Tuesday, May 7, 2019

Cerpen: Buku Harian Amelia

Charles,

Lagu "Cinta" yang dinyanyikan Vina Panduwinata hingga sekarang masih terngiang-ngiang di telingaku bila mengingat pertemuan pertama kita. Saat itu kau datang dengan payungmu. Aku awalnya agak risih dengan kehadiranmu, tapi aku juga tidak mau basah kuyup.

Itulah sebagian catatan Amelia di buku hariannya, bertanggal 20 Februari 2001. Dua tahun sebelumnya, 20 Februari 1999, pada suatu sore yang mendung, tak jauh dari Simpang Lima, Semarang, ia tampak gelisah. Wajah gadis itu cemberut tiap kali memandang jalan dan angkasa, mungkin karena angkot yang ditunggunya tak kunjung tiba. Langit pun makin muram, awan-awan hitam bergulung-gulung.
Kulihat ia dari seberang jalan. Dari seragamnya kutahu ia karyawati di toserba di wilayah Simpang Lima. Awalnya aku hendak pergi ke rumah kawanku, tapi kakiku melangkah ke seberang jalan ketika gerimis turun. "Hei, aku payungi biar enggak basah, ya?" kataku sambil menatapnya. Hujan sering turun pada waktu-waktu itu, aku membawa payung ke mana-mana.
Amelia tersenyum, tapi tampak ragu menerima kehadiranku seutuhnya.
"Baru pulang kerja?" tanyaku seramah mungkin.
Amelia mengangguk. "Mas sendiri," aku terkejut mendengar suaranya yang lembut dan mirip anak-anak, "mau ke mana?"
Aku bingung menjawab. Amelia menunggu angkot menuju Jalan Pandanaran, dan aku ingin tetap bersamanya. Tiba-tiba aku teringat toko musik di Jalan Pandanaran yang beberapa kali kukunjungi. "Mau ke Toko Purnomo, beli senar gitar." Aku mendesah panjang mendengar dusta kecilku.
Amelia tersenyum, matanya berbinar ketika bertanya, "Jadi, Mas pandai main gitar?"
Aku mengangguk mantap.
Angkot yang kami tunggu tiba. Penumpang sepi, kami duduk berhadap-hadapan. Amelia berkata kepadaku tinggal di Randusari, dekat toko musik itu. Oh, keberuntungan dari langit! "Kalau nanti masih hujan, kamu kuantar sampai rumah ya."
Amelia berterimakasih, bertanya, "Nama Mas siapa?"
Aku mengulurkan tanganku. "Charles."
"Amelia," katanya sambil menjabat tanganku.
***

Charles,

Aku suka bila Mas Charles datang ke rumah. Aku suka membuatkanmu segelas kopi yang katamu "kopi paling gembira sedunia." Aku juga suka mendengar petikan gitarmu, memandangi wajahmu dari samping saat kau bernyanyi. Kuyakin dia pria yang baik, bisikku dalam hati tiap memandangmu.

Itu sebagian catatan Amelia, 4 April 1999. Setelah pertemuan di angkot itu, aku sering mengunjunginya, paling tidak seminggu sekali. Teras rumahnya luas, kami berdua sering duduk-duduk di sana. Adiknya bernama Ridwan cepat akrab denganku, suka minta diajari bergitar.
Aku juga suka dengan kopi buatannya. Sungguh tak kuduga, ia selalu ingat dengan istilah "kopi paling gembira sedunia" yang kukarang ketika melihat senyumnya yang merekah sambil menghidangkan kopi suatu malam.
Suatu malam, saat berdua di teras, kukatakan kepadanya bahwa aku ingin dia selalu membuatkan kopi untukku di sepanjang usia, juga menemaniku. Dia memberikan kecupan yang lembut di keningku. Malam itu, 24 April 1999, Amelia menjadi kekasihku. Sebagai perayaan kecil kelahiran cinta kami, kunyanyikan lagu paling manis untuknya, berjudul "Untukmu" ciptaan Tito Sumarsono:

Di antara kita t'lah terjalin sudah
Benang-benang asmara
Tak mungkin lagi 'kan terpisah
S'moga Tuhan mendengar pinta kita

Gerimis turun ketika aku pulang. Aku teringat Gene Kelly yang menari dan menyanyi riang di kala hujan dalam film Singin’ in the Rain.
***

Charles,

Hari-hari yang kulalui sejak kamu hadir sungguh penuh warna. Aku suka bila kau menjemputku sepulang kerja dengan sepeda motormu. Apalagi kalau kita mampir di warung roti bakar itu, mengobrolkan apa saja.
Waktu kaubonceng, duduk menyamping di belakangmu, rasanya nyaman sekali merangkulkan tanganku di perutmu. Aku suka menempelkan telinga kananku di punggungmu, mencoba mendengar detak jantungmu.

Itu catatan bertanggal 30 Juni 1999. Tak lama sebelum itu aku berhasil membeli sepeda motor bekas dengan meminjam uang dari sana-sini. Aku ingin lebih sering membawanya ke mana-mana. Pukul 16.30 aku pulang bekerja, pukul 16.45 ia pulang bekerja. Begitu pulang bekerja aku menyusulnya, kami sering melepas lelah di warung roti bakar di Simpang Lima.
Aku menempelkan tanganku ke beberapa bagian punggungku, benarkah detak jantung manusia bisa didengar dari situ? Amelia, Amelia... ada-ada saja! Kuambil fotonya yang terselip di halaman buku hariannya, kuelus-elus wajahnya di foto berukuran 4 x 6 sentimeter itu dengan jempolku. Kutempelkan foto itu di dadaku sebelah kiri.
"Kaudengar sesuatu, Amelia?" bisikku perlahan.
***

Charles,

Aku sangat sedih. Orangtuaku tidak menyetujui hubungan kita. Kau ingin membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit, di kaki Gunung Ungaran. Betapa manis niatmu itu. Aku tidak mau meninggalkanmu, tapi....  

