercakap-cakap dan mendengarkan musik. Hanya itu. Akan tetapi dalam majalah-majalah Barat digembar-gemborkan seolah-olah aku ini Le Grand Seducteur.

“Tanpa hiburan-hiburan kecil ini aku akan mati. Aku mencintai hidup. Orang-orang asing yang mengunjungi istanaku menyatakan bahwa aku menyelenggarakan ‘suatu istana yang menyenangkan’. Ajudan-ajudanku mempunyai wajah-wajah yang senyum. Aku berkelakar dengan mereka, menyanyi dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, nyanyian dan sedikit hiburan kadang-kadang, aku akan dibinasakan oleh kehidupan ini. Umurku sudah 64 tahun. Menjadi Presiden adalah pekerjaan yang membikin orang lekas tua…. Karena itu, sesekali aku harus lari dari keadaan ini, supaya aku dapat hidup seterusnya.

“Banyak kesenangan yang sederhana telah dirampas dariku. Misalnya, di masa kecilku aku telah mengelilingi pulau Jawa dengan sepeda. Sekarang perjalanan semacam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang yang akan mengikutiku.”

6. Hidup di Hati Rakyat

“Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburkanlah Bapakmu menurut agama Islam dan di atas batu kecil engkau tulislah kata-kata sederhana: Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”
~ “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, halaman 472

Soekarno kadangkala pergi tanpa tanda pengenal ke tempat-tempat di mana rakyat berkumpul. Dengan berkemeja dan kacamata hitam, ia merasa dirinya lain, tak mudah dikenali. “Kududuk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanku (sate) dari bungkus daun pisang. Sungguh saat-saat yang menyenangkan” (halaman 14).

Suatu hari ia pergi bersama seorang komisaris polisi. Mereka berputar-putar di tengah rakyat dan tak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Ia bertemu dengan seorang laki-laki dan berkata, “Dari mana diambil batubata ini dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?”

Sebelum pria itu menjawab, seorang perempuan berteriak setelah mendengar suara Soekarno: “Heee… itu suara Bapak! Orang ini Bapak!” Tak lama kemudian ratusan lalu ribuan orang berdatangan dari segala penjuru (halaman 14).

Soekarno juga suka minum kopi, minuman rakyat. Ia suka mengajak kawan-kawannya minum kopi. Tak lama setelah ia menjadi pimpinan PNI, ada sebuah kisah yang menarik tentang kopi. Ia kedatangan teman, namanya Sutoto. Ia sedang tak punya uang untuk mengajak temannya itu minum kopi. Saat mereka lagi mengobrol, seorang wartawan lewat di depan rumahnya. Wartawan itu sedang mencari tulisan untuk korannya. Soekarno menawarkan diri menulis.

Soekarno tawar-menawar dengan wartawan itu: berapa honor tulisannya. Akhirnya tercipta sepakat, ia dibayar 2 rupiah. Ia membuatkan tulisan untuk wartawan itu selama 15 menit. Setelah tulisan itu jadi, ia pun mengajak Sutoto dan Inggit, istrinya, minum kopi dan makan peuyeum (halaman 120).

Soekarno memang suka menulis sejak remaja, saat ia bersekolah di HBS, Surabaya. Ia menulis untuk majalah Sarekat Islam, “Oetoesan Hindia”. Ia sering menggunakan nama samaran karena tulisan-tulisannya menentang kolonialisme Belanda. Ia berkata ada 500 lebih tulisannya di majalah-majalah itu (halaman 68). Saat dibuang di Pulau Bunga, Ende, Soekarno menulis 12 cerita sandiwara pada tahun 1934-1938 (halaman 181).

***

Saat menjadi presiden, Soekarno juga sering mengundang orang-orang minum kopi. Ia mengadakan jam kerja terbuka. “Pagi-pagi dari jam 7 sampai jam 9 puluhan orang yang tidak diundang secara resmi turut minum kopi. Mereka adalah menteri-menteri, penasehat, pembesar tinggi, atau penerbit yang baru kutugaskan mencetak Injil dalam bahasa Indonesia, atau pemahat patung yang baru saja ditunjuk untuk menciptakan monumen Angkatan Bersenjata, atau arsitek yang minta persetujuan rencana gedung bertingkat yang baru….” (halaman 440).

Soekarno adalah bapak bangsa yang hidup dengan kemelaratan dan kemiskinan pada masa kecilnya. Ia adalah wakil yang ideal dari kondisi rakyat jelata pada zamannya. Inilah yang tampaknya tidak bisa ia lupakan sepanjang hayatnya, bahkan ketika ia sudah menjadi presiden. Rakyat jelata selalu ada di hati Soekarno. “Aku adalah kepunyaan rakyat. Aku harus melihat rakyat, aku harus mendengarkan rakyat dan bersentuhan dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada di antara mereka,” katanya (halaman 11-12).

“Aku ingin bercampur dengan rakyat. Itulah yang menjadi kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku” (halaman 13).

***

Penutup

21-03-2013, hari terakhir membaca “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Lega rasanya menamatkan buku ini dalam dua minggu. Tidak banyak buku yang meninggalkan kesan mendalam setelah selesai dibaca — buku ini adalah salah satunya. 

Otobiografi selalu perlu ditelaah dengan cara membandingkannya dengan buku atau sumber lain — tidak ditelan mentah-mentah. Oleh karena itulah hal-hal yang masih perlu dikaji lebih jauh (terutama secara akademis) tidak saya tampilkan di sini. Misalnya, perbedaan pendapat antara Soekarno dengan Hatta atau Syahrir. Di buku ini beberapa kali disebutkan bahwa Soekarno selalu berseberangan pemikiran dengan keduanya. Saya berharap ada waktu khusus bagi saya untuk membaca lebih banyak tentang “perseteruan” mereka di panggung politik.

Sidik Nugroho, Maret 2013