Catatan itu tak bertanggal, berada di antara dua catatan lain yang bertanggal 13 dan 30 Desember 1999. Aku ingat, saat-saat itu kami agak jarang bertemu karena dua kejadian yang membuatku terpuruk. Pertama, aku berhenti bekerja karena toko tempatku bekerja sepi pengunjung. Kedua, aku harus menjual sepeda motorku karena tak bisa melunasi cicilan.
Namun aku tetap memiliki harapan membangun sebuah rumah kecil di kaki bukit. Harapan itu muncul karena kami sering ke Gombel, wilayah yang tinggi di Semarang. Selain ke warung roti bakar itu, Amelia sangat suka bila kuajak ke Gombel. Kami berangkat ke Gombel pukul lima sore dari Simpang Lima. Sampai di Gombel sekitar setengah enam, matahari akan terbenam. Di sana ada taman yang asri. Dari taman itu kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu di Semarang.
Betapa damai rasanya: dari terang menuju remang, dari remang menuju gelap... Amelia, ia ada di sampingku.
Sekarang, di sini, di rumah kecil di kaki bukit yang akhirnya berhasil kutegakkan, aku membacai catatan-catatan Amelia. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan baru menjadi distributor kain, membeli rumah tipe 40 dengan mencicil di Ungaran. Kupandangi lagi foto Amelia, dan kulihat kerlap-kerlip lampu yang terbentang di depanku.
Andai kau ada di sini, Amelia....
***

Charles,

Betapa aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Di Surabaya semuanya berubah. Suamiku orang terpelajar, hidup kami bisa dibilang mewah. Tapi aku kehilangan saat-saat yang indah seperti dulu.
Sudahlah, aku berniat memulai babak baru. Aku tak akan menulis namamu lagi. Lagipula, sejak dulu buku ini memang kuniatkan sebagai catatanku saja, bukan catatan untuk Charles.
Aduh... Charles, Charles, kenapa namamu selalu saja ingin kusebut?
Ampuni aku, Tuhan, jikalau masih terus berharap kepadanya. Aku tidak akan pernah lupa kepada pria baik hati yang datang kepadaku saat gerimis dan memayungiku dengan mesra.

Itulah catatan terakhir Amelia yang ditulis diawali namaku, bertanggal 22 Februari 2001. Sejak Januari 2000 aku tak pernah bertemu Amelia, ia menikah April 2000. Membayangkannya masih sering memikirkanku selama lebih dari setahun sejak kami berpisah membuatku tersanjung.
Ia menepati janjinya saat aku membuka halaman-halaman belakang buku harian itu. Amelia bercerita tentang suaminya yang sibuk bekerja dan jarang memerhatikannya. Mereka juga tak kunjung mendapat keturunan. Buku harian Amelia makin jarang ditulis sejak 2007. Catatan-catatan terakhir yang ditulisnya adalah tentang penyakitnya—ada empat catatan. Aku merasakan kepedihan mendalam saat membaca kalimat ini: "Aku siap menjemput maut, Tuhan, bila itu takdir-Mu. Mungkin, di sisi-Mu aku lebih bahagia."
***

8 Februari 2010—berita kematian Amelia sampai kepadaku. Ridwan, adiknya, yang mengabariku. Ia menjadi temanku di media sosial, walau kami jarang berinteraksi. Baru saat kakaknya meninggal ia mengirimiku pesan, menanyakan nomor teleponku. "Dia meninggal semalam. Kanker darahnya nggak tertolong, Mas. Besok siang dimakamkan di Bergota," katanya dengan suara serak di telepon.
Aku datang ke pemakaman di tengah kota Semarang itu, memasrahkan Amelia dalam genggaman Tuhan Yesus. Memandangi foto Amelia berukuran besar di situ membuatku rindu sekaligus putus asa. Setelah bertahun-tahun tidak saling bertukar kabar, rasa sayangku kepadanya ternyata tak pernah sirna.
Buku harian Amelia ditemukan Ridwan, lalu diberikannya kepadaku beberapa hari setelah pemakaman. "Dulu dia pernah menunjukkan catatan tentang Mas Charles waktu kalian masih pacaran."
"Lalu, bagaimana buku ini ketemu?"
"Setelah pemakaman aku ke Surabaya mengantar suami kakak. Di Surabaya, iseng-iseng aku ke gudang, kutemukan buku ini."
Aku tidak tahu apakah suaminya pernah mengetahui keberadaan buku itu. Membacanya, aku pun sadar, Amelia memiliki sudut pandang berbeda denganku dalam mengenang berbagai kebersamaan kami. Kenangannya kini menjadi kenanganku.
Malam ini, rasa rinduku begitu besar kepada Amelia. Tahun-tahun berlalu, namun kenangan memayungi gadis yang pandai membuat "kopi paling gembira sedunia" itu tak pernah layu. Gerimis turun dari langit. Aku mengambil bolpoin, menuliskan kata-kataku di halaman terakhir buku harian lusuh itu:
Selamat tinggal, Amelia, kekasih dalam kehidupanku. Kau pergi, tiada lagi kata kembali. Selamat jalan, akan ada banyak sudut kenangan dalam hatiku yang akan kucipta dan kuhampiri untukmu, hanya untukmu, lagi dan lagi...
karena kau akan selalu tinggal di sini.

***
Sidik Nugroho

Semarang, Malang, Pontianak; 2012, 2017; 
dimuat di Majalah Hidup edisi 21 April 2019.
Cerita untuk mengenang masa-masa SMA di Semarang, 1995-1998, 
mulai ditulis tak lama setelah menyaksikan akting Gene Kelly dalam 
film Singin' in the Rain.

Tuesday, July 31, 2018

Membangkitkan Antusiasme Belajar di Keluarga

Sejak keponakan saya, Jovita, berumur dua tahun, saya suka mengajaknya berjalan-jalan. Ia senang sekali bila diajak naik sepeda motor atau berjalan kaki mengelilingi komplek perumahan. Dengan ceria ia menyapa bebek, kucing, ayam, kupu-kupu, burung—segala hewan yang tampak di depannya. Walaupun bahasanya tidak jelas, ia suka bicara. Kadang, di perjalanan kami bertemu kakek tua yang jalannya tertatih-tatih. Bila ia melihat Jovita, senyumnya selalu mengembang, wajahnya spontan berubah ceria.
Bila melihat hewan-hewan di sekitar jalan yang kami lalui, ia suka mengamati mereka dan menirukan cara berbicaranya. “Gimana suara kucing, Jovita?” tanya saya.
“Miaaaw, miaaaw...,” katanya dengan suara yang dikecilkan dan agak tinggi.
“Kalau suara bebek?”
“Naaad, naaad, naaad...,” dengan suara yang agak cempreng.
Setelah menanyakan suara-suara hewan itu, saya pun juga sering bertanya kepadanya, menanyakan suara saya sendiri: “Kalau suara pakde gimana?”
“Alooo... apa kabaw?” katanya dengan cadel dan suara dibesarkan.
Selain berjalan-jalan, keponakan saya suka sekali bila mendengar cerita dari buku Kancil Milenium Baru yang ditulis Witarsa (Penerbit Yrama Widya, 2016). Di buku itu ada beberapa cerita dengan tokoh kancil yang menjalin persahabatan dengan hewan-hewan lain. Cerita yang paling disukai Jovita adalah tentang gajah-gajah yang menyelamatkan kancil yang masuk ke dalam sumur.
Sambil bercerita, kadang saya menambahi, “Gajah itu baik lho, dia mau menolong kancil.”
Dia pun mengelus-elus gambar gajah di buku itu, dan kadang berkata, “Aku mau jadi kawan gajah!”     
Kalau bertemu kucing di tepi jalan, Jovita selalu minta berhenti bila kami sedang naik sepeda motor. Dia akan turun, mengejar kucing itu, dan menggendongnya. Pernah, suatu ketika ada kucing datang ke rumah, Jovita girang bukan main. Kucing berwarna kuning dan putih itu diberinya makanan. Sejak hari itu, beberapa hari sekali kucing itu datang ke rumah; dan kalau Jovita bertemu dengannya selalu saja ia memberinya makanan.
Saya menduga, kisah dan pelajaran yang Jovita dengarkan dari dongeng-dongeng itu tak menguap begitu saja. Yohan Rubiyantoro menyatakan dalam sebuah tulisan di situs web Sahabat Keluarga bahwa lewat kegiatan mendongeng, pendongeng dapat menyampaikan pengetahuan dan wawasan. Selain itu, dongeng juga dapat menggugah rasa ingin tahu anak dan membuka daya nalar mereka. (*)
Seperti kebanyakan anak lainnya, Jovita juga kadang memainkan smartphone. Ia suka memainkan berbagai permainan seperti masak-masakan, membuat kue, bermain piano, dan merias gadis kecil. Namun begitu bertemu dengan saya dan diajak berjalan-jalan, smartphone-nya pun langsung dilupakan. Dia sangat suka mencari kucing di komplek perumahan kami. Sampai hari ini ada dua kucing yang sering datang ke rumah dan kami beri makan.
Jovita sangat senang saya ajak memberi makan kucing-kucing itu. Awalnya ia takut kucing itu menggigitnya kalau dia memberi makan langsung dari tangannya. Tapi setelah terbiasa, ia tak takut lagi. Ia pun belajar satu hal penting, bahwa hewan-hewan dapat disayangi dengan cara diberi makan. Saya pun berkata kepadanya bahwa kebaikannya memberi makan kucing seperti gajah yang menolong kancil dalam dongeng Witarsa.

Antusiasme dan Pelibatan

Beberapa kawan saya menyatakan, anak pada masa kini sangat mudah ketagihan bermain ponsel. Saya menduga, sebabnya tidak ada orang dewasa yang mengajak atau mendampingi mereka melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Dan sebuah aktivitas bisa jadi tampak menyenangkan di mata anak bila orang dewasa tampak antuasias juga ketika melakukannya.
Masalahnya, orang-orang dewasa sering menganggap anak-anak kurang penting. Anak-anak, karena mungkin tidak bisa berpikir seperti orang dewasa, tidak memberikan keuntungan finansial, atau terlalu suka bertanya, akhirnya pun diabaikan. Padahal anak-anak suka bila didengar, bahkan dilibatkan dalam tugas-tugas yang sederhana.
Di mata banyak orangtua, anak-anak pun cenderung dianggap merepotkan. Beberapa orangtua malah tampaknya menganggap kehadiran anaknya sebagai beban. Waktu baru lahir disayang-sayang, tapi saat mulai bersekolah dijewer-jewer.
Dulu saya pernah mengajar di sebuah sekolah di mana para guru dibiasakan untuk menuliskan catatan di buku agenda siswa bila seorang siswa berbuat onar selama di sekolah, selain bila ada pemberitahuan atau tugas-tugas dari sekolah. Tujuannya agar siswa dapat dinasihati lebih lanjut di rumah oleh para orangtua. Suatu ketika, seorang siswa membuat ulah.
Saya pun mengambil agendanya, hendak menuliskan sesuatu. Saat itulah siswa tersebut malah menangis, lalu berkata sambil terisak, “Pak, kalau masalah itu ditulis di agenda, saya akan tambah dimarahi. Bahkan, kadang saya dipukul.” Dia juga menceritakan kalau orangtuanya tidak peduli dengan apa pun alasan ia berbuat nakal. Ia sudah terlanjur dicap nakal—selalu nakal.
Padahal, tak semua anak selalu nakal. Kadang mereka perlu dilibatkan dan diberi tugas-tugas ringan. Mengajak anak memberi makan kucing, mengajarinya mengocok telur sebelum didadar, atau bersama-sama dengannya menyiram tanaman adalah bentuk-bentuk pelibatan yang tampak sederhana, tapi dapat berakibat besar. Dengan kegiatan-kegiatan seperti itu anak akan merasa bahwa kehadirannya berarti.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah Soichiro Honda, pendiri Honda. Kesukaannya mengutak-atik mesin berasal dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian di Dusun Kamyo, Jepang Tengah, tempat kelahirannya. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi, melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di bengkel itu, ayahnya memberi alat untuk mencabut paku kepadanya. Honda dilibatkan, walaupun tugas-tugasnya sederhana. Tapi dari situlah antuasiasme ayahnya dalam dunia permesinan menular kepadanya.

Bukan Pemadam Kebakaran

Menularkan semangat hidup dan nilai-nilai penting dalam kehidupan seorang anak tak selalu mudah. Dalam sebuah ceramah tentang pendidikan, saya mendengar sebuah pernyataan menarik: “Guru bukan seperti pemadam kebakaran.” Hal yang sama juga berlaku untuk para orangtua. Kemudian, pemateri menguraikan bahwa pemadam kebakaran akan datang hanya bila kebakaran terjadi. Tak ada kebakaran, tak ada bunyi sirene mobil mereka yang bising. Tak ada kebakaran, mungkin para pemadam kebakaran santai kerjanya, ongkang-ongkang kaki di kantor.
Seringkali, guru dan orangtua hanya akan berinteraksi dengan anak bila sesuatu yang menyita perhatian—seperti kebakaran—terjadi. Masalah terjadi, hukuman diberikan. Atau, bisa juga dalam hal positif: prestasi dicapai, hadiah diberikan. Ya, rasa-rasanya, hanya sesuatu yang fatal atau fantastis yang terjadi pada diri anak yang menarik minat kita untuk berinteraksi dengannya.  
Itulah cara berhubungan yang keliru. Anak-anak perlu pendampingan bagi setiap proses memanusia. Hukuman atau hadiah tidak cukup bagi seorang anak. Ketika mereka tidak mencapai sesuatu yang fantastis, mereka akan menganggap diri mereka bukan siapa-siapa karena tak menerima hadiah. Ketika mereka lebih sering dihukum karena sering berbuat salah, mereka tidak tahu bagaimana cara melakukan sesuatu yang benar.
Ayah dan ibu yang hebat di mata orang-orang lain bisa jadi kaya atau populer, namun apakah artinya bila tidak penyayang dan mau memberikan waktu serta perhatian bagi anak-anaknya? Kita perlu mendengar dan berbagi bersama dengan mereka dalam waktu-waktu yang kita miliki bagi keluarga. Itulah jalan bagi terciptanya rasa aman dalam diri anak-anak, sekaligus kesempatan untuk membuat mereka bersemangat mempelajari apa saja yang berguna untuk hari depan. (Sidik Nugroho, penulis dan guru)

(*) Yohan Rubiantoro, Dahsyatnya Manfaat Mendongeng untuk Anak, Situs Web Sahabat Keluarga, 19 Mar 2016, bisa di baca di sini.


Tuesday, June 12, 2018

Napas Terakhir


Cerpen Sidik Nugroho


langit adalah kesukaan ibu, anakku
karena warna langit berganti, tak abadi
ibu ingin berbisik kepada langit, putriku
untuk menaungimu, selalu, sampai nanti

SEPERTI biasa, sore itu aku dan anak gadisku berkeliling dengan sepeda unta yang seumuran denganku. Ia selalu senang bila kuajak melintasi jalan-jalan di perumahan yang kami tinggali di pinggir Kota Malang, menghirup udara sore. Selalu saja kami melihat beberapa tetangga yang berleha-leha di depan rumah mereka menanti datangnya malam. Mereka suka tersenyum dan bertegur sapa.
“Pak, sore ini cerah sekali, ya! Nggak seperti kemarin!” katanya riang dari belakangku ketika kubonceng.
“Ya, sangat cerah. Lihatlah, langit di atasmu, bintang-bintang mulai kelihatan!” kataku sambil memandang ke atas, mengamati beberapa awan tipis yang berarak pelan.
Aku merasakan gerakan di belakangku. Kuyakin ia tengah mendongakkan kepalanya. Dinda, putri kecilku, selalu saja menghiburku. Ia suka mengajakku bicara tentang apa saja, termasuk tentang langit. Ia juga suka bernyanyi-nyanyi kecil. Setelah seharian bekerja sebagai tukang bangunan, Dindalah yang menghiburku.
Ketika langit makin gelap, kami mampir ke sebuah warung tenda. Di sana dijual bermacam-macam gorengan, kopi, teh, dan jahe. Dinda suka minum jahe, aku suka minum kopi. Kami berdua menyukai gorengan yang sama: ubi goreng.
Malam itu, Dinda bertanya lagi tentang ibunya. Sebelumnya Dinda hanya tahu kalau ia telah meninggal. Berkali-kali ia menanyakan sebabnya. Aku enggan menceritakannya, lebih menyukai untuk menyimpan semua ingatan tentang istriku di benakku.
Sampai malam itu, aku merasa desahan napas istriku seolah-olah masih dekat, sedekat pakaian yang kukenakan. Tak terhitung sudah berapa kali ia datang di mimpiku. Dari mimpi yang menggambarkan asmara kami di padang berbunga-bunga indah, hingga mimpi tentang perjalanan kami ketika mendaki sebuah gunung—ia terpeleset, hendak masuk jurang, dan aku menyelamatkannya.
Sejak ia tiada, aku suka menyendiri bila tak bersama Dinda atau kalau Dinda sudah tidur. Aku tahu diri, dengan penghidupan yang pas-pasan, lebih baik menahan hasrat menikah lagi.
“Pak, Ibu meninggal gara-gara apa?” tanya Dinda, menyentak lamunanku.
Oh, betapa ingin segera kukisahkan! Tapi aku takut Dinda masih belum bisa paham. Namun, saat kutatap matanya, ia tampak siap mendengarkanku. Ia—rasanya bahkan siap walau kisah ibunya tertutur pilu.
“Hm... makan saja ubi gorengmu, Nak. Habiskan,” kataku mengalihkan perhatiannya.
Ia melahap ubi gorengnya, meminum jahenya. Aku menimbang-nimbang lagi, bercerita atau tidak tentang ibunya. Takut, bila kisahku menyedihkan hatinya. Dan, ada ganjalan lain yang kadang menggangguku: bila aku jujur, yang itu berarti membuka aibku sendiri, apakah ia akan membenciku? Namun ia makin besar, umurnya sudah sepuluh tahun. Mau tak mau memang ia harus tahu apa yang terjadi pada ibunya.
“Pak, ceritakanlah tentang Ibu,” ulangnya setelah menghabiskan jahe.
Aku menghela napas panjang. Kutatap matanya dan kukatakan, “Ya... nanti, setelah kita pulang ke rumah, bapak cerita.”
Dinda mengangguk dan tersenyum. Senyumnya persis ibunya.

“PR-mu sudah selesai, Nak?” tanyaku ketika kami memasuki pekarangan rumah.
“Sudah, Pak. Sekarang tinggal menyiapkan buku-buku untuk besok.”
“Siapkanlah. Setelah itu, buatkan bapak teh hangat, nanti bapak akan cerita.”
“Baik, Pak!” Ia terlihat bersemangat. 
Aku masih ragu, mengisahkannya atau tidak. Beberapa saat kemudian, Dinda menghampiriku di kursi panjang yang ada di teras depan rumah kami, membawa secangkir teh hangat. Ia duduk di sampingku. Sambil menatap angkasa yang kelam, kukenang ibunya.
“Ibumu orang yang tak banyak bicara,” kataku membuka pembicaraan. Dinda menarik napas panjang. “Tapi dia pernah bilang, dulu, kalau sudah punya anak, akan lebih suka dipanggil Bunda, atau Ibunda, sama seperti ia memanggil ibunya.”
“Mm, Ibunda... bagus, Pak!” seru Dinda.
“Ibumu orang yang menyadarkan bapak tentang kasih sayang. Dia... sebuah mukjizat.”
“Mukjizat? Apa itu, Pak?” tanya Dinda keheranan menatapku.
“Mukjizat artinya... sesuatu yang mengherankan, ajaib, tidak terduga, ya... semacam itulah,” jelasku, agak kesulitan menemukan kata-kata yang lebih pas.
Dinda mengangguk-angguk, tapi tatapannya menyiratkan kebingungan.
“Begini, Dinda,” kataku sambil mengatur napas. “Bapak dulu bukan orang baik. Bapakmu ini pencuri alias maling setelah dipecat dari perusahaan bapak. Bapak putus asa, hidup tanpa harapan. Namun, karena ibumu, bapak berubah. Bapak kadang heran dengan perubahan itu.”
Dinda mengangguk-angguk. “Berubah bagaimana, Pak?”
“Saat kamu di kandungan Ibu, bapak tidak punya uang membayar kontrakan rumah. Di tengah desakan itu, bapak hampir ketahuan mencuri sepeda motor. Ketika ibumu mengetahui hal itu, dia...,” aku berhenti sejenak, “melakukan sesuatu yang tidak pernah bapak lupakan.”
Aku menyeruput teh buatan Dinda.
“Sambil menyeka keringat di dahi bapak setelah gagal mencuri, dia membawa sebuah kotak. Dibukanya kotak itu, ditunjukkannya kepada bapak sebuah kalung emas. Ibumu berkata, itulah harta terakhir yang dia miliki. Kalung itu adalah pemberian ibunya, nenekmu, yang disimpannya untuk berjaga-jaga kalau di kelahiranmu nanti dia butuh uang untuk operasi atau lainnya.”
“Lalu?” tanya Dinda.
“Ibumu malah menyuruh bapak menjual kalung itu untuk membayar kontrakan. Dari situlah bapak mulai berubah, Nak.” Leherku agak memanas. Aku seperti tak kuat untuk melanjutkan kisah itu. Lalu kisah itu sedikit kualihkan.
“Ibumu suka mengarang sajak sederhana, Dinda. Banyak yang bapak simpan, tapi ada satu yang selalu bapak bawa ke mana-mana.” Aku mengambil dari dompetku sebuah kertas kecil berwarna oranye yang kulaminating, kuberikan kepada Dinda.
Dinda membacanya sambil mengerutkan dahi. “Aku masih belum paham sajak ini, Pak. Aku cuma bisa menangkap, intinya... Ibu menyukai langit.”
“Simpanlah itu. Suatu saat kau akan bisa lebih memahaminya.”
Dinda mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian matanya ia sipitkan. Ia juga tersenyum tipis sebelum berkata, “Bapak kan juga suka melihat langit! Kita kan suka jalan-jalan kalau sore sampai malam!”
Aku tertawa dan mengelus rambutnya.
Dinda membaca lagi kertas oranye itu, lalu meletakkannya di meja. “Nah, lalu, kenapa Ibu sekarang nggak ada, Pak?” tanyanya.
Oh, tiba juga bagian itu, bagian tersulit untuk dikisahkan!
“Waktu Ibu melahirkan kamu... dia sangat kesakitan. Dia mengeluarkan banyak darah. Waktu lahir badanmu berat, Nak, hampir empat kilogram. Dokter mengatakan Ibu sebaiknya operasi, tapi...,” aku berhenti sesaat.
“Uang... sudah nggak ada, Pak?” tanya Dinda polos, walau matanya tampak memerah.
Aku mengangguk lemas beberapa kali. “Kemudian, empat hari setelah kamu lahir... Ibu pergi, tidak pernah kembali....”
Mata Dinda berkaca-kaca. Aku menepuk pundaknya. “Jangan sedih, Dinda. Itulah kejadian yang sebenarnya,” kataku pelan, menenangkannya.
Malam makin kelam, kami beberapa saat terdiam.
“Oh iya, sajak empat baris itu dibuat ibumu sehari sebelum dia meninggal. Waktu itu ibumu juga kebetulan memang dirawat di rumah sakit yang dari jendelanya tampak matahari terbenam. Ia membuat sajak ini buatmu. Karena itu, simpan baik-baik.”
Dinda menatapku keheranan. Bibirnya terbuka dan matanya terbelalak. Namun matanya menyipit perlahan. Ia tersenyum tipis ketika meraih kertas itu dan membaca sekali lagi sajak empat baris di kertas oranye itu. Dinda memejam beberapa detik, meresapi kisahku.

DUA belas tahun berlalu. Dinda mewarisi segala yang ada pada ibunya—senyumnya, wajahnya, pun caranya berbicara. Ia hampir menyelesaikan kuliahnya. Sejak tiga tahun lalu aku menjadi pemilik sekaligus penjaga warung kelontong kecil yang kubuka di depan rumahku. Bila tak ada kuliah atau kesibukan lain, Dinda membantuku. Dinda telah menemukan belahan hatinya, tahun depan akan menikah.
Hari mulai gelap. Ketika hendak keluar rumah melanjutkan membuka toko, langkahku terhenti. Tampak Dinda sedang memegang kertas sambil duduk di kursi di teras. Oh, kertas oranye itu—sajak itu! Mataku panas ketika melihat kepalanya terangkat, lalu mengembuskan napas begitu panjang.
Dinda menatap langit yang muram. Gerimis baru saja usai. Cakrawala berwarna ungu dan oranye. Bintang-bintang mulai tampak, dan kedinginan makin meninggi di pinggir kota ini. Dinda memasukkan kertas itu ke dalam dompetnya, lalu menantikan malam dan kekasihnya tiba.
Pacar Dinda datang, mereka pergi berkencan. Aku tak jadi membuka toko. Aku berdiam di kamar, membaca beberapa sajak lain yang pernah dibuat istriku. Aku mengenang kayuhan sepeda unta rentaku, kopi dan jahe, ubi goreng, nyanyian-nyanyian kecil Dinda saat ia masih kecil.
Malam kian gelap, kurasa sebentar lagi aku terlelap. (*)

Cerita untuk Ibu, yang berjuang tiga hari tiga malam ketika melahirkanku, 
dimuat di majalah Hidup edisi 3 Juni 2018




Tuesday, April 24, 2018

Cerpen: Aphiemi*)

oleh Sidik Nugroho

TIDAK ada yang lebih indah selain Minggu pagi. Itulah yang Bayu rasakan, setidaknya dua bulan terakhir. Bersama Vita, putri kecilnya yang berumur dua tahun, Bayu selalu menyusuri pematang sawah yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka bila Minggu pagi tiba. Pada hari-hari lain, ia sibuk bekerja.

Pematang itu tingginya sekitar empat puluh sentimeter dari permukaan sawah yang terbentang di kanan dan kirinya, lebarnya sekitar dua puluh sentimeter. Beberapa Minggu terakhir, Vita tak ingin digandeng dari belakang ketika melintasinya. Ia berjalan pelan-pelan sambil merentangkan kedua tangannya, kadang-kadang berjingkat-jingkat.

Bayu selalu berada selangkah di belakangnya, mengawasinya. “Awas... hati-hati jatuh!” kata Bayu, kalau pijakan Vita sudah terlalu ke samping kiri atau kanan.

Setelah berjalan sekitar tiga puluh meter di pematang sawah, mereka akan sampai di sebuah kebun tak berpagar. Di kebun itu ada banyak pohon pepaya dan cabai. Bila sampai di situ, Vita selalu berseru dengan kata-kata yang masih belum begitu jelas, “Alo pepaya, aku atang agi... Alo cabe... apa kabaw?” Di situ Vita sering minta digendong agar ia bisa memegang buah-buah pepaya. 

Setelah menyapa buah-buah di kebun, Bayu dan Vita duduk di batu hitam besar dan datar, melihat ikan-ikan kecil yang ada di parit di samping sawah. Kadang-kadang ada bebek yang berenang di parit itu. Sambil duduk di situ, Bayu selalu mengajarinya mengenal warna. “Vita!” kata Bayu sambil menunjuk sawah, “apa warnanya?”

“Ijau!”

“Kalau ini?” tanya Bayu sambil menepuk batu yang mereka duduki.

“Itam!”

“Kalau itu, di atas sana?” tanya Bayu sambil menunjuk langit.

“Biyu!”

Setelah belajar warna, mereka pun kembali ke rumah. Sebelum pulang, biasanya Vita menyapa semua yang ia lihat, berpamitan. Vita sangat gembira bila melihat kupu-kupu. “Dadah bebek, aku puyang duyu!” Di mata Vita, kupu-kupu, burung, bebek, cabai, pepaya, atau sawah akan mendengarkannya, memberi izin kepadanya, atau menantikan kembali kedatangannya—semuanya ia pamiti.

***

PAGI itu, setelah Bayu dan Vita menyusuri pematang sawah, Nindy, istri Bayu, mengeluh, “Mas, hari ini aku nggak ikut ke gereja. Kepalaku pusing dari tadi subuh.”

“Oh, ya udah kalau gitu. Aku sama Vita aja ke gereja. Sekarang,” kata Bayu sambil melihat jam dinding, “aku mandi dulu. Masih setengah jam lagi. Masih cukup.”

“Nanti kalau dia rewel gimana?” tanya Nindy.

“Biasanya dia bobok kalau jam sepuluh, kan? Paling juga nanti di sana dia bobok.”

Setelah Bayu mandi, dan Vita dimandikan Nindy, mereka berdua pun siap ke gereja. Ibadah akan dimulai jam sembilan. “Vita, mama nggak ikut ke gereja,” kata Nindy. “Mama di rumah aja. Vita nanti nggak boleh ribut, ya? Kalau ngantuk, bobok.”

Vita mengangguk, tersenyum lebar. Tapi Bayu tidak yakin sepenuhnya, Vita memahami pesan ibunya. Dia hanya berharap, gadis itu tidak rewel kalau mulai mengantuk. “Moga-moga suara musik di gereja menenangkannya,” kata Bayu saat meninggalkan Nindy.

***

SETENGAH jam berlalu di gereja, Vita mengikuti ibadah dengan khidmat. Ia sering bertanya kalau mendengarkan suara musik, “Apa itu, Pa?”, atau “Papa nyanyi apa?”. Bayu berkali-kali menempelkan telunjuk di bibir sambil mendesis, “Ssst...,” agar putrinya tenang. Kalau Bayu duduk, ia duduk di samping Bayu; kalau Bayu berdiri, ia berdiri di kursi panjang dari papan.

Saat pastor menyampaikan khotbah, mata Vita mulai sayu. Bayu mengeluarkan botol susu yang Nindy bawakan dari tas kecil, lalu menggendong gadis kecil itu. “Mimik, ya? Habis itu bobok,” bisik Bayu sambil memasukkan ujung botol susu ke mulut Vita.

Mulut Vita bergerak-gerak, matanya makin lama makin sipit.

“Pengampunan adalah bagian dari iman. Tak mungkin orang bisa mengampuni bila ia tak beriman kepada Tuhan—Tuhan tak kelihatan, pengampunan sulit dinalar. Adakah dendam di hatimu? Ampuni. Adakah kepahitan dalam jiwamu? Lepaskan.”

Mata Vita terpejam seiring kata-kata pastor itu. Hingga khotbah berakhir, Vita masih terlelap. Dan tak lama setelah khotbah selesai...

“BYAR!!! PRANG!!! DUARRR!!!”

Beberapa bom molotov dilemparkan ke dalam gereja dari luar. Kaca jendela pecah, kursi terbakar, orang-orang berteriak-teriak di segala penjuru. Ada sebuah bom yang menghantam dinding gereja dekat Bayu duduk di kursi belakang. Pecahan botol bom dan api yang menjalar dari bensin di dalamnya mengenai punggung dan kaki Vita yang sedang terlelap dalam dekapan Bayu.

Vita pun terbangun, menangis sejadi-jadinya. Baju bergambar Hello Kitty yang Vita kenakan terbakar di bagian punggungnya, dan kakinya melepuh.

***

VITA dirawat tiga hari di rumah sakit. Selain Vita, ada tiga anak dan dua orang dewasa yang menjadi korban serangan tak terduga pagi itu. Hingga Vita keluar dari rumah sakit, kabar seputar motif pelaku pengeboman masih simpang siur. Saat pastor yang berkhotbah Minggu itu mendatangi Bayu, Nindy, dan Vita pada hari kedua Vita dirawat di rumah sakit, ia tersenyum lebar. “Adik manis akan segera sembuh. Siapa namamu?”

“Vita, Pastor.” Nindy yang menjawab.

“Vita...,” katanya sambil memejam sejenak. “Hidup, kehidupan. Semoga jiwamu terus hidup tanpa dendam, Nak.” Sebelum berlalu ia menyentuh dahi Vita dengan jempolnya, lalu membuat tanda salib.

“Kenapa dia, Pa?” tanya Vita, setelah pastor itu berlalu, lalu memegangi dahinya.

Bayu tak menjawab, memandangi Nindy dan Vita bergantian.

***

“ALO cabe... apa kabaw?” kata Vita begitu sampai di kebun di seberang sawah itu. Ia sampai di sana digendong Bayu. Perban menutupi punggung dan kakinya, ia masih tertatih-tatih kalau berjalan. Pelaku pengeboman masih terus diselidiki, ada dugaan melakukannya karena salah menafsirkan ajaran agama. Sambil memandang Vita, Bayu merenung, anak-anak tak membutuhkan agama untuk bergembira, mereka memerlukan imajinasi. Apakah orang dewasa hanya membutuhkan agama untuk bergembira, sehingga mereka lupa berimajinasi?

Di batu hitam tempat duduk langganan mereka, Bayu menunjuk makhluk hidup yang terbang ke arah mereka, lalu berseru, “Vita, ada kupu-kupu!”

“Alo kupu-kupuuu!” Vita berseru, matanya berbinar-binar.

Mata Vita terus mengamati kupu-kupu itu sampai lenyap dari pandangannya. Dari pematang sawah, dua manusia itu pun pulang ke rumah. (*)   
           
Cerita untuk Intan Olivia Marbun, dimuat di Majalah Hidup, 8 April 2018.

Catatan:
*) Aphiemi: kata dalam bahasa Yunani yang di dalam Alkitab yang diterjemahkan sebagai "mengampuni"; kata ini juga berarti "membiarkan pergi", "melepaskan", "meninggalkan", atau "menghapuskan".

Tuesday, January 9, 2018

Sensor Mandiri, Kekerasan Remaja, dan Pendampingan Orangtua

TAHUN lalu, kasus-kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja sungguh memprihatinkan. Kita mungkin masing ingat, pada 31 Maret, Krisna Wahyu Nurachmad (15 tahun), siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, ditemukan tewas di barak sekolahnya. Mundur ke belakang: Ahmad Andika Baskara (19 tahun), siswa jurusan Teknik Mesin kelas IX SMK Bunda Kandung tewas dalam tawuran di flyover Pasar Rebo, Jakarta, pada 14 Februari. Kemudian, pada 11 Maret, Edi Gilang Febriyanto (17 tahun) dari SMK Abdi Karya juga tewas pada tawuran di Pondok Gede, Bekasi.

Menjelang akhir September 2017, kekerasan remaja juga kembali menyita perhatian publik. Hilarius Christian Event Raharjo, siswa SMA Budi Mulia Bogor korban ‘Gladiator’ (duel satu lawan satu) yang meninggal 29 Januari 2016 lalu, makamnya dibongkar dan jenazahnya diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya secara pasti. Pembongkaran makam dan autopsi dilakukan setelah ibu korban, Maria Agnes, menulis di media sosial tentang ketidakadilan yang ia rasakan.

Belum lagi kasus grup Facebook yang beberapa anggotanya adalah pengidap pedofilia yang mencari mangsa di grup tersebut. Juga, yang tak kalah memprihatinkan, beberapa kali beredar video di Internet, beberapa remaja—bahkan ada juga yang masih anak SD—yang memukuli temannya beramai-ramai. Yang dipukuli tak melawan walaupun menjadi sasaran kekerasan. Berbagai kasus kekerasan remaja itu pun mengundang tanya, apakah film atau tayangan di televisi turut mengambil peran? 

Sensor dan Rating

DALAM Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (LSF) disebutkan bahwa sensor film merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film dan iklan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum. Hal-hal yang disensor dalam sebuah film diatur dalam Pasal 29 yang membahas Pedoman Penyensoran dan dijabarkan lebih jelas di Pasal 30 tentang Kriteria Penyensoran.

Kata “penelitian” menjadi menarik dalam definisi itu. Sebuah film yang lulus sensor ternyata diteliti dulu. Setelah dinyatakan lulus sensor, film itu pun diberi rating atau penggolongan usia penonton, seperti yang disebutkan di Pasal 32. Ada empat golongan usia atau umur yang ditentukan, yaitu: film untuk penonton semua umur, berumur 13 tahun atau lebih, berumur 17 tahun atau lebih, dan berumur 21 tahun atau lebih. Pasal 33 hingga 37 menyebutkan berbagai syarat dan tolok ukur agar suatu film layak ditonton oleh golongan usia tertentu seperti yang diterakan di Pasal 32.

Bila dicermati, pasal dan ayat-ayat di atas—yang bisa dikatakan menjadi rambu-rambu bagi penyensoran dan rating—memuat agak banyak kata “tidak”, terutama di Pasal 33 yang mengatur film untuk ditonton semua umur dan Pasal 34 yang mengatur film untuk penonton berumur 13 tahun atau lebih. Beberapa di antaranya: “tidak mempertontonkan adegan kekerasan” dalam Pasal 33 huruf (d), “tidak mengandung adegan visual horor dan sadis” dalam Pasal 33 huruf (h), atau “tidak menampilkan adegan yang peka ditiru oleh usia peralihan dari anak-anak ke remaja” dalam Pasal 34 huruf (c). 

Kalimat yang diawali dengan kata-kata “tidak mempertontonkan”, “tidak mengandung”, atau “tidak menampilkan” dapat menjadi indikasi, bahwa peraturan tersebut dibuat untuk melindungi anak dan remaja selaku penonton. Ini tentunya disadari oleh keyakinan dan pengetahuan bersama, bahwa anak dan remaja adalah golongan usia yang rentan meniru apa yang ia tonton, entah itu baik atau buruk. 

Kekerasan Remaja

TIDAK mudah menyimpulkan dan memastikan, bahwa kekerasan yang dilakukan dan terjadi di kalangan remaja juga dipengaruhi film yang ditonton. Perlu ada kajian atau survei lebih mendalam tentang hal itu. Dan di Indonesia, selain film, tayangan yang mendapat tempat di masyarakat adalah sinetron. 

Dalam perkembangannya, sinetron beberapa kali mendapat rapor merah. Pada 2013-2014, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat pernyataan tentang sepuluh judul sinetron yang tidak layak tonton karena dianggap tidak mendidik, serta berpotensi memberikan pengaruh perilaku kekerasan terhadap anak. 

Komisioner KPI sebelum menyampaikan pernyataan itu menerima pengaduan cukup banyak, dari sekitar 1600 orang. Tidak sedikit orang yang jadi pesimistis dan waswas terhadap sinetron. Kita mungkin akrab dengan meme yang beredar luas, berisi gambar guru dan artis sinetron; di meme itu tertulis bahwa guru dibayar murah membentuk moral anak bangsa, sementara artis sinetron dibayar mahal merusaknya.

Walaupun demikian, ada suara lain yang menganggap bahwa sinetron berperan penting dalam industri film bila menengoknya secara historis. Totot Indrarto dalam catatan pembukaan di buku Katalog Film Indonesia 2008-2015 yang diterbitkan Pusat Pengembangan Perfilman, Kemdikbud, menyatakan, “Kita boleh saja mencaci sinetron, tapi dari situlah sesungguhnya tumbuh etos kerja dan embrio industri dalam memproduksi film.” Ia juga membandingkan pertumbuhan itu dengan Srimulat, kelompok komedi yang bertahan selama puluhan tahun dan tidak pernah kehabisan kreativitas karena dipaksa memproduksi lawakan. 

Pendampingan Orangtua 


INDUSTRI film yang bertumbuh pesat pun melahirkan tantangan baru. Kreativitas dan ekspresi yang hendak diwujudkan para sineas tentu juga makin beragam, selain perlu diawasi. Pemerintah—dalam hal ini LSF—telah menetapkan rumusan kerja penyensoran seperti yang tadi dibahas dalam peraturan di muka. Tantangan itu pun mendatangi pihak lain, yaitu orangtua, untuk melakukan sensor mandiri.

Walaupun LSF sudah menyensor dan merilis rating tiap film yang beredar, anak dan remaja tak serta-merta suka atau selalu mau menonton film yang sesuai golongan usia mereka. Rating pun bisa menjadi sangat lentur ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa anak dan remaja zaman sekarang akrab dengan gawai yang menjadi medium penyalur beragam jenis tontonan. Jadi, jelaslah di sini, orangtua memainkan peran terpenting dalam soal seleksi dan konsumsi film bagi keluarga. 

Berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan remaja yang dipaparkan di awal dapat dicegah dari dalam keluarga. Untuk menghindarkan anak dan remaja menonton tayangan yang bukan untuk mereka, kepedulian orangtua tak bisa ditawar. Salah satu bentuk kepedulian itu adalah dengan mendampingi anak menonton. 

Orangtua yang memilihkan film dan tontonan yang menginspirasi dan bermanfaat untuk anak-anaknya akan membuat mereka jadi lebih menghargai kehidupan. Orangtua pun, misalnya, perlu memahami jenis-jenis rating, sesekali mendiskusikan film yang ditonton bersama anak, atau mencaritahu apa yang diserap dan dipahami anak dari sebuah film. 

Bila orangtua mau berkomunikasi dengan anak tentang film yang patut baginya, anak bisa memiliki pemahaman tentang moral dan pergaulan sosial. Dan yang tak kalah menarik adalah perbincangan yang lebih luas tentang film itu sendiri. Film menawarkan refleksi dan hiburan; dunia film adalah dunia imajinasi, penciptaan, dan pengetahuan. Membincang film dengan anak—bahkan dengan siapa pun—berarti membincang gagasan-gagasan tentang kreativitas dan imajinasi dalam kehidupan manusia. 


Tuesday, October 10, 2017

Teror dan Ketakutan dari Sejarah Kelam

Ibu (Ayu Laksmi), mantan penyanyi, meninggal setelah bertarung cukup lama dengan penyakitnya. Saat sekarat, wajahnya begitu pucat, sudah seperti mayat. Sebelum meninggal ia dirawat, membunyikan lonceng kecil bila perlu bantuan. Di awal film, di tujuh menit pertama, ketakutan sudah disuguhkan. Ibu yang berwajah seperti mayat menatap langit-langit dengan tatapan aneh. Ia bahkan meninggal sambil membuka mata dan mulut.

Namun, hingga Ibu dimakamkan, Rini si anak tertua yang ganti menjadi ‘Ibu’ untuk adik-adiknya awalnya tampak tak menduga, keluarganya bakal mengalami kunjungan makhluk halus yang mirip arwah Ibu. Ketika bertemu dengan ustadz di kampungnya, Ayah (Bront Palarae) juga mengatakan bahwa mereka tak pernah menunaikan salat. Setelah Ibu meninggal dan dimakamkan, hal-hal ganjil mulai mendatangi Rini (Tara Basro) dan adik-adiknya, yaitu Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat).

Rini mulai merasakan ada yang tak beres ketika neneknya jatuh ke dalam sumur dan meninggal. Rini mengantarkan surat yang ditulis neneknya untuk seorang kawannya yang menjadi penulis di majalah Maya. Dari kawan Nenek itu ia tahu, ada misteri yang tertimbun di keluarganya. Pria tua yang menulis di majalah Maya itu—mirip majalah Misteri—mengatakan bahwa ibunya dulu menjadi anggota sekte pengabdi setan.

Sampai di situ, penonton pun digiring memahami sejarah kelam keluarga Rini, diselingi berbagai penampakan dan teror yang mengejutkan di dalam dan sekitar rumah. Penampakan dan teror yang ada di film ini kebanyakan mirip dengan film-film bergenre serupa. Bayangan setan di cermin, kemunculan hantu dari sumur, kursi atau kursi roda yang bergerak sendiri, juga ruangan yang remang atau gelap sebelum hantu muncul adalah beberapa hal—atau katakanlah pola—yang sering muncul dalam film-film horor. Dan, pola itu makin komplit dengan latar rumah yang berada di desa, jauh dari keramaian—bahkan di dekat kuburan!

Film Pengabdi Setan yang digarap Joko Anwar ini merupakan remake dari film berjudul sama yang dirilis tahun 1980. Film ini tetap mengambil latar suasana kehidupan tahun 1980-an. Latar rumah, properti, juga kostum yang dikenakan pemain juga identik dengan yang digunakan masyarakat pada masa itu. Bagi penonton yang mengalami masa kecil dan remaja pada 1980-an, film ini juga menawarkan nostalgia yang menyenangkan, yaitu mendengarkan sandiwara radio. Di film, ada beberapa adegan ketika Tony (Endy Arfian) mendengarkan sandiwara radio pada malam hari. Radio itu menjadi biang ketakutan: menyala sendiri, berganti saluran sendiri, atau mengeluarkan suara Ibu yang sudah tiada.

Para aktor dan aktris bermain sangat luwes, dialog-dialognya pun efektif. Pengungkapan sejarah kelam keluarga—tentang Ibu yang menjadi pengabdi setan—disampaikan perlahan. Dialog di antara para pemain dalam keluarga Rini juga diselingi banyak humor di sana-sini—hal yang agak kurang lazim dalam film horor sebenarnya, namun jadi selingan yang menghibur karena waktunya pas, yaitu pada saat-saat keluarga saling bercengkerama.

Selain Tara Basro yang menjadi Rini, akting M. Adhiyat yang menjadi Ian pun mencuri perhatian. Ian sulit bicara, berwajah lucu karena sering tersenyum, dan sering berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Bahasa isyarat yang dilakukan tiap anggota keluarga kepada Ian awalnya juga menjadi biang kelucuan, lewatnya anggota-anggota keluarga kadang bercanda dengan Ian. (Supaya penonton paham, kata-kata yang dimaksudkan bahasa isyarat disajikan dalam bentuk teks.)

Namun, pada suatu malam, saat salah satu anggota keluarga mengalami semacam kerasukan setan, ia berkata kepada Ian dengan bahasa isyarat: “Aku ingin kamu mati.” Yang awalnya lucu jadi berubah menegakkan bulu kuduk! Adegan menyuguhkan teror lewat bahasa isyarat itu bagi saya sungguh sebuah ide brilian, kejutan tak terduga.

Film ini juga menyuguhkan, katakanlah, pandangan baru, bahwa ustadz juga bisa diserang setan dan mengalami nasib yang malang. Hal ini yang tampaknya jarang ditampilkan di film-film horor Indonesia lama, di mana ustadz selalu tampil sebagai sosok ‘sakti’ yang mengalahkan kekuatan setan. Kemalangan yang menimpa ustadz dalam film mengingatkan saya pada sosok pastur yang malang dalam film Exorcist (1973).

Di tangan Joko Anwar, Pengabdi Setan menjadi sebuah hiburan menegangkan yang tergarap optimal. Pemilihan pendukung nuansa film—selain properti dan kostum—seperti lagu dan musik latar pun dilakukan secara cermat. Dan yang menyenangkan, Pengabdi Setan tak terlalu banyak memberi ceramah untuk berubah menjadi pengabdi Tuhan yang saleh nan setia. Pengabdi Setan adalah kisah manusia-manusia yang malang, yang nyaris tak tahu arah untuk berdamai dengan masa lalu yang kelam—masa lalu yang tak pernah mereka hidupi dan kenali. (*)

Judul: Pengabdi Setan
Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Pemain: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Ayu Laksmi
Rilis: 28 September 2017

Sidik Nugroho, penikmat film, situsnya di sidiknugroho.com